Mazdalifah Ph.D.

 Abstrak

Groupthink adalah salah satu teori dalam komunikasi kelompok. Groupthink merupakan pemikiran kelompok yang muncul dari anggota kelompok yang berusaha keras untuk mencapai kata mufakat ( adanya kebulatan suara ) saat merumuskan satu keputusan di dalam kelompok. Gejala groupthink dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam kehidupan berorganisasi. Gejala tersebut dapat berupa munculnya penilaian yang berlebihan, ketertutupan pikiran dan tekanan untuk mencapai keseragaman. Groupthink dapat dihindari diantaranya memberi kesempatan setiap anggota kelompok untuk berpartisipasi dan mengembangkan sumberdaya untuk melakukan pengawasan dalam pembuatan kebijakan.

Kata kunci : Groupthink, komunikasi kelompok dan pengambilan keputusan.

1.Pendahuluan

Manusia pada umumnya tidak bisa lepas dari kelompok. Menurut Mulyana , kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. ( 2005 : 61 ). Defenisi ini membuktikan bahwa manusia merupakan makhluk social yang membutuhkan interaksi dengan orang lain. Interaksi tersebut akan melahirkan kerjasama dan hubungan yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhannnya. kelompok yang dimaksud dapat berupa anggota keluarga, teman kuliah, rekan kerja di kantor, dan lain sebagainya. Kelompok dapatpula dibentuk atas dasar kesamaan dalam hal kesukaan       ( Hobby ) seperti kelompok pencinta alam, kelompok fotografi, kelompok pencinta bunga, dan sebagainya. Kelompok memberikan banyak hal pada anggotanya, baik hal positif maupun hal yang negative. Keeratan yang terjalin diantara anggota kelompok akan menghasilkan hubungan yang dekat dan komunikasi yang intens.

Hubungan dan kerjasasama yang terjalin di dalam kelompok biasanya akan menciptakan komunikasi antar anggotanya. Michael Burgoon mendefenisikan kemunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. ( dalam Wiryanto, 2005 : 38 ) .

Hubungan dan komunikasi yang terjalin dengan erat diantara anggota kelompok membuat mereka mejadi kelompok yang solid ( kuat ). Kohesivitas ( keterpaduan ) merupakan faktor yang dapat menyebabkan munculnya groupthink. Keterpaduan ini membawa konsekwensi tertentu,dalam pengambilan keputusan kelompok. Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah dengan pengumpulan fakta dan data serta menentukan alternative yang matang untuk mengambil satu tindakan yang tepat. ( Siregar, 2013 : 2 ). dan serta menentukan alternative yang matang untuk mengambil satu tindakan yang tepat

Disamping itu faktor struktural : seperti kurangnya kepemimpinan dan kurangnya prosedur yang jelas turut menyumbang munculnya groupthink. Pemimpin yang baik selayaknya mampu mendengarkan usulan dan jalan keluar yang diberikan oleh bawahannya. Pemimpin tidak boleh bersikap otoriter dan beranggapan bahwa pendapatnya yang paling benar. Kecenderungan seperti ini akan mengabaikan munculnya alternatif jawaban dalam mengambil keputusan kelompok. Selain itu bila kelompok tidak memiliki norma yang disepakai untuk mengevaluasi masalah, dapatpula menimbulkan groupthink. Ketiadaan norma yang disepakati akan membuat anggota kelompok akan terus mencari penyebab dan cara menyelesaikannya. Kondisi seperti ini jika dibiarkan berlarut-larut akan memunculkan groupthink.

Kehadiran Groupthink tekadang tidak dapat dihindari, mengingat anggota kelompok memiliki rasa ikatan yang cukup kuat dengan kelompoknya. Fenomena saat ini menunjukkan banyak orang terjebak ke dalam pemikiran kelompok yang sempit. Mereka menganggap kelompoknya yang paling baik dan paling benar, secara agama, etnis ataupun ideologi politik. Kita bisa melihat dalam kasus politik , dimana seseorang begitu kuatnya mempertahankan bahwa ideologi politik yang dianut kelompoknya adalah yang paling benar. Meskipun dalam realitanya, kelompok politik tersebut tersandung dengan kasus korupsi. Dilain pihak ada anggota yang merasa bahwa etnis kelompoknya yang paling hebat dan selalu paling baik. Padahal apabila diamati secara mendalam kelompoknya yang paling banyak melakukan pelanggaran hukum dan merugikan masyarakat.

