Oleh : Dra. Mazdalifah, Msi, PhD

Haji merupakan ibadah yang wajib dilakukan oleh seorang muslim bila ia mampu. Posisinya sebagai rukun Islam yang terakhir, membuat posisi haji sebagai penyempurnaan ibadah  seorang muslim.

Apakah setiap muslim yang telah menunaikan ibadah haji lantas menjadi hamba yang sempurna di mata Allah? Atau hamba yang tidak mampu menunaikannya dianggap tidak sempurna ? Tentu saja cara berfikirnya tidak sesederhana  itu. Yang harus diingat bahwa kewajiban haji hanya berlaku bagi hambaNya yang dianggap mampu. Mampu secara financial, mampu secara waktu dan mampu melakukannya dengan tata cara yang telah ditentukan.
Sebuah penyempurnaan sifatnya melengkapi apa yang sudah ada , yang sudah dilakukan, sehingga menjadi lebih baik dan bagus . Demikian pula dengan ibadah haji, selayaknya ia melengkapi ibadah-ibadah yang sudah kita lakukan selama ini dan membuatnya menjadi lengkap dan menjadi lebih baik. Artinya sebagai manusia, saat ia telah melakukan ibadah haji hendaknya ia menjadi lebih baik dan lebih bagus lagi dalam segala hal. Apakah dalam bentuk pemikiran, sikap maupun perbuatannya. Ini yang sering di sebut orang sebagai haji yang MAMBRUR.

Apakah setiap hamba Allah yang menunaikan ibadah haji menjadi haji yang Mabrur ?  Sebuah pertanyaan yang sering muncul dan memerlukan pembuktian oleh orang yang bersangkutan. Apabila ia telah mencapai haji yang mabrur boleh dikata bahwa ia telah mencapai kesempurnaan sebagai hamba Allah SWT.
Mencapai kesempurnaan itu tidaklah mudah. Harus diupayakan sedemikian rupa dengan usaha dan kerja keras. Demikian pula dalam ibadah haji, untuk mencapai kesempurnaan tidaklah semudah membalik telapak tangan. banyak faktor yang mempengaruhi , diantaranya faktor diri, dan faktor  pendukung yang ada disekitarnya spt : keluarga, lembaga, dsb.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ibadah haji menjadi sempurna diantaranya :

  • bekal niat dan tekat
  • bekal materi
  • bekal ilmu
  • bekal kawan yang baik dalam perjalanan
  • taqwa adalah bekal terbaik perjalanan haji

Niat dan tekat berangkat haji harus ditetapkan dari awal tanpa keraguan. Sebaik-baik niat semata-mata karena Allah SWT. Tidak boleh melekat tujuan duniawi, semisal supaya lebih keren ada title hajinya, atau merasa diri lebih lebat karena mampu pergi haji.  Saat mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji harus bulat tekat dan tidak ragu bahwa ia nantinya bisa berangkat.
Bekal materi meliputi bekal makanan, pakaian, keperluan diperjalanan spt kenderaan atau pondokan. Hal ini perlu disiapkan agar saat menjalankan ibadah haji kita tdk terlunta-lunta atau meminta-minta. Semua itu menjaga agar diri kita tetap terhormat dalam menjalankan ibadah. Bekal materi juga bukan hanya berlaku bagi yang berangkat namun berlaku juga buat keluarga yang ditinggalkan . Agar keluarga tidak tersia-sia, melarat ataupun menderita saat kita pergi beribadah haji.

Bekal ilmu merupakan hal yang penting. Karena banyak jemaah haji yang berangkat tanpa membekali diri dengan pengetahuan ( ilmu ) yang memadai. ketiadaan ilmu ini membuat kita tidak bisa sempurna dalam beribadah. Dalam masyarakat Indonesia pembekalan ilmu haji sudah sangat popular yang dikenal dengan manasik haji.  Namun jangan terlalu mengharapkan sepenuhnya pada manasik haji. Sebaiknya masing-masing orang belajar secara mandiri , mencari informasi lewat buku, internet, majalah, Koran atau bahkan kepada orang secara langsung untuk menambah ilmu tentang haji.

Bekal teman/kawan yang baik dalam perjalanan. Bekal ini tidak kalah pentingnya dengan bekal yang lain. Karena perjalanan haji adalah perjalanan yang panjang, maka tidak terelakkan kita akan banyak berinteraksi dengan orang lain. Kawan yang baik dalam perjalanan akan menjaga kita dari berbagai perbuatan sia-sia dan tidak bermanfaat. Menemukan kawan yang baik akan menuntun kita menuju kesempurnaan ibadah haji.

Dan yang terakhir  sebaik-baik  bekal adalah rasa takwa kita kepada Allah SWT. Karena perjalanan haji adalah perjalanan yang selalu ada kesulitan dan ujian di dalamnya. Oleh sebab itu beberapa nilai takwa yang harus menjadi pegangan seperti : ketawakalan, kerendah hatian, kesabaran, dan pengorbanan.
Mencermati beberapa uraian tersebut di atas kita akhirnya dapat menilai ibadah haji yang telah kita lakukan. Adakah semua faktor tersebut kita siapkan dan temukan selama perjalanan haji kita? Jawabannya tentu saja terpulang pada diri masing-masing. Dan apakah kini telah menjadi hamba Allah SWT yang sempurna? Jawabannya juga terpulang pada diri kita. Hanya yang pasti sebagai umatnya : kesempurnaan tersebut harus kita capai apakah saat ini, esok, atau pada masa akan datang.  Kesempurnaan itu akan menjadikan kita hamba Allah SWT yang bertakwa.

image

image

image

image

image

image

image

image

image