Mazdalifah,Ph.D

Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara

Abstrak

Sistem komunikasi Indonesia merupakan sistem komunikasi yang dibentuk berdasarkan keanekaragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Keanekaragaman itu meliputi : keragaman suku bangsa, bahasa, serta budaya. Sistem komunikasi ini memiliki keunikan dan keunggulan. Misalnya : sistem komunikasi masyarakat desa yang mengutamakan tradisi lisan dan terkadang memerlukan masukan dari pemuka masyarakat. Bentuk komunikasi seperti ini bersifat langsung secara tatap muka, dekat dan akrab, bahasa yang sederhana, serta penyampaian pesan yang penuh tatakrama menjunjung tinggi nilai-nilai kesantuanan. Kehadiran globalisasi membawa konsekwensi terhadap bidang politik, ekonomi , sosial dan budaya. Demikian pula dengan bidang komunikasi, dimana teknologi komunikasi berkembang dengan sangat cepat. Penggunanan handphone telah menyebar sampai ke pelosok desa. Hal ini membuat sistem komunikasi mengalami perubahan, khususnya pada masyarakat pedesaan. Masyarakat lebih menyukai hal cepat dan praktis. Pesan yang panjang dan dalam berubah menjadi pesan yang singkat. Sumber informasi menjadi beragam, tidak hanya mengandalkan pemuka masyarakat saja tetapi juga dari media seperti televisi bahkan internet. Sumber informasi yang beragam dan berlimpah menimbulkan kerancuan dan kebimbangan. Hal ini menjadi tantangan di masa depan, dimana perlu menerapkan strategi khusus, agar sistem komunikasi Indonesia pada masyarakat pedesaan dapat bertahan dengan keunikannya dan dapat dikembangkan menjadi potensi utama membangun negara.

Key Words : Sistem Komunikasi, Pedesaan dan Globalisasi

Sistem Komunikasi Indonesia di tengah Arus Globalisasi

Pendahuluan

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman suku, bahasa, tradisi, kepercayaan dan sistem nilai yang berbeda.Hadi Ismanto menyatakan ada lebih dari 350 dialek bahasa dan sekitar 400 kelompok etnis suku bangsa, dan lima agama resmidi seluruh wilayah Indonesia yang menandakan kehidupan masyarakatnya amat beragam ( dalam Hamid & Budianto, 2011 : 120 ). Keanekaragaman ini di satu sisi merupakan hal yang menguntungkan, dimana terdapat banyak jenis suku, bahasa, adat istiadat, kepercayaan yang membuat Indonesia lebih berwarna dan dinamis. Di sisi lain keanekaragaman akan menghasilkan perbedaan yang dapat memicu konflik diantara masyarakatnya. Situasi semacam ini merupakan hal yang tidak dapat dihindari, dan tentu saja sebaiknya keanekaragaman tersebut harus dipelihara dan dikelola dengan baik.

Kehadiran globalisasi telah menyentuh aspek kehidupan masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Perubahan masyarakat utamanya dalam bidang komunikasi menjadi signifikan. Teknologi komunikasi mengalami era kemajuan seperti perangkat keras : telepon berkembang menjadi smartphone, surat kabar berkembang menjadi media on line, penggunaan internet sebagai sumber informasi baru melalui komputer maupun smartphone dan lain sebagainya. Masyarakat Indonesia baik di daerah perkotaan dan pedesaan memanfatkan media tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Bentuk komunikasi lisan tatap muka yang menjadi unggulan masyarakat pedesaan sedikit banyak mengalami perubahan dengan kehadiran media tersebut di atas. Menurut Alvin Toffler revolusi informasi dapat membuat satu bangsa melompat dari masyarakat tradisional ke masyarakat industri danke masyarakat informasi lebih cepat tanpa harus melalui proses sejarah ribuan maupun ratusan tahun. ( dalam Sihabudin, 2013 : 2 ).

Pengaruh globalisasi terhadap bentuk komunikasi masyarakat pedesaan makin nyata, mengingat penggunaan handphone merambah ke pelosok tanah air. Masyarakat melakukan aktivitas komunikasi melalui media ini.Budaya lisan yang menjadi keunggulan masyarakat desa mulai terancam keberadaannya. Mc.Luhan (dalam Sihabudin, 2013 : 2 ). berpendapat bahwa media telah ikut mempengaruhi perubahan bentuk masyarakat. Media tidak hanya memenuhi kebutuhan manusia akan informasi atau hiburan tetapi juga ilusi dan fantasi yang mungkin belum pernah terpenuhi lewat saluran-saluran komunikasi tradisional lainnya.