Fenomena terjadinya groupthink dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal. Pencegahan ini dimaksudkan agar proses pengambilan keputusan kelompok berjalan secara egaliter. Adanya pengawasan dan mengizinkan adanya keberatan anggota kelompok membuat proses pengambilan keputusan bisa berjalan secara demokratis. Proses ini memungkinkan semua anggota kelompok untuk berperan aktif dan saling mengawasi, sehingga munculnya fenomena groupthik dapat dicegah.

 

Komunikasi kelompok

Komunikasi kelompok memiliki banyak pengertian. salah satu diantaranya diungkapkan oleh Anwar Arifin yang menyatakan komunikasi yang berlangsung anatar beberapa orang dalam kelompok kecil seperti dalam rapat, pertemuan, konfrensi dan sebagainya. ( Siregar, 2013 : 7 ). De vito menyebutkan komunikasi kelompok adalah komunikasi yang terjadi pada sekumpulan orang yang relative kecil yang masing-masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama       ( 1997 : 303 ). Sementara itu Burhan Bungin menyatakan bahwa komunikasi kelompok mengacu pada informasi yang berhubungan dengan satu atau lebih pertemuan oleh sekelompok kecil orang yang melakukan komunikasi tatap muka untuk memenuhi tujuan bersama dan mencapai tujuan kelompok ( 2007 : 269 ). Carl E. Larson dan Alvina A. Goldberg menjelaskan bahwa komunikasi kelompok adalah salah satu dari sejumlah kecil disiplin ilmu yang mempunyai penerapan dan kritik ( Lubis, 2013 : 24 ). Namun diantara berbagai pengertian komunikasi kelompok tersebut, Michael Burgoon memiliki pengertian/defenisi yang cukup lengkap.

Defenisi dari Michael Burgoon memiliki empat elemen dalam sebuah komunikasi organisasi :

  1. Adanya interaksi tatap muka. Setiap komunikasi yang terjadi dalam kelompok mensyaratkan adanya interaksi secara tatap muka. Hal ini berarti setiap anggota kelompok dapat melihat dan   mendengar anggota kelompok secara langsung. Proses pengiriman dan penerimaan pesan komunikasi berlansung secara tatap muka. Misalnya: komunikasi antara anggota kelompok saat berlangsung rapat. Setiap anggota dapat berperan sebagai penerima atau pengirim pesan kepada anggota lainnya. Ada saatnya anggota akan mengajukan pertanyaan ( sebagai pengirim pesan ). Adapula saatnya anggota hanya mendengarkan pesan dari temannya yang lain ( penerima pesan ).
  1. Selain tatap muka komunikasi kelompok melibatkan sejumlah partisipan ( anggota ) kelompok. Jumlah anggota yang terlibat berkisar antara 3 sampai 20 orang. Semakin banyak jumlah anggota yang terlibat maka komunikasi yang terbina berjalan kurang efektif. Jumlah anggota yang tidak banyak, memungkinkan pesan dapat dikirim dan diterima dengan baik oleh seluruh anggota kelompok. Proses penyampaian dan penerimaan pesan menjadi semakin efektif.
  2. Faktor selanjutnya adalah adanya maksud dan tujuan yang dikehendaki oleh kelompok. Sebuah kelompok dibentuk seharusnya memiliki maksud dan tujuan yang jelas. Hal ini membawa kejelasan dalam membentuk identitas kelompok. Tujuannya jelas akan mendorong semua anggota kelompok mencapainya dengan usaha keras. Kelompok panitia reuni akan mendapat kejelasan mewujudkan pesta reuni yang berkesan, apabila tertera maksud dan tujuannya.
  3. Kemampuan anggota untuk menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya merupakan factor terakhir dari pengertian Burgoon. Hal ini mengandung pengertian bahwa di dalam komunikasi kelompok setiap anggota berhubungan satu sama lain. Hubungan semacam ini membuat sesame anggota dapat saling mengenal dengan baik satu sama lainnya. Perkenalan yang mendalam diantara anggota akan menumbuhkan ikatan yang kuat serta komunikasi yang intensif.

