Tentang Saya

Nama saya Dra. Mazdalifah, MSi.

Saya bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara, sejak tahun 1989.
Saya lahir di kota Madiun ( Jawa Timur ) dengan zodiak Cancer tepatnya di tanggal 3 Juli 1965. Saat ini saya sedang menempuh S3 di School of Communication, University Sains Malaysia  Penang.
Bersuamikan pemuda Simalungun Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia dan General Koordinator La Via Campesina yang artinya Jalan Petani , (NGO yang bergerak dalam bidang kesejahteraan petani Gurem di 40 negara Dunia ) merupakan kebanggaan besar bagi saya.
Dan Anak-anak tercinta saya, Izzah Dienillah Saragih dan Mujahid Widian Saragih yang saat ini telah beranjak dewasa dan kuliah.

A. PENGEMBANGAN KUALITAS PEMBELAJARAN

Sebagai dosen di Departemen Ilmu Komunikasi, saya selalu mengusahakan agar proses belajar mengajar berlangsung dengan menarik dan tidak membosankan. Dalam proses ini saya berusaha agar mahasiswa terlibat aktif, bukan sebagai obyek semata. Karena saya melihat ada kecenderungan mahasiswa datang, duduk, diam dan selanjutnya pulang. Agar tujuan tersebut tercapai, maka sebagai dosen saya harus aktif terlebih dahulu. Caranya dengan mencari dan menggabungkan teknik mengajar, tidak melulu model ceramah saja, melainkan memadukan bentuk kreatif seperti menonton film, observasi di lapangan, melakukan wawancara dengan responden, bercerita di depan kelas, dan lain sebagainya.

Dalam menyajikan materi ajar, saya menggunakan alat bantu LCD, sehingga saya dapat menyajikan film dan iklan yang menarik. Pemutaran film biasanya amat disukai mahasiwa, karena media film bersifat menghibur sekaligus menambah pengetahuan. Film yang ditonton berhubungan dengan mata kuliah yang saya asuh. Film Mad City menggambarkan betapa pendapat masyarakat dan polling amat berpengaruh. Saya mengasuh mata kuliah Pendapat Umum, dimana target akhir dari mata kuliah ini mahasiswa dapat melakukan polling di tengah masyarakat dengan benar sesuai dengan prosedur ilmiah.

Saya membimbing mereka untuk melakukan polling dengan benar. Bahwa ada metode statistik yang tepat, penyusunan kuesioner yang baik, metode sampling yang sesuai, merupakan sederet syarat polling ilmiah. Mahasiswa harus tahu dan mampu melakukannya. Pada saat praktek polling, mahasiswa akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada masyarakat, kemudian jawaban diolah, dan akhirnya disajikan dan dipresentasikan di depan kelas.

Saat presentasi mereka menyampaikan kesan-kesannya, sebagian besar mahasiswa merasa amat terkesan dengan tugas ini karena tugas ini sangat menantang, bahkan ada satu mahasiswa saya ditangkap preman, gara-gara melakukan polling tentang keberadaan warung remang-remang. Bagi mereka tantangan tersebut memacu adrenalin, yang tidak ditemui pada mata kuliah yang lain. Tugas polling juga mengasah kemampuan mereka mewawancarai responden, menyusun kuesioner dengan baik, mengolah data dan mempresentasikannya di depan kelas. Bahkan ada satu kelompok yang mendokumentasikan kegiatan polling dalam bentuk film pendek. Suatu bentuk kreatifitas yang patut diacungi jempol.