Tinjauan Pustaka

Sistem berasal dari bahasa Yunani, systema yang berarti suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian. Berdasarkan pengertian ini sistem komunikasi bisa didefenisikan sebagai berikut : sekelompok orang, pedoman dan media yang melakukan suatu kegiatan mengolah, menyimpan, menuangkan gagasan, symbol, lambang menjadi pesan dalam membuat keputusan untuk mencapai kesepakatan dan saling pengertian satu sama lain dengan mengolah pesan itu menjadi sumber informasi ( Nurudin, 2012 : 4 ).

Mengacu dari defenisi di atas maka sistem komunikasi Indonesia adalah masyarakat Indonesia yang melakukan kegiatan mengolah, menyimpan, menuangkan gagasan, symbol, lambang , menjadi pesan dalam membuat keputusan dan saling pengertian satu sama lain dengan mengolah pesan tersebut menjadi sumber informasi. Masyarakat Indonesia yang dimaksud adalah masyarakat Indonesia di pedesaan.

Masyarakat pedesaan di Indonesia mempunyai jumlah yang besar dibandingkan masyarakat perkotaan.Beberapa hal yang menjadi ciri khas masyarakat desa adalah : mempunyai hubungan erat dan lebih mendalam. Sistem kehidupannya biasanya berkelompok atas dasar kekeluargaan. Masyarakat umumnya hidup dari pertanian. Ada tokoh penting yang dihormati dan memegang peranan : para tetua adat , pemuka agama, yang sering disebut sebagai opinion leader. Sistem pengambilan keputusannya melalui musyawarah.( Soekanto, 2009 : 136 ).

Sementara itu Sayogyo merumuskan beberapa ciri-ciri kehidupan masyarakat pedesaan Indonesia berdasarkan 1) konflikdan persaingan, dimana yang sering menjadi sumber konflik adalah soal tanah, kedudukan/gengsi, perkawinan, hubungan antara kaum tua dan muda serta perbedaan pria dan wanita. 2) Kegiatan bekerja : ada masa-masa tertentu untuk bekerja keras dan ada masa-masa tertentu mengalami kelegaan. Hal ini karena mereka bekerja bercocok tanam di bidang pertanian. 3).. Sistem tolong menolong : aktifitas tolong menolong yang sering disebut dengan gotong royong, saat pesta perkawinan, panen, upacara adat, kelahiran maupun kemalangan. 4). Menerapkan sistem musyawarah dalam mengambil keputusan, dimana warga desa bertemu muka dan berkumpul dan berunding memutuskan satu persoalan. ( 1982 ; 34-41 ).

Suasana pedesaan tersebut melahirkan banyak kebudayaan dalam masyarakatnya.Kebudayaan atau budaya berasal dari bahasa sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi atau akal.kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia senagai anggota masyarakat ( Soekanto, 2009 : 150 ). Budaya lisan atau kebudayaan lisan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan kemampuan lisan yang dimiliki oleh anggota masyarakat seperti : percakapan sehari-hari, cerita/ dongeng, lagu-lagu, dan lain sebagainya

Sistem komunikasi masyarakat Indonesia khususnya yang berada di wilayah pedesaan kebanyakan menggunakan budaya lisan. Seiring dengan perkembangan teknologi semakin pesat serta arus globalisasi yang melanda dunia, maka keberadaan budaya lisan ini sedikit banyaknya mengalami perubahan.

Globalisasi menjadikan batas-batas wilayah negara menjadi cair, dunia menjadi kampung yang satu ( Global Village ). Globalisasi berasal dari istilah globe (bola dunia) dan ization (proses). Dengan demikian, globalisasi diartikan sebagai proses mendunia. Istilah globalisasi mengandung mengandung banyak pengertian. Salah satunya dinyatakan oleh Soemardjan Globalisasi adalah proses terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia. Tujuan globalisasi adalah mewujudkan sistem dan kaidah-kaidah tunggal yang berlaku bagi seluruh masyarakat di dunia ( dalam Pariwara , 2013 : 216 ). Adapula pendapat lain yang dinyatakan oleh Kolip dan Setiadi globalisasi merupakan istilah yang berhubungan dengan peningkatan keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di sekuruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya popular, jaringan komunikasi, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain. ( 2011 : 688 )

