Oleh : Mazdalifah,PhD

Setelah pada bagian pertama anda mendapat penjelasan tentang televisi , kini saatnya anda mendapatkan penjelasan mengenai plus minusnya media ini. Penjelasan mengenai plusnya televisi akan berkaitan dengan hal yang yang positif , sementara penjelasan minusnya televisi akan berkaitan dengan hal negatif yang dapat ditimbulkan dari televisi. Penjelasan ini senada dengan pendapat yang menyatakan bahwa televisi bak pedang bermata dua, yaitu dapat bermakna positif dan negatif sekaligus.

Seperti yang telah dijelaskan bahwa televisi dianggap sebagai media massa yang ampuh, karena memiliki daya tarik yang kuat. Daya tarik tersebut dibentuk oleh unsur kata, musik, pengaruh suara, warna , dan gambar hidup. Gambar hidup mampu menimbulkan kesan mendalam pada pemirsanya. Karena kelebihannya ini perusahaan sering memanfaatkan televisi sebagai media promosi, menggunakan iklan sebagai alat untuk memperkenalkan dan menarik minat orang yang membeli produk yang mereka tawarkan.

Periset Alan Rubin ( dalam Devito 1997 ) menyelidiki alasan-alasan yang mendasari mengapa orang mau menonton televisi. Ada enam alasan yang ditemukan yaitu : untuk belajar, untuk melewati waktu luang, untuk persahabatan , untuk melupakan, untuk rangsangan dan untuk relaksasi. Salah satu alasan atau bahkan lebih, anda miliki saat menonton televisi. Namun biasanya yang paling menonjol yang ditemukan pada masyarakat adalah alasan untuk melewati waktu luang dan untuk relaksasi. Sangat sedikit sekali yang mengemukakan alasan untuk belajar. Padahal sebenarnya televisi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar untuk menambah pengetahuan.

Secara teoritis televisi termasuk ke dalam bentuk komunikasi massa. Alexis Tan ( dalam Nurudin, 2007 ) menyatakan bahwa fungsi komunikasi massa ada empat. Fungsi yang pertama adalah memberi informasi, kedua mendidik, ketiga mempersuasi dan yang keempat adalah fungsi menyenangkan/menghibur. Dari uraian ini bisa disimpulkan bahwa televisi juga memiliki fungsi yang sama. Berbicara mengenai fungsi itu sama artinya dengan menggolongkannya ke dalam hal yang bersifat plus..

Televisi memiliki fungsi memberi informasi maksudnya adalah lewat acara yang disiarkannya, khalayak penonton mendapat informasi yang bermanfaat tentang berbagai hal. Misalnya informasi tentang ramalan cuaca, yang bermanfaat bagi khalayak dalam merencanakan aktifitasnya. Jika diramalkan cuaca buruk nelayan akan menunda pergi ke laut. Informasi tentang adanya pemadaman listrik akan membuat khalayak beriap-siap.

Televisi memiliki fungsi mendidik dimaksudkan acara yang disiarkan dapat mendidik khalayak penontonnya menjadi lebih pintar. Disini televisi berfungsi sebagai media pembelajaran. Orang tua dapat menjadikan mata acara seperti National Geografic sebagai sarana pembelajaran bagi anaknya. Acara ini sering menampilkan tema flora dan fauna. Anak-anak dapat menyebut nama flora atau fauna yang ia kenal, bagaimana caranya bisa hidup, berkembang biak, dan bertahan hidup.

Bagi ibu-ibu acara masak memasak di televisi dapat menambah pengetahuan dan sarana belajar dalam membuat aneka menu dan panganan. Dari masakan yang sederhana sampai masakan yang sulit, dari menu ala Indonesia sampai menu ala Western atau ala China dapat dipelajari. Bukan itu saja ibu-ibu dapat menambah pengetahuan tentang giszi dan kesehatan anak, lewat berbagai acara di berbagai stasiun televisi. Tayangan semacam ini dapat menjadi sarana belajar ibu-ibu tentang gizi dan kesehatan anak, sehingga para ibu dapat menjaga, mengurus, dan memaksimalkan tumbuh kembang buah hati mereka.