 

Pengambilan keputusan dalam kelompok

Keputusan dalam kelompok merupakan pemecahan masalah yang dihadapi oleh semua anggota kelompok. Pertanyaan yang muncul biasanya berkaitan dengan “ apa yang harus dilakukan ? “ dan seterusnya. Selain itu keputusan sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran berupa pemilihan satu diantara beberapa alternatif. Terry ( 2002 ) mendefenisikan pengambilan keputusan sebagai pemilihan alternative perilaku dari dua alternatif atau lebih. Biasanya hal ini dihadapi oleh pimpinan dalam menyelesaikan masalah dalam organisasi yang dipimpinnya. Sementara itu Harold dan Cyril O’Donnel ( 2001 ) : menyatakan pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif mengenai suatu cara bertindak.

Kelompok mungkin saja menggunakan metoda pembuatan keputusan yang berbeda-beda, misalnya saja dalam menentukan criteria yang akan digunakan atau alternative pemecahan yang diambil. Umumnya kelompok akan menggunakan salah satu dari ketiga metode berikut :

  1. wewenang : para anggota menyuarakan perasaan dan pendapat mereka, tapi pimpinan, bos , atau direksi membuat keputusan akhir.
  2. aturan mayoritas : kelompok menyetujui untuk mematuhi keputusan mayoritas dan mengijinkan adanya pemungutan suara untuk mencari penyelesaian satu masalah.
  3. konsensus : kelompok hanya akan sampai pada suatu keputusan jika semua anggota kelompok menyetujuinya.

( De Vito, 1997 : 308 ).

Beberapa penjelasan di atas mengenai pengambilan keputusan dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan dan tidak boleh sembarangan. Ada proses ataupun tatacacara yang diatur sedemikian rupa oleh kelompok masing-masing. Proses memutuskan satu hal di dalam kelompok adalah proses yang tidak mudah. apalagi bila dalam kelompok tersebut berkumpul orang-orang yang sangat ahli dalam bidangnya. Disamping itu pada kelompok yang sangat kohesif sering muncul Groupthink. Kecenderungan terjadinya groupthink dalam kelompok akan dibahas melalui uraian berikut ini.

Groupthink dalam komunikasi kelompok.

Konsep groupthink merupakan hasil dari kohesivitas dalam kelompok yang pertama kali dibahas secara mendalam oleh Kurt Lewin di tahun 1930. Sejak tahun itu groupthink dilihat sebagai bagian penting bagi efektifitas kelompok. Lahirnya konsep groupthink di dorong oleh kajian mendalam mengenai komunikasi kelompok yang dikembangkan oleh Raymond Cattel. Beliau melakukan penelitian yang memfokuskan pada kepribadian kelompok sebagai tahap awal. Selanjutnya geroupthink dirumuskan menjadi teori groupthink dari penelitian jangka panjang oleh Irvin L. Janis. Ia memfokuskan penelitiannya pada kelompok pemecahan masalah ( problem solving group ) dan kelompok yang berorientasi pada tugas ( task oriented group ). Karyanya “ Victims of Groupthink : A psychological Stusy of Foreign Decisions and Fiascoes ( 1972 ). Secara jelas Janis menyatakan Groupthink itu sebagai mode berfikir sekelompok orang yang sifatnya kohesif ( terpadu ), ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat ( kebulatan suara ) telah mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternative-alternatif tindakan secara realistis. ( Adha, 2013 : 1 ). Sementara groupthink menurut Rakhmat ( 2005 ) adalah proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, dimana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak efektif lagi.

Beberapa asumsi penting dari groupthink yaitu 1) terdapat kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mempromosikan kohesivitas yang tinggi. 2). pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses menyatu. 3). kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok seringkali bersifat kompleks. ( West & Turner, 2007 : 276 ).