Pembahasan

Budaya Lisan dalam Sistem Komunikasi Masyarakat Pedesaan

Masyarakat desa pada umumnya masih bersifat tradisional yang sedang tumbuh dan berubah ke suatu tingkat kehidupan yang lebih baik. Selain jumlah yang lebih besar masyarakat pedesaan juga memiliki ciri khas komunikasi yang berbeda dengan masayarakat kota. Salah satu diantaranya adalah bentuk komunikasi yang terjalin diantara sesama warga.Komunikasi yang terjalin biasanya dalam bentuk komunikasi tatap muka, bersifat hangat dan dekat.

Bentuk komunikasi satu masyarakat ditentukan pula oleh faktor budaya masyarakat setempat. Demikian pula dengan masyarakat di pedesaan, budaya memegang peranan penting. Edward Sapir menyatakan bahwa komunikasi sebagai proses meliputi proses komunikasi primer dan sekunder. Proses komunikasi primer merupakan landasan komunikasi tradisional dengan ciri-ciri a. hubungan sosial antara pelakunya berlangsung berhadapan muka, b. Hubungan sosial biasanya bersifat mendalam dan berlaku pada orang=orang berbeda status misalnya hubungan patron – klien. ( dalam Liliweri, 1991 : 195 ).

Bentuk komunikasi seperti ini terjalin melalui jaringan sosial yang telah lama terbentuk, seperti :antara pemuka agama dengan warga masyarakat desa umumnya, antara tetua adat dengan warganya. Demikian pula pertukaran dan perundingan dalam masyarakatnya sudah membudaya dan khas, dikenal dengan nama lembaga musyawarah. Tekniknya adalah dialog secara tatap muka yang dapat diartikan sebagai proses untuk mengenal, membandingkan dan mempertemukan unsur-unsur yang sama dari logika yang dimusyawarahkan.

Menurut Sayogyo,musyawarah adalah salah satu gejala sosial yang ada di dalam banyak masyarakat pedesaan umumnya dan khususnya Indonesia. Artinya ialah, bahwa keputusan-keputusan yang diambil dalam rapat-rapat tidak berdasarkan suatu mayoritas, yang menganut satu pendirian tertentu, melainkan seluruh rapat, seolah-olah sebagai suatu badan.Hal ini tentu berarti bahwa baik pihak mayoritas maupun pihak minoritas mengurangi pendirian mereka masing-masing, sehingga bisa dekat mendekati. Disamping itu ada kekuatan atau tokoh-tokoh yang mendorong proses mencocokkan dan mengintegrasikan pendapat, dengan cara saling bertemu tatap muka dan berinteraksi secara langsung. Budaya musyawarah dan mufakat ini telah berlangsung sejak berabad-abad lamanya dalam masyarakat pedesaan di Indonesia seperti yang pernah dikupas secara ilmiah oleh Ter Haar dan Haga. Musyawarah sebagai satu sistem rapat masyarakat pedesaan yang banyak dijadikan referensi oleh hukum adat ( 1982 : 42 ).

Hasil penelitian Eko dan kawan-kawan di desa Majalaya kecamatan Majalaya, kabupaten Bandung menemukan bentuk forum warga sebagai wadah untuk bertemu, bermusyawarah dan mengambil keputusan, di sebut dengan Forum Masyarakat Majalaya Sejahtera ( FM2S ). Forum ini menjadi tempat warga untuk menyampaikan pendapat, berargumentasi atau terlibat dalam keputusan final. Partisipasi masyarakat mengikuti forum ini cukup baik dimana mereka dapat hadir dan terlibat dalam mengambil keputusan penting. Permasalahan tentang adanya pemindahan pasar, serta penertiban pedagang kaki lima salah satu agenda yang menjadi kerja. ( 2003 : 32 ).

Bentuk komunikasi tatap muka dan mengutamakan musyawarah berakar dari tradisi lisan atau budaya lisan yang sangat kental. Meskipun budaya cetak memasuki Indonesia sekitar abad ke-20, namun tradisi lisan pada masyarakat kita khususnya yang berada di pedesaan masih berakar kuat. Budaya lisan mengandalkan bahasa sebagai alat penyampai pesan. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi antar anggota masyarakat dalam berbagai bidang dan berbagai tema, untuk bertegur sapa, bercerita, berniaga bahkan bertengkar, dan merayu.

