Oleh : Dra. Mazdalifah, PhD

PENDAHULUAN
Mencermati judul di atas sepertinya kita mengakui bahwa perempuan belum mendapat tempat yang sepatutnya dalam organisasi. padahal ramalan futurolog John Naisbitt dan Patricia Aburdens dalam Megatrend 2000 menyatakan bahwa pada abad 21 adalah abadnya kaum perempuan. maksudnya adalah perempuan akan menempati posisi penting disegala bidang, dan bahkan tidak mungkin perempuan akan menjadi pemimpin. Terbuktikah ramalan itu?

Jika kita melihat beberapa tahun kemudian, ramalan menunjukkan memang bahwa banyak perempuan terlibat dalam organisasi. Apakah organisasi besar atau organisasi yang kecil. Baik berperan sebagai pengambil keputusan ataupun berperan sebagai pelaksana. Namun jika kita mencermati lebih teliti lagi, dan menilai secara kualitatif kita harus berbesar hati mengakui bahwa masih banyak peran perempuan dalam organisasi tersebut hanyalah sebagai bunga-bunga saja. Perempuan belum menjadi subjek dalam organisasi yang dimasukinya.

Fenomena ini tentu saja membuat kita miris, dan mencuatkan beraneka pertanyaan : Apakah yang salah? Apakah organisasi yang kurang memberi kesempatan pada perempuan? Ataukah perempuan tidak memiliki keterampilan sehingga secara kualitas perempuan dianggap tidak mampu? Dan bagaimana caranya agar perempuan memiliki kekuatan untuk menjadi subjek dalam organisasi? Aneka pertanyaan ini cukup menggelitik kita, dan dalam rangka memperingati hari KArtini marilah kita coba menelaahnya lebih mendalam.

PEREMPUAN DALAM ORGANISASI

Sebelum kita membahas mengenai perempuan dalam organisasi, ada baiknya jika kita mengetahui lebih dahulu tentang organisasi. De Vito (1997) menyatakan bahwa organisasi adalah sebuah kelompok individu yang diorganisir untuk mencapai tujuan tertentu. Jumlah individu sangat bervariasi ada 2 orang atau 3 orang, ada juga yang 100 orang. Atau bahkan ribuan orang. Yang penting dalam hal ini mereka bekerja dalam struktur tertentu. Smentara itu apa yang menjadi tujuan organisasi tentu saja berbeda-beda. Amat tergantung dari jenis organisasinya. Ada organisasi yang tujuannya mengambil keuntungan ada pula yang tidak mencari keuntungan. Perusahaan besar seperti Indo Food termasuk dalam kategori pertama, sementara organisasi HMI termasuk dalam kategori kedua.

Dalam sebuah organisasi yang tidak mencari keuntungan tujuannya dapat dijabarkan seperti berikut :

1. memberi bantuan kepada orang miskin

2. mempertahankan satwa tertentu

3. mencapai kualitas tertentu bagi anggotanya

4. melestarikan budaya tertentu

5. dan lain sebagainya

Keterlibatan perempuan dalam organisasi sesungguhnya telah dimulai sejak KArtini wafat pada tahun 1904. Banyak organisasi perempuan berdiri yang kesemuanya bertujuan untuk memberi pendidikan bagi gadis-gadis pribumi untuk menjadi cerdas. Dimana-mana berdiri sekolah khusus untuk anak-anak perempuan dan organisasi perempuan. Kemudian pada zaman Jepang organisasi tersebut dibubarkan, hanya ada satu yaitu FUYINKAI yang pengaturannya di bawah kendali pemerintah Jepang. Setelah Indonesia merdeka perempuan Indonesia banyak terlibat pada organisasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Sampai kini perempuan telah banyak terlibat dalam organisasi baik profit maupun non profit.

Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan tertinggi yang menghasilkan intelektual yang bisa menjawab tantangan zaman. Oleh sebab itu sebuah organisasi di perguruan tinggi baik intra maupun ekstra, tidak bisa berpaling jauh dari tujuan utamanya. Sebagai contoh, saat HMI didirikan tujuan utamanya adalah untuk menghimpun seluruh mahasiswa Islam dan menghasilkan intelektual muslim yang berkualitas baik dari sisi pemikiran dan perilaku.

Saat perempaun yang berstatus sebagai mahasiswa memilih organisasi kemahasiswaan sebagai tempat aktualisasi dirinya, maka perempuan tersebut harus berupaya untuk mencapai tujuan organisasi yaitu menjadi seorang calon intelektual atau paling tidak mengasah pikiran menjadi kritis. Masalahnya adalah sedikit sekali mahasiswa perempuan mencapainya. Padahal jika diamati bukan tidak ada kesempatan untuk menjadi pemikir atau konseptor. Perempuan terkadang alergi untuk berfikir rumit. Dan sebetulnya inilah yang ditangkap oleh pimpinan organisasi kemahasiswaan, sehingga akhirnya perempuan ditempatkan pada seksi konsumsi, seksi dana, seksi hias menghias, yang memang dekat dengan keseharian mereka.

Mahasiswa perempuan dewasa ini memiliki kecerdasan yang cukup tinggi, dan bahkan dalam berbagai kesempatan prestasinya mengalahkan mahasiswa laki-laki. Sehingga dapat dikatakan mahasiswa perempuan cukup punya modal untuk memikirkan hal yang berat0berat. Tentu saja jika memiliki kemauan yang kuat, akhirnya dapat menjadi seorang konseptor yang unggul.