Pada mata kuliah saya yang lain yaitu Teori Komunikasi, mahasiswa diminta melakukan observasi terhadap teori yang telah dipelajari. Saya berusaha mendobrak bahwa belajar teori Difusi Inovasi, akan dilihat implementasinya di tengah masyarakat, pada program pembangunan bidang ekonomi, kesehatan, pertanian dan sebagainya. Penggabungan beberapa metode ini ternyata mampu membuat mahasiwa bergairah untuk mengikuti perkuliahan, dan tidak jarang banyak yang memberi pertanyaan. Apalagi saya menyatakan ada penambahan nilai bagi mahasiwa yang memberi pertanyaan. Hal ini membuat mahasiwa bersemangat, bahkan kadang-kadang muncul pertanyaan lucu yang tidak sesuai dengan materi ajar. Tetapi saya senang, yang penting bagi saya mereka telah berani bersuara, memecahkan kebisuan yang selama ini sangat dominan.

Tidak hanya dikelas, setelah pelajaran usai pun, mereka tidak sungkan bertanya ini itu tentang materi yang baru saja kami bahas. Hal semacam inilah yang membuat hati saya puas dan bahagia, melihat mereka berani mengungkapkan gagasan, berdebat, bahkan kadang-kadang memberikan kritikan. Tidak jarang diluar waktu mengajar, saya masih meladeni pertanyaan ataupun berdiskusi dengan mereka. Pada situasi semacam ini, proses two way communication berjalan efektif. Saya melihat mereka senang mendapat perhatian dan didengar pendapatnya. Bentuk-bentuk kegiatan semacam ini yang menjadi modal bagi saya untuk melakukan pendekatan dan memotivasi mereka agar mendalami ilmu dengan lebih baik.

B. PENGEMBANGAN KEILMUAN/KEAHLIAN POKOK

Salah satu pengembangan keilmuan yang saya amat sukai tiga tahun belakangan ini adalah menulis karya ilmiah di beberapa jurnal, majalah kajian, surat kabar dan buku. Ketertarikan menulis ini, seiring dengan dimulainya studi S3 dengan topik pengetahuan dan keterampilan media literacy keluarga di kota Medan. Kondisi ini mengharuskan saya membaca banyak literature berupa buku maupun jurnal-jurnal internasional.

Saya tertarik untuk membahas relasi antara anak, media, dan keluarga dalam konteks membangun masyarakat Indonesia yang cerdas dan sadar media. Media yang dimaksud adalah media televisi. Ketertarikan ini telah mampu mengispirasikan dan menghasilkan berbagai tulisan yang bersumber dari topic tersebut.

Beberapa tulisan saya dalam jurnal dengan judul Hubungan Kekerasan di Televisi dengan Perilaku Anak (Jurnal Perspektif, Desember 2008), Televisi dan Sosialisasi Nilai pada Anak (Jurnal Harmoni, Mei 2009), Pendidikan Media Literacy Keluarga ( Upaya untuk mengatasi dampak buruk media televisi pada anak) Jurnal Keskap Oktober 2008. Selai itu, tulisan saya turut mewarnai dalam majalah Kajian Komunikasi Massa yang dikelola oleh Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yaitu Dictum, berjudul : Mengapa perlu Media Literacy (2007), Membincangkan (kembali) Televisi (2008).

Produktivitas saya dalam menghasilkan karya ilmiah semakin diperkaya dengan munculnya beberapa tulisan di kota Medan, Pendidikan Media Literacy Keluarga (Waspada, 17 Mei 2008), Televisi Peduli Anak (Sebuah Agenda Mendesak) Waspada, 25 Agustus 2008, Belajar Kekerasan dari Televisi (Global, 30 Mei 2007).

Ketertarikan kepada anak, media, dan keluarga adalah obsesi saya untuk menjadikan keluarga sebagai basis pemberdayaan anak. Seperti diketahui, televisi adalah media yang amat popular dan banyak peminatnya. Salah satu peminatnya adalah anak-anak. Televisi tanpa disadari menghantarkan seperangkat nilai baik dan buruk. Sayangnya belakangan nilai buruk lebih banyak mendominasi, oleh sebab itu keluarga harus berperan aktif agar anaknya terhindar dari dampak buruk televisi.