Saat masyarakat Indonesia belum mengenal baca tulis, maka penyimpanan informasi, gagasan dan pengetahuan hanya terjadi dalam ingatan. Isi ingatan itu yang ditransmisikan ke pihak lain dalam bentuk kisah-kisah hikmah yang dipegang oleh seseorang yang memiliki posisi khusus di tengah masyarakat. Ignas Kleden menyebutnya sebagai kelisanan primer( Sihabudin, 2013 : 2-3 ). Bentuk-bentuk kelisanan primer banyak dijumpai dalam masyarakat Indonesia. Tokoh adat atau kaum tua di satu desa mampunyai pengetahuan yang mereka peroleh dari warisan nenek moyang. Pengetahuan atau cerita yang mereka dapatkan biasanya akan ditransfer kepada kepada generasi yang lebih muda, anak atau cucu pada saat kumpul keluarga ataupun pesta adat. Pengetahuan dan cerita penuh hikmah ini biasanya akan terus disampaikan dari generasi ke generasi. Proses transmisi seperti ini berlangsung menggunakan bahasa lisan , tatap muka , hangat dan penuh kekeluargaan.

Bahasa dalam konteks masyarakat desa menjadi ujung tombak penyampaian pesan. Penggunaan bahasa memiliki beberapa nilai, seperti : ada kata yang dipandang patut diucapkan ada yang tidak. Apalagi dalam kehidupan sosial seperti pergaulan masyarakatnya harus memenuhi tatakrama, sopan santun, sesuai adat dan kebiasaan yang berlaku.Hubungan antara kaum tua dan kaum muda sangat dijaga, dimana kaum muda harus menggunakan pilihan kata tertentu untuk menghormati orang tua.Pilihan kata ini tentu berbeda manakala orang yang diajak berkomunikasi adalah kaum muda.( Amir, 2013 : 50 – 51 )

Budaya lisan merupakan satu potensi dan keunggulan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat pedesaan. Budaya lisan dapat kita lihat dalam banyak budaya tradisional, seperti budaya Jagongan, yaitu bentuk komunikasi sosial pada masyarakat Solo. Budaya Jagongan ini merupakan satu kebiasaan/tradisi yang selalu dilakukan masyarakat Solo dari dahulu hingga saat ini. Jagongan sebagai bentuk komunikasi sosial antar warga Solo, dimana mereka dapat bertemu muka, berbicara dan menyampaikan pesan satu sama lainnya.

Jagongan adalah mengobrol bersama sambil santai. Jagongan dapat terjadi di warung kopi, pos kamling, acara kawinan, atau di warung-warung. Biasanya para warga ( kaum pria ) duduk mengobrol dan begadang sampai pagi. Kaum wanita juga melakukan hal yang sama tetapi biasanya dilakukan pada siang hari. ( Vera& Wihardi, 2012 ). Budaya lisan ini terlihat sangat sederhana dan tidak memerlukan biaya yang mahal/besar. Forum pertemuan dan ajang pertukaran pesan semacam ini dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk menyampaikan pesan pembangunan.

Selain hal tersebut di atas adapula bentuk lain seperti : penuturan adat, cerita lisan, lagu-lagu yang hidup dan berkembang di berbagai suku bangsa di Indonesia. Dalam bentuk-bentuk tersebut pesan-pesan disampaikan secara langsung dan penuh makna, seperti : acara pesta perkawinan, acara panen setiap tahun, musyawarah desa, dan lain sebagainya. Budaya lisan yang telah berurat berakar selayaknya tetap dipertahankan dan dikembangkan sebagai satu potensi. Fenomena yang tejadi pada akhir-akhir ini menunjukkan keberadaan budaya lisan terdesak dan terancam keberadaannya oleh munculnya globalisasi.

Globalisasi dan Sistem Komunikasi Indonesia

Globalisasi sebagai fenomena universal saat ini telah mendorong terjadinya perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat. Kemajuan di sektor komunikasi seperti : telepon seluler, compact disc, dan media yang terintegrasi seperti tab, i-pod dan smartphone adalah beberapa diantaranya. Berkembangnya teknologi ini menciptakan masyarakat informasi, sebagai dampak terjadinya revolusi komunikasi.