Asumsi pertama menyatakan bahwa kelompok memiliki karakteristik yaitu kohesivitas. Pengertian kohesivitas mengacu semangat kebersamaan ( esprit de corps ) yang tinggi, dimana secara anggota kelompok memiliki kemauan untuk saling bekerjasama dalam batas-batas tertentu. Adanya kohesivitas ini membuat anggota kelompok menjadi bersatu, seumpama lem yang mampu merekatkan satu sama lainnya.

Asumsi kedua menyatakan bahwa persoalan pemecahan masalah yang terjadi dalam kelompok merupakan kegiatan yang selalu ada dalam kelompok kecil. Anggota-anggota di dalam kelompok kecil akan berusaha untuk saling berhubungan satu sama lainnya. setiap anggota kelompok akan benar-benar berpartisipasi karena sesungguhnya mereka takut mengalami penolakan. Kondisi ini membuat anggota kelompok cenderung menahan masukan dari orang lain karena mereka takut mengalami penolakan. Mereka memliki kecenderungan untuk memelihara hubungan antar anggota kelompok daripada memfokuskan perhatiannya pada issue-issue yang masih dipertimbangkan oleh kelompok.

Asumsi ketiga mengacu pada situasi yang terjadi pada kelompok pengambilan keputusan dan kelompok yang berorientasi pada tugas. Proses pengambilan keputusan pada kelompok kecil seringkali bersifat kompleks. Perbedaan usia, sifat kompetitif, ukuran kelompok, kecerdasan, komposisi gender dan gaya kepemimpinan adalah beberapa hal yang menjadi penyebab kompleksnya pengambilan keputusan tersebut. Selain itu latar belakang budaya yang dimiliki oleh masing-masing anggota turut membuat proses pengambilan keputusan menjadi tidak mudah. kelompok dan keputusan kelompok akhirnya menjadi proses yang sulit dan menantang, tetapi melalui kerja kelompok orang dapat mencapai tujuannya dengan lebih baik dan efesien.

Apabila ditelusuri lebih jauh, maka sering muncul pertanyaan apa yang menjadi penyebab munculnya groupthink ini? Janis menyebutkan ada tiga kondisi yang mendorong terjadinya groupthink 1) adanya kohesivitas yang sangat tinggi dari kelompok 2). faktor struktural dari kelompok 3). adanya tekanan kelompok. ( West & Turner, 2007 : 279 ). Uraian lebih rinci akan dipaparkan pada penjelasan berikut.

Kelompok memiliki kohesivitas yang berbeda satu sama lainnya. Ada kelompok yang memiliki tingkat kohesivitas yang biasa , namun adapula kelompok yang memiliki tingkat kohesivitas yang tinggi. tingkat kohesiv yang berbeda ternyata menimbulkan hasil yang berbeda. kelompok yang memiliki kohesivitas tinggi akan mampu dan antusias dalam melaksanakan tugas mereka. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa adanya kepuasan dari anggota kelompok berhubungan dengan tingkat kohesivitas yang tinggi. Hal semacam ini tentu saja menguntungkan bagi kelompok. Namun ditemukan pula bahwa tingkat kohesivitas ternyata membawa hasil yang kurang baik bagi kelompok.

Hal ini karena tingkat kohesivitas yang tinggi member tekanan kepada anggota kelompoknya untuk menaati apa yang sudah menjadi keputusan kelompok. Setiap anggota kelompok akan sangat menjaga agar tidak memunculkan pendapat yang berbeda dengan anggota lainnya. Biasanya anggota kelompok tidak bersedia mengemukakan keberatannya mengenai solusi yang dianggapnya tidak cocok. Situasi semacam ini sering terjadi dalam kelompok. Setiap anggota tidak mau mengambil resiko, apabila ia berbeda dengan keputusan yang diambil kelompok maka seolah-olah ia akan dianggap sebagai orang yang aneh dan bisa saja akan dikucilkan oleh anggota lainnya.