Dalam konteks pembangunan nasional, anak adalah asset penting, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Impian saya selanjutnya adalah menghasilkan buku tentang anak dan televisi dalam konteks pembangunan. Dalam waktu dekat akan diterbitkan oleh pihak fakultas kumpulan tulisan saya bersama sejawat yang lain tentang komunikasi. Sementara itu, secara pribadi saya telah mengumpulkan beberapa tulisan. Insya Allah, dalam satu tahun kedepan buku saya tersebut sudah dapat diterbitkan.

C. PENINGKATAN KUALITAS MANAJEMEN/PENGELOLAAN INSTITUSI

Sebagai Ketua Laboratorium Ilmu Komunikasi FISIP USU sejak tahun 2006, saya terlibat beberapa kegiatan dan kebijakan institusi. Secara rutin, Lab. Komunikasi menyelenggarakan kegiatan praktek komunikasi bagi seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU, baik regular maupun ekstension. Praktek komunikasi diselenggarakan dengan tujuan agar mahasiswa Ilmu Komunikasi dapat menggunakan berbagai alat seperti kamera foto, kamera film, dan radio. Tujuan akhirnya mereka dapat pula menghasilkan dan mempraktekkan foto yang baik, film yang menarik, serta siaran radio yang mampu memikat pendengarnya.

Saya terlibat penuh dalam membuat modul pelatihan, merancang bentuk pelatihan, dan mencari narasumber yang kompeten di bidangnya. Saya mencari dan menghubungi alumni Ilmu Komunikasi yang telah bekerja dan sukses dalam bidang-bidang tersebut diatas, untuk menyumbangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya. Alhamdulillah, mereka pada umumnya bersedia, bahkan dengan senang hati menerima tawaran yang saya ajukan, karena dapat menyumbangkan sesuatu bagi almamaternya. Berkat networking dan kerjasama yang baik, meski awalnya sulit namun kini kegiatan praktek komunikasi dapat berjalan dengan lancar dan memuaskan.

Buat saya, hal yang paling menggembirakan adalah saat kegiatan praktek komunikasi ini telah dikelola secara mandiri oleh Lab. Komunikasi. Karena pada awalnya kegiatan praktek ini dilakukan oleh lembaga UPT Audio Visual USU. Namun mahasiswa mengeluh kurang mendapat manfaat yang besar, akhirnya sejak 2006 kami memberanikan diri lepas dari UPT tersebut, dan kini telah mandiri mengelolanya. Dimulai dengan peralatan sederhana dan jumlah terbatas, pelan tetapi pasti kini Lab. Komunikasi telah memiliki peralatan yang cukup memadai, yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa. Mahasiswa mengungkapkan kegembiraannya menjalani praktek, komentar mereka tercermin dari kolom friendster yang mereka tulis. Mereka gembira karena dapat menggunakan alat dan menghasilkan karya.

D. PENINGKATAN KUALITAS KEGIATAN MAHASISWA

Dari sejak awal mengajar pada tahun 1989, mahasiswa sebagai khalayak sasaran dan pendengar menjadi perhatian utama. Saya berusaha membangun komunikasi yang hangat, baik didalam dan diluar kelas, bertanya tentang berbagai aktifitas yang mereka jalani, menantang mereka untuk melakukan sesuatu yang monumental dan membanggakan. Pola hubungan semacam ini membuat mahasiswa tidak segan untuk bertanya tentang sesuatu, khususnya saat menemui kendala. Misalnya : saat Ikatan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (IMAJINASI) membuat Talk Show tentang Public Relations dan Jurnalistik.

Talk Show ini ditujukan kepada mahasiswa baru, agar mereka memperoleh informasi yang benar tentang kedua bidang tersebut. Saya membantu mereka merumuskan apa yang hendak dicapai. Mereka meminta kesediaan saya menjadi narasumber. Selama tiga tahun, posisi sebagai narasumber saya jalani, pada tahun keempat saya mengusulkan kepada mereka untuk mencari narasumber atau dosen lain. Hal ini saya lakukan agar dosen lain juga mendapat kesempatan dan pengalaman yang sama dengan saya.