Hal ini mendorong terjadinya perubahan dalam proses komunikasi, Arifin menyatakan perubahan itu meliputi : 1) pengumpulan informasi, 2) penyimpanan informasi , 3) pengolahan informasi, 4) penyebaran informasi dan 5) balikan informasi. Arti penting dan fundamental dari revolusi ini adalah kemampuan manusia menghemat waktu dan menaklukkan ruang.Kegiatan komunikasi tersebar ke semua waktu, sehingga ada penghematan energi dalam transportasi, karena komunikasi tidak lagi tergantung pada jarak. Dalam hal ini keperluan untuk berkumpul di tempat-tempat seperti kampus, kantor dan ruang rapat menjadi berkurang.( Hamid& Budianto, 2011 : 22 ). Intensitas pertemuan dalam bentuk tatap muka mengalami pengurangan , aktifitas bertemu dan bertatap muka diselingi dengan kegiatan membalas e-mail atau melakukan chating di media sosial. Kualitas komunikasi lisan secara tatap muka mengalami kemunduran, tatap muka yang dulunya hangat, terbuka dan ekspresif menjadi formal, tidak ekspresif dan apa adanya

Era globalisasi melahirkan juga perangkat lunak dalam wujud budaya dunia ( global culture ): musik pop, film, televisi global, makanan dan minuman , fashion, dan gaya hidup lainnya. Kegemaran orang akan makanan atau minuman menjadi sama, di Indonesia orang kenal dan makan Kentucky Fried Chicken, begitupula di Amerika. Di sebuah kampung di kota Padang Sidempuan orang minum cocacola atau pepsi cola, demikian pula orang di kota Brazil. Selera dan kegemaran orang cenderung menjadi sama akibat globalisasi.

Faktor apa yang membuat semua ini bisa terjadi? Jawabnya adalah globalisasi mengakibatkan orang mendapat kelimpahan informasi. Desa, kota, negara bahkan benua, tidak mampu membendung arus informasi yang menerpa diri mereka. Implikasi dari globalisasi lainnya adalah adalah hilangnya batas wilayah dan tabir pembatas budaya antar bangsa dan adanya infiltrasi gelombang informasi dan budaya baru yang bisa mengancam keberadaan satu bangsa.( Sayoga, 2011 : 161 ).

Bentuk budaya baru yang muncul dalam kehidupan masyarakat akibat proses globalisasi adalah budaya popular atau yang dikenal dengan budaya pop. Masyarakat kita baik di kota maupun desa seringkali melakukan sesuatu tindakan berdasarkan apa yang sedang popular di lingkungannya. Misalnya : membeli gadget berdasarkan apa yang sedang ramai dibicarakan, karena menganggap gadget tersebut lebih bergengsi dibandingkan dengan yang lain. Padahal jika diteliti lebih dalam l banyak fitur yang ada dalam gadget tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal. Tindakan membeli gadget bukanlah sebagai kebutuhan melainkan sebagai gaya atau trend yang ada di lingkungannya.

Secara lebih khusus budaya popular itu harus memenuhi ciri sebagai berikut : 1).Trend, sebuah budaya menjadi trend dan diikuti atau disukai banyak orang. 2). Keseragaman bentuk, sebuah ciptaan manusia menjadi trend akhirnya diikuti oleh banyak copycat-penjiplak. 3). Adaptabilitas, sebuah budaya popular mudah dinikmati dan diadopsi khalayak. 4). Durabilitas, sebuah budaya poluler akan dilihat berdasarkan durabilitas menghadapi waktu, budaya popular akan dapat mempertahankan dirinya bila pesaing yang muncul tidak dapat menyainginya. 5). Profitabilitas, dari sisi ekonomi budaya popular menghasilkan keuntungan bagi industri yang mendukungnya. ( Fitryarini, 2012 : 69 – 70 ).

Masyarakat yang mengikuti budaya pupuler bukan saja dalam hal mengkonsumsi makanan, minuman, berpakaian, tetapi juga dalam hal menganut nilai-nilai tertentu. Misalnya : penilaian tentang kecantikan seseorang amat dipengaruhi apa yang sering muncul di media. Defenisi cantik mengikuti nilai yang disebutkan oleh iklan-iklan kecantikan. Bahwa cantik itu harus tinggi dan langsing, cantik itu kulitnya harus putih dan bersih. Apa yang disajikan oleh media massa,  secara perlahan namun efektif mampu membentuk pandangan pemirsanya terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan bagaimana seseorang berhubungan dengan dunia sehari-hari.

