Oleh : Mazdalifah, PhD

                Siapa yang tak kenal televisi ? Mungkin akan sulit bagi kita menemukan orang yang tidak kenal televisi. Alasannya adalah televisi  media yang amat populer. Media ini layaknya selebritis , memiliki banyak pengagum, dipuja dan dipuji karena keunggulan ataupun prestasinya. Namun tak jarang pula mendapat hujatan disana-sini. Banyak julukan diberikan kepada media ini, ada yang menyebutnya sebagai ‘ Kotak Idiot  ( idiot box ) Adapula yang menjulukinya sebagai Jendela Dunia ( Window of world ), serta ada  yang menyebutnya sebagai Tuhan Kedua ( The Second God  ).

Kehadiran televisi dalam kehidupan masyarakat dewasa ini dianggap sebagai pedang bermata ganda. Satu sisi media ini dianggap sebagai penyelamat, karena memiliki pengaruh yang baik, yaitu dengan jalan memberikan informasi berguna. Sisi lainnya dianggap pula sebagai penghancur, karena dianggap memiliki pengaruh buruk. Televisi dianggap membuat khalayak penontonnya menjadi konsumtif, agresif, dan sebagainya.

Mengutip pernyataan Graeme Burton ( 2007 )  bahwa  media televisi merupakan media yang dapat menghasilkan sampah dan dapatpula menghasilkan sesuatu yang berkualitas secara bersamaan.  Berdasarkan pendapat Graeme ini, kita  melihat bahwa televisi memiliki wajah paradoks, memiliki sisi yang saling bertolak belakang. Bermanfaat sekaligus merugikan. Sebagai khalayak penikmat setia televisi, bagaimana kita menanggapi hal ini ? Hal yang paling diharapkan adalah kita dapat memahami media ini terutama wajah baiknya,  sehingga diharapkan  dapat memaksimalkan  televisi untuk sesuatu yang berguna.

Sesungguhnya alasan yang paling masuk akal , dikarenakan  televisi merupakan media yang paling luas di konsumsi masyarakat Indonesia, jenis media ini sebagai media audio visual , tidak membebani banyak syarat bagi masyarakat untuk menikmatinya. Untuk masyarakat Indonesia yang lebih kuat budaya lisan, media televisi tidak memiliki jarak jauh. Menonton televisi berbeda dengan budaya baca tulis. Keinginan untuk membeli televisi lebih tinggi daripada keinginan untuk membeli buku bacaan. ( Wirodono, 2005 )

Fenomena dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa apa yang dikritisi oleh Wirodono benar adanya.  Bahwa budaya menonton begitu melekat, dibandingkan dengan budaya membaca. Bahwa masyarakat lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menonton televisi, daripada membaca buku, koran atau majalah.  Jika kita amati lebih mendalam, hampir tiap rumah memiliki televisi. Bahkan adapula dalam satu rumah memiliki dua sampai tiga buah televisi. Tempat favorit keluarga Indonesia meletakkan televisi adalah di ruang keluarga. Ruang dimana semua anggota sering berkumpul bercengkerama, sambil menikmati televisi. Kalau ada keluarga yang tidak memiliki televisi dianggap kuno, ketinggalan zaman, atau bahkan danggap amat miskin.

Selanjutnya Wirodono menyatakan bahwa televisi saat ini telah menjadi media keluarga, telah menjadi salah satu pra syarat yang “harus” berada di tengah-tengah mereka. Sebuah rumah baru dikatakan lengkap jika ada pesawat televisi di dalamnya. Hal ini tidak hanya berlaku pada masyarakat kota yang relatif kaya, melainkan telah merambah ke pelosok-pelososk desa, di rumah-rumah hunian liar, di pinggir-pinggir sungai kota, ataupun di bawah jembatan layang.

Sedemikian massifnya kehadiran televisi, sehingga media ini layak disebut sebagai “primadona” diantara media lainnya. Kehadiran televisi dalam kehidupan masyarakat telah memberikan pengaruh yang luar biasa, apalagi bau kapitalistiknya yang disitir oleh Wirodono, langsung dan tidak langsung berpengaruh pada perilaku dan pola pikir masyarakat Indonesia.

Wajah cantik penuh senyum dari Televisi

Wajah penuh senyum   memungkinkan kita mendapatkan manfaat yang amat besar dari televisi. Dalam istilah komunikasi dikenal dengan efek prososial kognitif. Artinya media massa termasuk televisi memiliki manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat. Sebagai contoh : melalui televisi anak kita menjadi lebih paham tentang bahasa Indonseia yang baik dan benar. Melalui televisi kita mengetahui proses pemilihan presiden di Amerika Serikat. Kita menjadi tahu bahwa ada dua orang calon presiden Obama dari partai Demokrat dan Mc. Cain dari Partai Republik. Dari televisi pula mbok Parmi tahu bahwa ada menteri perempuan di Indonesia yang bernama Sri Mulyani.

Gambaran ini sejalan dengan pernyataan dari Mc. Luhan. Ia  memberikan pendapatnya tentang  media massa termasuk televisi : bahwa media massa adalah perpanjangan alat indra kita. Dengan media massa kita mendapatkan info tentang benda, orang atau tempat yang belum kita ketahui ( Ardianto & Erdinaya, 2007)  Hal senada disampaikan pula oleh Yoshua Meyrowitz dalam bukunya yang berjudul No, Sense of Place : The Impact of Electronic Media on Social Behavior, bahwa televisi membawa pengalaman ke rumah kita dari kebudayaan-kebudayaan lain, dan sudah tentu dari masyarakat kita sendiri .

Selain menambah pengetahuan khalayaknya tentang berbagai hal, televisi memberi pengaruh pula pada sikap dan perasaan, yang dikenal dengan efek afektif. Secara emosional kita menjadi senang, terhibur , dan suka terhadap sesuatu. Menonton televisi sering menjadi pilihan utama banyak orang saat berada dalam suasana bad mood. Paling tidak dengan menonton televisi kita dapat melupakan sejenak persoalan yang rumit, tenggelam dalam cerita film dan membuat kita terhibur. Seorang anak berhenti menangis setelah   menonton film kartun Winny  and The Pooh. Kaum bapak melupakan sejenak beban ekonomi keluarga, hanyut dalam suasana menegangkan saat menonton tim favoritnya bertanding di Liga Inggris. Tince merasa amat bahagia karena idolanya berhasil menjuarai “ Indonesian Idol “. Dan banyak lagi contoh lainnya, yang menunjukkan bahwa televisi mampu mengharu biru perasaan penontonnya.

Media televisi dapat pula mengakibatkan perubahan pada perilaku penonton. Tentu kita masih ingat, beberapa tahun lalu ada iklan kampanye PIN ( Pekan Imunisasi Nasional ). Tokoh dalam iklan tersebut adalah Rano Karno, yang dikenal lewat sinetron Si Doel Anak Jakarta. Penayangan iklan secara terus menerus, berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu ternyata ampuh untuk mempengaruhi masyarakat.. Tanpa menafikan adanya peran komunikasi interpersonal, harus diakui televisi sebagai media massa ternyata mampu mempengaruhi perilaku masyarakat, sehingga  datang berduyun-duyun ke lokasi imunisasi.

Dominick dalam Ardianto & Ardinaya ( 2007 ) menyatakan bahwa televisi menjadi agen sosialisasi dalam masyarakat. Artinya bahwa televisi dapat menyebarluaskan nilai-nilai, gagasan, pemikiran kepada masyarakat luas tentang satu hal. Penyebarluasan informasi ini sampai ke masyarakat, dan diharapkan masyarakat dapat bertambah pengetahuan, sikap dan perilakunya tentang satu hal.

Wajah Muram penuh airmata dari Televisi

Jika ada yang mengandaikan bahwa televisi memiliki wajah  muram penuh airmata,  mungkin bagi beberapa orang  terasa hiperbolis. Terlalu berlebihan menganggap televisi sebagai media yang buruk. Namun sebagai penikmat media sebaiknya kita harus benar-benar memperhatikan. pernyataan ini. Mengapa demikian ? Karena meskipun televisi bukanlah satu-satunya sarana yang membentuk pandangan kita tentang dunia, televisi merupakan salah satu media yang paling ampuh, terutama bila kontak dengan televisi sangat sering dan berlangsung dalam waktu lama. ( Ardianto& Erdinaya , 2007 ).

Pendapat ini dapat menjelaskan  kepada kita tentang munculnya perilaku kekerasan masyarakat yang sering muncul akhir-akhir ini. Lihatlah, betapa masyarakat seolah begitu gemar menggunakan berbagai cara kekerasan, entah itu dalam bentuk verbal atau dalam bentuk perilaku. Misalnya, saat berunjuk rasa sering kita saksikan  massa  merubuhkan pagar secara beramai-ramai. Bukan itu saja, aksi lempar melempar, pukul memukul, caci maki, bahkan  aksi kejar mengejar, secara rutin muncul dalam tayangan berita.  Munculnya perilaku ini tidak mungkin  tanpa penyebab sama sekali. Salah satu kemungkinannya karena  pemunculan  tayangan demonstrasi di televisi  sejak tahun 1998. Saat itu masyarakat setiap hari  menyaksikan  berita di televisi yang menayangkan aksi demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan dan kekerasan. Masyarakat akhirnya belajar kekerasan lewat media televisi.

Douglas Ruskoff menyamakan media khususnya televisi komersial sebagai Media Virus. Media dianggap menginfeksikan “ virus budaya ke benak atau kesadaran pemirsanya “ ( Budi Asih, 2005 ) . Pendapat Ruskoff ini seharusnya mampu menyadarkan kita semua, bahwa televisi bukanlah media yang aman-aman saja dikonsumsi. Apalagi bila kita mengkonsumsi media ini tanpa filter sama sekali. Dalam waktu lama, pelan tapi pasti televisi siap menyebarkan virus ke seluruh tubuh kita. Lihatlah betapa masyarakat kita dari hari kehari semakin permissif saja. Korupsi seolah-olah sudah menjadi budaya hidup dan dianggap seperti perbuatan biasa, bahkan kalau ada pejabat yang tidak korupsi dianggap aneh. Budaya selingkuh makin marak, bagi kalangan tertentu dianggap trend dan prestasi tersendiri, karena mampu memiliki pasangan lain yang lebih muda, segar , cantik dan menggairahkan. Cara berpakaian yang semakin nyeleneh, minim bahan kain dan serba terbuka. Mode seperti ini dianggap sedang “in” karena televisi menampilkannya sebagai model yang paling top .Remaja kitapun ramai-ramai menirunya, tanpa  malu  memamerkan aurat di depan umum sekalipun.

Seluruh perilaku yang di sebutkan di atas, pada perkembangan ke kiniannya telah menjadi budaya masyarakat. Korupsi, selingkuh, mode pakaian, kekerasan, dan sebagainya telah diadopsi masyarakat kita lewat lingkungan di sekitarnya termasuk televisi. Sumbangan televisi harus diakui sedikit banyaknya telah mampu merubah masyarakat kita. Wajah  muram televisi ternyata telah menjadi wajah keseharian masyarakat kita. Wajah muram pada akhirnya akan menitikkan airmata kesedihan, manakala akibat dari tayangan televisi tersebut telah menhasilkan pejabat korup, suami selingkuh, remaja serba minimalis, dan masyarakat yang cinta kekerasan.

Penutup

Pemaparan tentang wajah Paradoks yang dimiliki oleh televisi, kiranya dapat menjadi masukan bagi kita selaku penikmat setia media ini. Informasi yang jelas dan gamblang mengenai media televisi, kiranya dapat menjadi panduan bagi orang tua dan orang dewasa lainnya untuk peduli terhadap akibat yang  muncul , baik maupun buruk. Diharapkan bahwa kita dapat memaksimalkan sisi positif  dari televisi , jangan biarkan televisi mengendalikan hidup anda. Selamat menonton televisi.!

Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU

*Tulisan ini dibuat pada tahun 2009, untuk keperluan penerbitan buku media literasi keluarga