Dalam hal membimbing skripsi mahasiswa, saya memberikan ruang luas untuk berdiskusi panjang lebar, kadangkala mereka meminjam buku saya untuk menambah literature, dan tak jarang pula buku itu tidak kembali. Hal unik lainnya saya terkadang menjadi “hidden pembimbing” alias pembimbing tersembunyi, karena banyak dari mereka mengalami kebingungan untuk mengangkat masalah apa dalam skripsinya. Biasanya kami berdiskusi, saya mencoba memetakan apa yang mereka pikirkan. Lewat perbincangan dan diskusi seperti ini, akhirnya mereka menemukan masalah apa yang akan diteliti. Peristiwa semacam ini sering sekali terjadi, walaupun sebenarnya saya bukan pembimbing mereka.

Dalam kesempatan lain, beberapa mahasiswa yang berminat di bidang audiovisual berhasil membuat film pendek. Mereka meminta saya untuk memberikan komentar atas karya tersebut. Kapasitas saya sebagai ketua Lab. Komunikasi dianggap cukup kompeten untuk menilai apakah film mereka bagus atau tidak. Diskusi kami berlangsung di kampus dan di rumah saya. Moment semacam ini saya manfaatkan untuk saling sharing dan memotivasi mereka untuk selalu menghasilkan karya yang lebih baik di masa yang akan datang.

E. PENINGKATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

Sejak duduk di bangku perkuliahan semester 6, saya sudah terlibat dalam kegiatan LSM yang bergerak di bidang anak dan pendidikan. Selama lebih kurang 4 tahun, saya terlibat aktif mengajar pada taman bermain gratis di DAS Sungai Deli yang kami bangun. Saya juga menanggung jawabi satu likasi dampingan anak-anak pemulung. Setelah berhasil menyelesaikan S2, saya dengan dua orang teman sejawat, mendirikan sebuah Yayasan yang bergerak dalam bidang perempuan perkotaan di Medan.

Yayasan ini bertujuan untuk memberdayakan ekonomi kaum ibu yang bekerja di sektor informal yaitu sebagai penjual jamu. Saya dan teman-teman mendirikan Yayasan ini pada tahun 2000 dengan nama Yayasan untuk Perempuan Perkotaan Medan (YP2M). saat ini saya menduduki jabatan sebagai ketua.

Kegiatan utama dari lembaga kami adalah memberikan dana bergulir berupa bantuan modal usaha, yang mereka kembalikan dalam waktu satu tahun. Para ibu penjual jamu menyambut kehadiran kami dengan baik. Bahkan mereka meminta untuk diberi materi lain dalam setiap pertemuan yang kami lakukan, seperti : materi agama, pendidikan anak, pengelolaan uang bahkan politik.

Melalui LSM ini, saya mengajak beberapa mahasiwa untuk menjadi sukarelawan menjadi tenaga pendamping lapangan. Secara rutin setiap bulan kami bertemu dengan para ibu, di lima lokasi dampingan yang berjumlah 70 orang. Banyak persoalan yang muncul, dan Alhamdulillah setelah 10 tahun kelima lokasi dampingan kami telah berkembang menjadi kelompok yang mandiri. Biasanya saya akan berkeliling sesuai dengan tingkat “kegawatan masalah”. Pendamping lapangan akan segera menginformasikan kalau ada masalah yang muncul di lokasi-lokasi tersebut. Untuk permasalahan yang sangat gawat, saya akan turun langsung bertemu dan berdialog dengan para ibu. Terkadang saya mengisi beberapa materi yang berhubungan dengan pendidikan anak, dan pemberdayaan perempuan.

F. KARAKTER PRIBADI DALAM BERBAGAI SITUASI DAN KONDISI

Di kalangan teman-teman sejawat, saya dikenal sebagai orang yang tidak bisa berkompromi dan cenderung kaku, apabila menyangkut hal yang tidak sesuai dengan nurani dan nilai kebenaran. Kekerasan dan kekakuan ini telah banyak mematahkan hati teman-teman saya sendiri, khususnya saat mereka memerlukan dukungan saya untuk menduduki jabatan tertentu (seperti : pemilihan Dekan, pemilihan Ketua Departemen, Senat Akademik).