Seiring dengan perkembangan era globalisasi, media massa mempunyai peran yang sangat strategis dalam suatu negara, termasuk di Indonesia. Teknologi Informasi dan komunikasi telah mengarahkan masyarakat untuk selalu membutuhkan informasi tentang segala hal di dalam kehidupannya.Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya penggunaan alat-alat komunikasi, seperti handphone, smartphone, Iphone, notebook. Mereka membutuhkan handphone dan Iphone, tidak hanya sekedar untuk berkomunikasi tetapi juga untuk mengakses infomasi.dengan kecanggihan teknologi, sebuah handphone dan smartphone mempunyai berbagai fasilitas yang terkoneksi denga internet.

Hadirnya teknologi ini membuat perubahan dalam masyarakat, informasi hadir dengan kecepatan yang luar biasa, dan memunculkan gaya hidup baru ( life style ). Komunikasi melalui media sosial ( facebook, twitter,) muncul dan tumbuh dengan suburnya. Tentang hal ini itu sangat minim. Habermas mengatakan bahwa globalisasi terjadi karena adanya kepentingan pasar antar industri transnasional, tetapi meskipun keadaan ini mampu membuat infrastruktur baru secara sosial kepada masyarakat, kemampuan negara dalam memberikan kesadaran masyarakat ( dalam Respationo, 2014 : 14 )

Penggunaan handphone dan smartphone di Indonesia mengalami lonjakan luar biasa dibandingkan dengan media lain. Secara umum berdasarkan data tahun 2013, jumlah penggunaan ponsel di Tanah Air sebanyak 270 juta unit. Angka itu meningkat sekitar 282 juta unit. Diantara pengguna ponsel tersebut , sebanyak 81 juta adalah pemakai smartphone, pada tahun 2013 Indonesia merupakan pasar smartphone terbesar di Asia Tenggara( Harian Republika, 2014 ).

Penggunaan handphone dan smartphone semakin meningkat karena banyaknya fasilitas fitur yang tersedia.Fungsi fitur ini bukan saja sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai kamera, penyimpanan data, media sosial bahkan internet. Selain itu secara demografis Indonesia mengalami peningkatan usia produktif, didukung dengan jumlah kelas menengah yang memiliki gaya hidup tinggi dan dan kemampuan daya beli yang baik. Faktor lain yang menentukan adalah harga handphone dan smartphone yang semakin murah, membuat setiap orang dengan mudah membeli dan memilikinya. Beberapa produk keluaran Tiongkok mampu bersaing dengan produk dari perusahaan besar, msayarakat bisa membeli dengan harga jauh lebih murah.

Fenomena dalam masyarakat Indonesia baik di perkotaan maupun di pedesaan menunjukkan penggunaan handphone sudah menjamur sampai lapisan masyarakat paling bawah. Setiap hari banyak waktu dihabiskan untuk berkomunikasi dengan teman, keluarga bahkan kolega dengan saling bertelepon, atau saling mengirim kabar melalui SMS, ataupun jaringan media sosial. Bahkan larangan menggunakan handphone sampai dikeluarkan oleh pihak kepolisian, karena institusi ini menangani banyak kecelakaan karena pengemudinya asik berbicara atau mengirim sms atau berbicara melalui handphone.

Berdasarkan pengamatan sehari-hari menunjukkan bahwa pedagang sayur, pedagang ikan, penjual makanan (katering atau rumah makan ) , tukang ojek, tukang becak, dan lain sebagainya , memanfaatkan handphone untuk para pelanggannya. Media ini juga berperan dalam penguatan partisispasi masyarakat dalam pembangunan.pengiriman SMS melalui handphone berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan pengawasan yang berkaitan dengan pembangunan di wilayah setempat. Kasus di negara Kenya , Sierra Leon, Srilanka, India menunjukkan bahwa SMS melalui handphone digunakan untuk melakukan pengawasan pemilu dan konflik sosial yang dikenal dengan nama Cellphone Journalism. Khusus untuk Indonesia Hary Suryadi mengembangkan jurnalisme SMS untuk melakukan pengawasan hutan masyarakat di Kalimantan Barat. Program ini dikenal dengan nama Ruai SMS ( LSPP, 2013 ).