Selanjutanya faktor struktural merupakan faktor lain yang menyebabkan terjadinya groupthink. Faktor ini meliputi : isolasi kelompok, kurangnya kepemimpinan, kurangnya prosedur dalam mengambil keputusan. Isolasi kelompok maksudnya adalah saat dimana kelompok berusaha tidak dipengaruhi oleh dunia di luarnya. Kondisi ini mengakibatkan mereka menjadi kebal dengan situasi yang terjadi di luar kelompoknya. Bahkan pada saat ada orang luar yang mampu membantu dalam mengambil keputusan mereka akan mengabaikannya. Mereka begitu kuat untuk tidak terpengaruh. Situasi semacam ini tentu saja tidak selalu baik untuk diterapkan. bagaimanapun setiap kelompok seharusnya tidak buta terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Utamanya pada saat mengambil keputusan, kelompok memerlukan masukan yang berarti sehingga apa yang akan diputuskan dapat berakibat baik bagi kelompoknya.

Kepemimpinan yang imparsial adalah kepemimpinan yang memiliki minat pribadi terhadap hasil akhir. Seorang pemimpin yang memutuskan sendiri satu persoalan dan mengabaikan masukan dari anggotanya akan menyebabkan terjadinya groupthink. Apabila pemimpin telah memutuskan sesuatu biasanya anggota hanya bersikap taat mengikuti apa yang sudah diputuskan oleh pemimpinnya. meskipun menurut pandangan anggota kelompok terdapat kekurangan, atau rasa kurang setuju terhadap keputusan tersebut. Namun apabila sang pemimpin memiliki keutusan yang telah bulat terhadap hasil akhir, maka anggota tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

Selain kedua hal tersebut di atas kurangnya prosedur dalam pengambilan keputusan dapat menyebabkan munculnya groupthink. beberapa kelompok memiliki banyak prosedur yang telah disusun sedemikian rupa dalam mengambil keputusan penting dan beberapa kelompok hanya memiliki sedikit prosedu. Prosedur memang diperlukan apabila satu kelompok akan memutuskan satu persoalan.Hal ini karena apa yang sudah diputuskan akan membawa konsekkuensi tertentu. Apabila hasilnya baik tentu saja prosedur pengambilan keputusannya dinyatakan sudah tepat. namun bila hasil yang dihadapi buruk, tentu saja prosedur pengambilan keputusannya mendapat perhatian dan harus diperbaiki. Pengambilan keputusan tidak bisa dipengaruhi oleh suara dominan yang ada dalam kelompok. Tidak pula bisa dipengaruhi oleh suara dominan dari orang yang menduduki posisi penting. Oleh sebab itu prosedur yang tepat dapat meminimalisir terjadinya kesalahan dalam pengambilan keputusan.

 

Faktor terakhir yang menyebabkan terjadinya groupthink adalah tekanan kelompok. Tekanan ini dapat berupa dorongan yang kuat dari dalam ( internal ) maupun dari luar ( eksternal ). Saat memutuskan sesuatu hal di dalam kelompok biasanya akan muncul tekanan tinggi baik dari dalam maupun dari luar. Tekanan dari luar dating dari orang yang amat berkepentingan,misalnya dosen anda yang menginginkan tugas harus selesai dalam dua hari. Hal ini mengakibatkan anda dan kelompok anda cenderung untuk menyetujuinya. Begitupula saat ada desakan dari anggota kelompok untuk mengambil keputusan yang cepat, biasanya akan mendapat persetujuan tanpa banyak hambatan. Situasi semacam ini sering terjadi di dalam kelompok sehingga ada anggota yang tidak dapat menguasai emosi mereka.