Saya tidak memberi dukungan, karena menurut saya mereka tidak cukup memenuhi syarat, terutama syarat adil dan berjalan pada rel yang benar. Terus terang, saya sering merasa sendiri. Tetapi ini tidak menyurutkan saya untuk konsisten pada sikap yang telah saya pilih. Saya tetap melakukan berbagai kegiatan masyarakat melalui LSM yang saya dirikan. Saya juga berusaha mengembangkan keilmuan saya dengan menulis.

Untuk kesabaran, saya merasa cukup teruji, dimana saya harus menghadapi banyak komentar miring dari banyak orang akibat jalan yang telah saya pilih. Komentar miring yang mengatakan sok idealis, sok lurus, dan sebagainya adalah makanan rutin yang sering saya terima. Tetapi the show must go on, anjing menggonggong kafilah berlalu. Saya mematrikan diri untuk tetap meningkatkan kualitas diri, dan hasilnya saya raih pada tahun 1997 dimana saya menjadi Dosen Teladan II di FISIP USU, mahasiswa berprestasi cemerlang di IPB karena IP saya 4,00 dan pada tahun 2006 saya menjadi Ketua Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi.

Hasil ini menurut saya tidak datang begitu saja, saya mendapatkannya setelah melewati proses perjuangan keras dan seleksi yang objektif. Semangat saya tetap menyala karena masih memiliki beberapa teman yang se ide, mahasiswa yang hangat dan mendukung saya. Pujian seorang mantan mahasiswa yang telah menjadi PRO (Public Relations Officer) di sebuah perusahaan BUMN terkenal cukup menyejukkan hati. Saat kami bertemu dalam sebuah seminar, ia berkata dan  membuat saya terpana, “Ibu, sumpah mati saya tidak bohong. Diantara berbagai mata kuliah yang saya pelajari dulu, Cuma pelajaran ibu yang saya ingat. Belajar dengan Ibu itu enak dan ndak bosan”.

Pada saat yang lain, saya menerima telepon dari mantan mahasiwa yang pernah saya bimbing dalam penulisan skripsi. Secara khusus ia mencari nomor telepon saya di departemen, karena ia tahu betul saya masih tetap mengajar di FISIP USU. Kemudian ia menelepon ke handphone saya, dan menyatakan kegembiraannya bahwa ia telah menjadi sekretaris Departemen di PTN. Ia selalu ingat betapa saya dengan penuh sabar membimbing penulisan skripsinya. Padaha topik yang diangkatnya dianggap beberapa dosen menyimpang. Ia bersyukur karena saya membantunya meluruskan dan mengelaborasi topik tersebut menjadi lebih baik dan relevan dengan ilmu komunikasi.

G. ETOS KERJA

Bagi staff saya di Lab. Komunikasi, saya mendapat gelar “orang yang paling banyak maunya”. Maksudnya saya bersemangat sekali mewujudkan kegiatan-kegiatan buat mahasiswa. Padahal terus terang, dengan kondisi dana yang minim, peralatan yang seadanya, kecil kemungkinan untuk merealisasikannya. Namun, bagi saya semuanya harus dicoba dan diusahakan. Apalagi melihat kondisi mahasiswa yang sedikit sekali mendapat perhatian dosen. Kebanyakan teman-teman sejawat, terlihat asyik dengan proyek dan cenderung mengabaikan tugas sebagai dosen.

Di tengah-tengah banyaknya tugas sebagai ibu rumah tangga, sebagai pelajar S3, sebagai Dosen, sebagai Ketua Lab., kadang-kadang saya tidak punya waktu dan kesempatan lagi. Oleh sebab itu saya sering sekali “memaksa” staff saya untuk bekerja lebih keras. Tidak jarang, hari-hari kami lewati dengan rapat dan rapat. Pelan dan pasti beberapa target yang ingin dicapai dapat kami wujudkan seperti : pemeran foto, pembuatan company profile, pembuatan iklan radio, pembuatan foto dokumentasi yang lebih baik dan artistic.