Pemanfaatan handphone untuk membantu aktifitas kehidupan sehari-hari masyarakat merupakan hal nyata dan keberadaannya. Bidang kesehatan merupakan bidang yang amat penting dalam pembangunan yang dapat memanfaatkan handphone untuk sosialisasi kesehatan. Pengiriman berita melalui sms yang mempromosikan cara hidup sehat atau bisa juga dengan cara membuat video dengan merekam hal-hal yang ada di sekitar. ( Darmastuti dan Kartika, 2011 : 242 ).

Hal seperti itu sudah banyak dilakukan orang bahkan mengirim hasilnya ke media televisi untuk ditayangkan Namun dibalik manfaat yang diterima, kehadiran handphone mengakibatkan kerugian dalam masyarakat.Media ini telah mampu mengubah perilaku komunikasi msayarakat. Beberapa catatan perkembangan baru sistem komunikasi Indonesia terutama kaitannya dengan penggunaan handphone :

  1. merubah pola komunikasi masyarakat dari komunikasi tatap muka atau menggunakan telepon menjadi tidak bertatap muka atau hanya mengirim SMS
  2. menurunkan minat baca, berdasarkan survey Siemens Mobile Lifestyle 60% remaja usia 15 – 19 lebih senang mengirim dan membaca sms daripada membaca buku.
  3. memunculkan praktik bisnis illegal atau penipuan, dengan mengirimkan SMS pada seseorang bahwa ia mendapatkan hadiah dan harus mengirim sejumlah uang via ATM ke rekening tertentu. banyak masyarakat yang mempercayai dan mengalami penipuan semacam ini.
  4. mengurangi nilai etika karena banyak orang mengabaikan teman bicara dan asik dengan handphone.
  5. menjadi gaya hidup memicu budaya konsumtif, bahkan menunjukkan status seseorang dan menjadi ajang pamer.

( Nurudin, 2012 : 191 – 195 ).

Penjelasan dan uraian di atas harus menjadi perhatian , khususnya yang berkaitan dengan perubahan bentuk komunikasi masyarakat pedesaan. Masyarakat Indonesia yang dikenal dengan budaya agraris, keramahan, kesopanan, hubungan yang dalam, bisa jadi akan mengalami perubahan pola komunikasi. Sistem kehidupan yang berkelompok dan penuh kekeluargaan amat dominan dalam keseharian. Bentuk kehidupan semacam ini memungkinkan mereka untuk saling berjumpa dan berkomunikasi secara lisan.

Apabila mereka mengalami kesulitan permasalahan dalam hidupnya, keluarga dan orang-orang yang dianggap penting, diikut sertakan dalam penyelesaiannya. Musyawarah untuk mencapai kata mufakat akan dilakukan sampai permasalahannya mendapat jalan keluar. Semua pihak bertemu dan saling mendengarkan pendapat yang disampaikan. Keputuan hasil musyawarah akan sangat mempertimbangkan kebenaran dan kepentingan kemaslahatan orang banyak.

Berbagai catatan di atas memberi panduan kepada kita bahwa kehadiran media sesungguhnya membawa konsekwensi tertentu bagi kehidupan masyarakat di era globalisasi. Perubahan bentuk komunikasi, nilai, gaya hidup dan sebagainya amat memungkinkan terjadi di semua lapisan masyarakat. Upaya untuk menjaga sistem komunikasi masyarakat desa dari pengaruh buruk globalisasi perlu dirancang. Pertama,melakukan pendidikan media literasi kepada masyarakat pedesaan. Kegiatan ini bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat agar mereka mampu menggunakan, memahami, mengevaluasi, memilih bahkan memproduksi pesan. Pendidikan media literasi ini diharapkan dapat member pencerahan agar masyarakat desa dapat menggunakan handhone secara benar dan dapat memanfaatkan media ini untuk tujuan yang baik.