 

Setelah membahas asumsi dan penyebab terjadinya groupthink, selanjutnya akan diuraikan gejala groupthink di dalam kelompok. Beberapa gejala yang bisa diamati dapat berupa 1). penilaian yang berlebihan terhadap kelompok. Hal ini mengandung pengertian ada keyakinan yang keliru bahwa satu kelompok lebih dari kelompok yang lain. 2). Ilusi akan kerentanan maksudnya adalah rasa keyakinan yang dimiliki bahwa mereka cukup istimewa dan bisa dapat mengatasi rintangan yang dihadapi kelompok. 3). keyakinan akan moralitas yang tertanam dalam kelompok. Setiap anggota kelompok merasa bahwa mereka memiliki sifat bijaksana dan baik. Hal ini tentu saja akan menghasilkan keputusan yang baik pula. 4). ketertutupan fikiran mengandung arti bahwa kelompok tidak mengindahkan adanya perbedaan diantara anggota kelompok. dan mereka tidak mengenal adanya keputusan kelompok yang tidak baik. 5). stereotip kelompok luar menganggap bahwa kelompok yang ada di luar mereka sebagai musuh atau kompetitor. 6). rasionalisasi kolektif menngandung makna bahwa anggota-anggota kelompok tidak mengindahkan peringatan yang diberikan atas keputusan yang telah diambil. 7) tekanan untuk mencapai keseragaman dimana semua anggota kelompok berusaha menjaga hubungan baik antar anggota sehingga mereka cenderung untuk melakukan suara yang bulat dalam mengambil putusan.

Penutup

Uraian-uraian di atas menyimpulkan bahwa groupthink adalah satu hal yang seharusnya dicegah agar tidak terjadi dalam satu kelompok. Beberapa peristiwa terkenal yang membawa kerugian pernah terjadi akibat groupthink ini. Peristiwa meledaknya “ pesawat Challenger” merupakan akibat dari penga,bilan keputusan yang salah dalam kelompok. Demikian pula peristiwa “pesawat Colombia “ adalah akibat dari berjalannya prinsip groupthink pada waktu itu. Beberapa peristiwa di dalam negeri dapat pula diambil sebagai contoh. Seperti ; keberadaan ketua dalam partai politik yang sangat dominan, sehingga anggota cenderung mengikuti dan menganggap benar apa yang sudah diputuskan oleh ketuanya.

Banyak cara yang dapat dipergunakan untuk mencegah terjadinya groupthink. Setiap kelompok memerlukan adanya supervisi dan pengawasan dengan cara mengembangkan sumberdaya yang pro aktif memonitor proses pembuatan kebijakan/keputusan. Langkah selanjutnya adalah mendukung adanya pelaporan bila terjadi kecurangan. Setiap anggota kelompok menghindari kekhawatiran dan tetap menanyakan apabila ada sesuatu jawaban yang tidak memuaskan dari proses pengambilan keputusan. Kemudian anggota kelompok diizinkan untuk menyatakan keberatan. hal ini penting untuk memberi ruang yang bebas pada anggota kelompok dan memberi keleluasaan pada mereka untuk menyampaikan apa yang menjadi pemikirannya. Dan yang terakhir adalah berusaha menciptakan adanya keseimbangan dengan cara mengurangi tekanan pada kelompok minoritas dalam kelompok, dan selalu medukung munculnya banyak pendapat dalam rangka pengambilan keputusan.

DAFTAR PUSTAKA

Adha, Syamsul, STTP, 2013. Teori Pemikiran Kelompok ( Groupthink ), Tugas PIK, Magister Komunikasi FISIP USU.

Bungin, Burhan, 2007. Sosiologi Komunikasi, Teori, Paradigma dan diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat, Jakarta : Kencana

De Vito, Yoseph.A. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta : Proffesional Books

Fiezry Lubis, Reza. 2013. Komunikasi Kelompok pada Komunitas Musik Indie, Skripsi Departemen Ilmu Komunikasi.

Lisdi. P, Siregar, M. Iqbal. 2013. Groupthink dalam komunikasi Kelompok. Skripsi Departemen Ilmu Komunikasi.

Mulyana, Deddy. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bandung : Remaja Rosda Karya

Rahmat, Jalaludin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosda Karya

Sendjaja, Sasa Djuarsa. 2004. Teori Komunikasi. Jakarta : Universitas Terbuka

Wiryono. 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : Gramedia Widiasara

West. Richard. Turner. Lynn.H. 2007. Teori Komunikasi Analisa Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika