Pengalaman mengesankan dan penuh tantangan sebagai pendamping lapangan di Yayasan untuk Perempuan Perkotaan Medan terjadi di masa-masa awal. Sekitar tahun 2000 an saat YP2M berjuang meyakinkan mbak-mbak untuk bergabung menjadi anggota. Lokasi Halat dimana teteh menjadi PL nya adalah lokasi yang paling sulit dan alot dalam negosiasi awal. Faktor trust ( kepercayaan ) menjadi alasan utama.

Kita selalu berfikir bahwa dengan modal niat baik saja sudah cukup. Dan kita juga berfikir bahwa masyarakat akan serta merta menerima kegiatan yang kita tawarkan. Apalagi bila yang ditawarkan itu berupa bantuan dana, siapa yang akan menolak ? Namun bayangan indah itu buyar seketika. Ternyata prosesnya tidaklah semulus yang dibayangkan. Penuh dengan tantangan dan bahkan ada semacam resistensi dari sebagian kecil masyarakat.

Padahal teteh sebagai PL sudah memiliki jam terbilang cukup tinggi dan teruji semasa mendampingi masyarakat di DAS sungai Deli tahun 1987 an. Segudang pengalaman itu rasanya cukup menjadi bekal dan mematri rasa percaya diri. Bahwa kali ini pun pendekatan pasti akan berjalan mulus. Meskipun berat dan penuh tantangan , teteh menyadari betul bahwa masa awal inilah yang menentukan keberhasilan program YP2M kelak.

Pendekatan di awal amat penting mengingat pada masa awal inilah kita harus mampu mengikat hati masyarakat dengan rasa percaya ( trust ) yang tinggi sehingga mereka dengan sukarela mau bergabung dan terlibat aktif. Oleh sebab itu diperlukan ketrampilan dan kegigihan dari seorang PL untuk menjalaninya. Semangat baja dan pantang menyerah seorang PL memang harus dibuktikan. Apalagi menghadapi masyarakat yang seolah-olah curiga terhadap niat baik kita.

Lokasi Halat terletak di pusat kota Medan. Sebuah lokasi dengan karakteristik masyarakat urban yang amat kental. Keanekaragaman masyarakat dan lokasi yang padat menjadi ciri khasnya. Bangunan rumah beton bercampur dengan bangunan rumah semi permanen, memadati di sisi kanan dan kiri jalan. Jumlah penduduk yang amat banyak membuat lokasi ini selalu ramai dengan suara dan tingkah polah para ibu, anak-anak maupun remaja. Semua berbaur dengan satu keharmonian yang terjalin antar sesama mereka.

Tidak terlalu sulit untuk datang dan berkenalan dengan mereka. Tetapi menjadi sulit dan cukup alot manakala mengajak mereka untuk terlibat dan bergabung dengan YP2M. kecurigaan dan kehati-hatian amat terasa manakala mengajak mereka bertemu. Pertanyaan yang paling sering diajukan adalah : siapa YP2M ? apa maksudnya datang ke lokasi dan menawarkan kerjasama ? adakah lembaga lain atau orang yang berdiri dibalik YP2M ini ? Dan beraneka macam pertanyaan lainnya.

Pertanyaan tersebut muncul saat pertemuan pertama. Kami mendekati ibu kepling dengan bantuan teman dari lembaga lain yang sudah terlebih dahulu melakukan kegiatan. Setelah pendekatan kepada ibu kepling berjalan, langkah selanjutnya meminta bantuannya untuk mengundang sejumlah mbak penjual jamu. Kapasitas sebagai ibu kepling yang mempunyai wewenang ternyata cukup ampuh untuk menghadirkan mbak-mbak tersebut. Kami menyepakati pertemuan diadakan malam hari di rumah ibu kepling .

Pada saat yang ditentukan pertemuan pertama berlangsung cukup baik. Teteh sebagai PL menjelaskan dengan sederhana dan rinci maksud dan tujuannya. Mengenalkan apa itu YP2M dengan bahasa yang sederhana, apa kegiatannya dan siapa saja yang terlibat di dalamnya. Setelah itu dilanjutkan dengan acara tanya jawab yang berlangsung seru. Muncul banyak sekali pertanyaan-pertanyaan. Ada pertanyaan yang lugu : misalnya mbak teteh ini kerjanya apa ? tinggalnya dimana? sudah berkeluarga apa belum? sampai kepada pertanyaan yang bernada kritis : apakah kerjasama ini ada hubungannya dengan partai politik tertentu? apakah ini ada hubungannya dengan pemerintah ? Dengan program JPS ( jaring pengaman Sosial ) yaitu program pemerintah yang membantu rakyat miskin.

Sebagai PL kita harus mampu memberi jawaban yang jelas. Dibutuhkan ketrampilan berkomunikasi yang baik, apalagi saat berinteraksi dengan mbak-mbak yang pendidikan dan pengetahuannya tidak sama dengan kita. Terkadang kita harus memilih kata yang tepat dan sederhana yang bisa dipahami mereka. Tidak bisa dipungkiri latar belakang sebagai pendidik di kampus kadang membuat kita lupa menggunakan bahasa yang sederhana. Saat berdiskusi ketrampilan memilih kata dan menyampaikannya dengan menarik menjadi modal utama. terutama dalam usaha merebut hati dan kepercayaan mereka. Bahwa program yang ditawarkan adalah baik dan membantu ekonomi mereka kelak.

Pertemuan itu berlangsung dengan baik, dalam artian mereka memahami apa yang ditawarkan oleh YP2M. Tetapi jika ditanya apakah mereka bersedia ikut serta? maka jawabannya nanti dulu. Butuh waktu bagi mereka untuk memutuskan apakah mereka mau terlibat atau tidak. kebanyakan mereka memerlukan masukan dari pihak orang luar terutama suami. Dan tentu saja kenyataan ini harus dihadapi dengan legawa oleh teteh sebagai PL. Meski sebetulnya ia berharap lebih dari itu. Tetapi teteh menyadari ini bagian dari proses, tidak bisa dipaksakan, harus dipikirkan dengan masak-masak.

Proses mbak-mbak memberi keputusan berlangsung cukup lama. Kesabaran menjadi kunci utama. Sambil menunggu keputusan teteh sebagai PL tetap menjalin komunikasi yang intens dengan mereka. Beberapa langkah seperti melakukan pendekatan, mengunjungi mereka dan berbicara dari hati ke hati, secara rutin dilakukan. Apabila ada pertanyaan yang menimbulkan keraguan, teteh berusaha member informasi detail dan meyakinkan mereka bahwa kegiatan ini semata-mata dilakukan dengan niat baik. Meski masih ada satu dua mbak yang ragu, secara keseluruhan mereka menyambut gembira kegiatan yang ditawarkan.

Akhirnya setelah melalui proses panjang, Teteh berhasil memperoleh persetujuan secara aklamasi. Mereka menyetujui kegiatan yang ditawarkan oleh YP2M. Walaupun pertanyaan-pertanyaan tentang kapan dimulainya kegiatan ini terus diungkapkan. Sebagai PL teteh merasa ciut hatinya, sebab ia sendiri belum marasa yakin seratus persen bahwa proposal yang diajukan ke Jakarta ini akan berhasil. Proses seleksi proposal masih akan berlangsung, meski rasa optimism tetap menyala.

Proses menunggu seleksi proposal adalah hal yang mendebarkan. Teteh hanya berfikir kalau proposal ini diterima pasti rencana kegiatan akan mulus. Tapi apabila ditolak bagaimana menjelaskan kepada mereka?. Walaupun sebenarnya di awal kegiatan sudah diberitahukan bahwa kegiatan ini bisa juga gagal karena proposal ditolak pihak Jakarta. Teteh menyadari bahwa  proses meyakinkan masyarakat adalah hal yang sulit. Pikiran galau semacam itu seringkali mengganggu, membuat hatinya cemas. Namun sebagai PL yang tangguh, kegalauan pikiran seperti ini ditepis jauh-jauh, sambil tetap mematrikan bahwa semua usaha sudah maksimal dilakukan, semoga akan berhasil. Niat baik tentu akan mendapat restu Allah SWT.

Keyakinan itulah yang menguatkan kembali semangat teteh. Sambil menanti jawaban dari pusat, ia tetap menjalin komunikasi dengan mbak-mbak. Jalinan komunikasi ini memamg diperlukan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga. Strategi semacam ini cukup mujarab dan mereka menjadi tahu apa yang terjadi pada proposalnya, diterima atau ditolak. Setelah menunggu hamper satu tahun kabar baik akhirnya diterima dari Jakarta Proposal kami diterima , itu artinya kegiatan pengembangan ini sudah dapat dimulai. Dengan mengucapkan bismilah dana digulirkan kepada mbak-mbak. Dan sekarang setelah !4 tahun berlalu, kegiatan ini tetap bertahan. Satu kebanggan dihati, setelah sekian lama, tanpa bantuan dari pihak manapun YP2M mampu bertahan sampai kini.