Kedua, memperkuat dan mengembangkan partisipasi masyarakat dalam sistem komunikasi masyarakat pedesaan. Caranya dengan melibatkan secara aktif masyarakat dalam kegiatanmusyawarah yang ada di desa.Artinya masyarakat diberi kesempatan yang luas untuk terlibat dan mengambil peran yang aktif. Misalnya : kesempatan untuk memberi usulan, masukan dan kritikan, Bahkan bisa juga memberi sumbangan pemikiran untuk memecahkan persoalan desa ataupun persoalan lain yang berkaitan dengan kemaslahatan orang banyak. Ketiga, melestarikan budaya lisan yang berakar dari budaya setempat, seperti : pantun, dongeng, dan lain sebagainya. Bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya paling beraneka ragam. Bentuk pantun, dongeng, cerita rakyat, selayaknya tetap dipelihara dan dikembangkan. Agar dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Kesimpulan

Masyarakat desa terus mengalami perubahan karena terjadi interaksiwarga dengan orang di luar mereka, serta interaksi dengan media. Berkembangnya media khususnya teknologi komunikasi membuat proses globalisasi menjadi semakin luas. Globalisasi membuat batas-batas menjadi mencair dan perubahan menjadi semakin cepat. Sistem komunikasi masyarakat pedesaan turut mengalami perubahan bentuk. Perubahan masyarakatnya berubah menjadi bentuk masyarakat yang organisatorik, teratur mekanisme demikianpula dengan pola hubungan komunikasi diantara warganya. Bentuk komunikasi tatap muka yang mengandalkan budaya lisan yang hangat, akrab dan kekeluargaan telah berganti mengandalkan handphone dalam menyampaikan pesan. Pergeseran bentuk komunikasi ini harus segera diantisipasi dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat pedesaan.

Daftar Pustaka

Amir, Adyetti.(2013). Sastra Lisan Indonesia.Yogyakarta : Andi Offset
Chandra, Eka. (2013). Membangun Forum Warga, Implementasi Partisipasi dan Penguatan
             Masyarakat Sipil. Bandung: AKATIGA

Darmastuti, Rini & Kartika Sari, Dewi. (2011). “Kekuatan Kearifan Lokal dalam Komunikasi
Kesehatan”.Jurnal Komunikator Komunikasi FISIP Muhammadiah Yogyakarta, 3 ( 2 ),

hal. 233 – 244.

Fitriyani, Inda, (2012). “Pembentukan Budaya Populer dalam Kemasan Media. Komunikasi

Massa”.Jurnal Ilmiah Komunikasi MAKNA Fakultas Ilmu Komunikasi UNISSULA

Semarang, 4 (1), hal. 65 – 71.

Hamid, Farid, & Budiarto, Heri (Ed).(2011). Ilmu Komunikasi, Sekarang, dan tantangan Masa

Depan.Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Kolip, Usman & Setiadi, Elly M. (2011).Pengantar Sosiologi: Pemahaman Fakta dan Gejala

Permasalahan Sosial, Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Jakarta: Prenanda Media

Group.

Lembaga Studi Pers dan Pembangunan . (2013). Informasi untuk Aksi : Bahan Training of

Jurnalisme SMS.Jakarta : LSPP

Liliweri, Alo. (1991) .Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat.Bandung: Citra

Aditya Bakti

Nurudin.(2012). Sistem Komunikasi Indonesia.Jakarta : Rajagrafindo

Pariwara, Intan. (2013). Ips Terpadu.Jakarta : Macanan Jaya.

Republika, ( 2014 ) Penetrasi Smartphone Melonjak. Jakarta.

Respitino, Surya. (2014). The Borderless World dan Peran Kemanusiaan.Jakarta : KPI

Sayoga, Budi. (2011). “Merajut Komunikasi Antar Budaya Indonesia” Jurnal Komunikator

Komunikasi FISIP Muhammadiah Yogyakarta, 3 (2), hal.159-178.

Sayogyo & Sayogyo, Pujiwati.(1982). Sosiologi Pedesaan Jilid 1.Jakarta :Gajahmada University

`Pers.

Sihabudin, Ahmad. (2013). “Literasi Media dengan Memberdayakan Kearifan Lokal”.Jurnal

`Communication Program Studi Komunikasi Universitas Budi Luhur Jakarta, 4 (2), hal.

1 – 9.

Soekanto, Soejono. (2009). Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Vera, Nawiroh, & Wihardy, Doddy,( 2012 ). “Jagongan sebagai bentuk Komunikasi Sosial pada

Masyarakat Solo dan Manfaatnya bagi Pembangunan Daerah”.Jurnal Ilmiah Komunikasi

MAKNA Fakultas Ilmu Komunikasi UNISSULA Semarang, 2 (2) , hal. 58 – 64.