Saya merasa bahwa semua ini dapat kami capai karena saya memiliki tim yang solid, kinerja yang baik, semangat pantang menyerah dan disiplin yang kuat. Meskipun masih di lingkungan FISIP, saya merasa Lab. Komunikasi sudah mulai menunjukkan eksistensinya melalui karya-karyanya.

Sementara itu dikalangan mahasiswa yang mengambil mata kuliah saya, saya dianggap sebagai “dosen killer” karena saya tidak membolehkan mahasiswa yang terlambat untuk masuk kelas. Saya dengan tega, membiarkan mereka menunggu di luar, dan tidak boleh menandatangani absen. Bagi saya disiplin amatlah penting, untuk menghasilkan kerja dan karya terbaik. Mahasiswa yang paham dengan tabiat saya, biasanya kapok tidak akan terlambat lagi. Mereka akhirnya mengerti dan terbiasa dengan peraturan yang saya buat. Awalnya tentu mereka merasa tidak nyaman, namun karena saya konsisten menerapkannya pada siapapun, akhirnya mereka dapat menerima dengan lapang dada.

H. INTEGRITAS DIRI

Sebagai ketua Lab. Komunikasi, saya memiliki 6 orang staff yang menanggung jawabi bagian fotografi, radio siaran, audio visual, dan kesekretariatan. Keteladanan adalah hal yang saya terapkan pada mereka. Saya adalah orang yang lebih suka memberikan contoh melalui perilaku yang saya buat dibandingkan dengan berbicara. Misalnya : sebagai ketua lab, saya tidak memanfaatkan kedudukan saya untuk menggunakan peralatan lab sesuka hati. Lab. Komunikasi memiliki peralatan kamera foto, handycam, kamera film besar, LCD, Laptop, dan beberapa barang lainnya.

Sejak awal saya menyadari keberadaan peralatan ini bisa menjadi masalah jika tidak disusun peraturannya. Oleh sebab itu bersama dengan staff, kami menyusun Standard Operasional Prosedure (SOP) tentang peminjaman dan pemanfaatan peralatan lab. Saya harus melewati prosedur yang sama dengan orang lain, harus membayar dan harus mengajukan surat permintaan peminjaman.

Demikian pula saat saya mengumpulkan literature dari jurnal internet dalam jumlah cukup banyak data tersebut saya print di kantor. Sebagai bentuk tanggung jawab, saya mengeluarkan dana untuk mengganti tinta yang saya pakai. Hal ini saya lakukan karena ketersediaan tinta di kantor terbatas, penggunaannya hanya untuk pekerjaan yang berkaitan dengan Lab. Komunikasi. Tindakan ini saya lakukan, dalam rangka memberi contoh kepada seluruh staff agar tidak menggunakan fasilitas untuk kepentingan pribadi.

I. KETERBUKAAN TERHADAP KRITIK, SARAN DAN PENDAPAT ORANG LAIN

Kritikan merupakan satu hal yang menyakitkan namun diperlukan sebagai ajang untuk memperbaiki diri. Sebagai dosen, terkadang saya mendapat kritikan soal waktu masuk kelas. Saya dan mahasiswa mengalami perbedaan waktu, jam saya waktunya tidak sama dengan jam mahasiswa, sehingga hal ini menyebabkan waktu masuk saya lebih cepat dari mahasiswa, sehingga banyak mahasiswa terlambat dan tidak bisa masuk kelas. Mereka mengkritik bahwa jam saya terlalu cepat, saya akhirnya menerima kritikan mereka dan menyamakan jam saya dengan jam mahasiswa.

Demikian pula apabila mereka memiliki pendapat berbeda dengan saya dalam satu topik bahasan, maka saya mencoba menerima bahwa saya sebagai dosen tidak harus selalu benar dan tahu akan segala hal. Saya selalu katakan pada mereka bahwa dosen tidak Maha tau dan Maha benar.

Selain dari mahasiswa, saya juga menerima kritikan dari teman sejawat. Beberapa mengkritik sikap saya yang terlalu keras, sehingga kadang membuat teman lainnya tidak nyaman. Saya coba untuk menjelaskan alasan sikap saya tersebut. Apabila penjelasan tidak diterima maka saya mencoba berfikir jernih, bahwa manusia diciptakan tidak selalu sama dalam bersikap dan berpendapat. Sepanjang yang saya lakukan tidak melanggar agama, saya akan tetap mempertahankan sikap saya.

J. PERAN SOSIAL

Sebagai dosen Ilmu Komunikasi, saya menyadari bahwa komunikasi berperan penting untuk meningkatkan kinerja dan kerjasama di satu lembaga. Oleh sebab itu, saya menjalin hubungan dan berkomunikasi dengan siapa saja. Saya selalu intens berhubungan dengan beberapa teman sejawat, mendiskusikan mata kuliah untuk menerima masukan berupa; buku terbaru, jurnal, strategi mengajar efektif, dan lain sebagainya. Tidak jarang hasil obrolan kami menghasilkan kerja sama dalam bentuk penelitian dan pengabdian bersama.

Dalam setiap kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, saya selalu berusaha melibatkan teman-teman, karena bekerja bersama-sama lebih menyenangkan daripada bekerja sendiri. Selain itu, diantara teman sejawat  ada beberapa yang menjadi sahabat karib saya. Dengan mereka saya selalu meluangkan waktu minimal satu kali dalam seminggu untuk berbincang dan membahas apa saja. Bersama mereka saya lebih bebas untuk mengeluarkan pikiran, ataupun unek-unek, demikian pula sebaliknya.

Kepada staff di Lab. Komunikasi, saya selalu memberitahukan apa yang menjadi keinginan dan harapan. Biasanya komunikasi ini tidak selalu dalam situasi formal, lebih sering dalam situasi informal saat makan bersama. Situasi semacam ini saya manfaatkan juga untuk mendengar pendapat, keluhan dan masukan tentang pribadi maupun tentang kehidupan kerja. Dalam situasi informal ini, saya berusaha menjadi pendengar yang baik, menyerap apa yang menjadi keinginan dan harapan mereka. Selain dengan staff, saya juga menjalin komunikasi dengan para pegawai sampai cleaning service. Saat shalat Dzuhur merupakan saat saya bisa bertemu dengan mereka, dan berbincang tentang topic apa saja. Mulai dari topic pekerjaan, rumah tangga, film, politik, dan lain sebagainya.

K. ORISINALITAS

Orisinalitas saya tunjukkan dalam menghasilkan karya tulis dalam  topic disertasi. Dengan pertimbangan matang, berdasarkan kemampuan yang saya miliki. Topik Media Literacy saya pilih karena topic ini belum banyak dikaji oleh peneliti lain, khususnya dari sudut Ilmu Komunikasi. Secara lebih luas, saya ingin melihat dalam konteks pembangunan di Indonesia. Saya berharap penelitian ini akan menghasilkan bentuk kampanye Media Literacy inovatif bagi keluarga, khususnya tentang dampak buruk media penyampaiannya. Misalnya : menggunakan media film atau buku cerita. Dalam proses belajar mengajar, saya selalu berusaha untuk kreatif agar mata kuliah yang saya asuh tetap menarik dan materinya tidak ketinggalan zaman. Secara rutin, tiap semester saya mengevaluasi bahan ajar saya, apakah masih up to date?, apakah ada materi yang harus ditambahkan atau dihilangkan, memperbaiki power point, agar yang disajikan tidak itu-itu saja. Salah satu usaha kreatif dan inovatif adalah dengan memasukkan unsure film dalam teknik mengajar. Setelah menonton saya memberikan pertanyaan/tugas, yang berkaitan dengan materi yang saya ajarkan.

3 thoughts on “Tentang Saya”

  1. Assallamualaikum Bu Mazdalifah!
    Sudah lama saya coba cari kabar ibu dan Alhamdulillah melalui media ini saya bisa menyapa ibu. Saya Putra (Aryadi Safutra), mantan mahasiswa ibu yang dulu pernah tidak dizinkan masuk kelas karena terlambat. He..he..he..! Saya akui ini kesalahan saya dan sejak saat itu Alhamdulillah saya tidak pernah terlambat lagi walaupun harus bangun lebih pagi setiap harinya untuk menempuh perjalanan dari rumah ke kampus selama satu setengah jam.
    Bu Mazdalifah adalah dosen bimbingan skripsi saya. Sebuah bimbingan skripsi yang “berbeda” tetapi melalui bimbingan yang “berbeda” itu saya bisa peroleh nilai skripsi sempurna. LUAR BIASA hasilnya. Terima kasih saya yang teramat sangat atas bimbingan ibu. Setelah wisuda saya coba cari ibu, ingin tahu kabar Ibu. Pernah sekali saya ke kampus mencari Ibu tetapi diinformasikan kalo Ibu sedang cuti.
    Suatu pagi ketika membaca KOMPAS di kantor, saya baca profil tentang Bapak HENRY SARAGIH, ada tulisan yang mengingatkan saya tentang Bu Mazdalifah. Saya coba cari info kembali tentang ibu hingga akhirnya saya mengetahui situs ini.
    Sukses buat Bu Mazdalifah, semoga nantinya lulus S3 dengan nilai sempurna sama seperti yang sudah ibu lakukan ke saya. Doa saya buat Ibu dan keluarga semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Saya berharap semoga bisa bertemu dengan Ibu lagi jika saya kembali ke Medan suatu hari nanti.
    Terima kasih Bu Mazdalifah! Kebanggan buat saya pernah jadi mahasiswa Bu Mazda!
    Salam hormat saya,
    PUTRA

    • assalamualaikum wr.wb
      senang rasanya ibu dapat kabar dari putra. coba dingat-ingat yang mana ya…..
      he..he..akhirnya dgn susah payah ingat juga. kalau tdk salah yg rumahnya arah stabat ya..kurus..tinggi..agak hitam. Tapi tentang terlambat masuk kelas…sudah lupa tuh . Mohon maaf ibu baru balas sekarang, karena ibu mempersiapkan diri untk ujian S3. jumat lalu tgl 13 januari 2012. ibu sudah menjalani sidang S3 di Penang. Alhamdulillah dinyatakan lulus. Terimakasiih atas doanya ya…Sekarang waktunya untuk mengaplikasikan apa yang di dapat kepada seluruh mahasiswa. keluarga dan masyarakat Semoga ibu bisa berbuat lebih banyak lagi, dan bermanfaat buat semuanya. Oh..ya. putra tugas dimana? aplah msh tinggal di stabat? jika ada waktu luang, datanglah ke fisip. kami nggak kemana-mana kon..sampai pensiun ya..di fisip terus.
      Bu mazda

      • Wass. wr. wb.
        Alhamdulillah…! Selamat atas kelulusannya Bu Mazda! Terima kasih Bu Mazda masih ingat saya walaupun sebenarnya sudah ada yang sedikit berubah…! Kalo agak hitam…masih (He..he..he..) Tinggi…makin nambah tinggi kayaknya saya Bu…nah kurus…udah ndak…buncit malah(He..he..he..)😀
        Sekarang ini saya tinggal dan bekerja di Semarang. Di Stabat masih dan harus selalu pulang setiap tahunnya…! Insya Allah kapan2 saya mampir ke FISIP…!
        Sukses terus buat Bu Mazda dan terima kasih banyak buat Kak Windi Siregar atas infonya…!
        Matur nuwun sanget nggih Ibu & Mbakyu…!😀
        Wass. wr. wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s