Fungsi berikutnya adalah televisi memiliki fungsi mempersuasi. Fungsi ini berkaitan dengan potensi televisi sebagai media yang dapat mempengaruhi khalayak penontonnya. Tayangan iklan partai politik menjelang pemilu akan mampu mempengaruhi khalayak untuk memilih partai tersebut, apabila televisi menayangkan iklannya secara terus menerus. Contoh lain adalah tayangan sinetron religius, diyakini mampu mempengaruhi khalayak untuk berbuat dan bertingkah laku sesuai dengan ajaran agama.

Pembahasan tentang televisi sering menjadi pro dan kontra karena berkaitan dengan nilai minusnya. Banyak pakar, pemerhati, pendidik bahkan orang tua yang menyoroti hal minus yang dapat ditimbulkan oleh televisi. Sejak booming televisi di era 90 an, masing-masing stasiun televisi berlomba-lomba menyelenggarakan siaran guna menarik perhatian khalayak penonton. Sinetron, film, kuis, musik, berita, atau bahkan infotaintment memenuhi layar kaca. Sayangnya acara-acara ini sarat muatan yang kurang mendidik, seperti gaya hidup mewah dan hedonis , mistik, kekerasan, konsumerisme,dan pornografi.

Mari kita melihat tayangan sinetron Indonesia saat ini. Booming tayangan remaja telah mendorong pemilik production house untuk menghasikan sinetron remaja yang penuh gaya. Jika kita mau jujur, sesungguhnya sinetron ini bukanlah mencerminkan kepribadian remaja Indonesia. Amat sangat kentara bahwa sinetron remaja tersebut meniru atau berkiblat kepada budaya barat.

Perilaku remaja dalam bertutur kata, berpakaian, dan bergaya benar-benar meniru gaya bintang terkenal Holywood. Kemewahan dan kemegahan mendapat porsi utama, selalu ditampilkan pemeran utama menaiki mobil merk terkenal yang harganya sangat mahal. Pakaian yang menunjukkan pundak, bahu, paha sudah bukan lagi hal yang aneh. Bahkan anak sekolahpun menggunakan rok mini, dan make up yang menurut kita tidak layak bagi penampilan seorang pelajar.

Hal lain yang memprihatinkan adalah booming tayangan mistik. Tayangan semacam ini pernah merajai sinetron televisi, diamna pengemasan acaranya berlindung pada tayangan bertema religi. Sungguh menyesatkan ketika agama dicampurbaurkan dengan hal-hal yang ghaib. Dimana setan, pocong, tuyul mampu dibasmi dengan mengucapkan ayat-ayat suci , atau dengan melakukan ritual tertentu. Sesuatu yang muskil dan tidak masuk akal mendapat porsi yang cukup besar. Contohnya, manusia berubah menjadi ular, kuburan terbuka dan mengeluarkan cahaya menyilaukan, dan lain sebagainya.

Selain muatan kemewahan dan muatan mistik , tayangan televisi dipenuhi pula dengan muatan kekerasan. Acara buser, sergap, patroli, yang seyogyanya dapat membantu masyarakat agar berhati-hati terhadap tindakan kriminal, ternyata lebih banyak menampilkan adegan perampokan, penculikan, pembunuhan yang berlebihan. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat malah menjadi takut, dan pada sebahagian orang yang memiliki niat jahat menimbulkan inspirasi untuk melakukan tindakan kejahatan. Ibu=ibu menjadi paranoid, takut anaknya menjadi korban penculikan. Masyarakat menjadi lebih mudah curiga, karena takut mengalami penipuan.

Tayangan penuh kekerasan bukan saja hadir pada tayangan kriminal, melainkan pula pada tayangan berita, film, bahkan pada film kartun anak sekalipun. Berita demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan, peristiwa penembakan antar aparat adalah contoh sederhana yang paling sering muncul di televisi. Adegan kekerasan yang ringan seperti kata-kata kasar, makian, sampai kepada pemukulan, penikaman, pemerkosaan, pembakaran, pemboman, adalah hal yang biasa muncul dan dikhawatirkan kelak akan menimbulkan kekebalan. Masyarakat menjadi terbiasa dengan kekerasan dan menganggapnya sebagai hal yang biasa saja, sehingg banya persoalan yang diselesaikan dengan cara kekerasan. Fenomena seperti ini mulai melanda masyarakat, dan kekerasan seolah-olah telah menjadi trade mark.

Kritikan terhadap televisi tidak berhenti pada muatan kekerasan saja, pengaruhnya yang dapat menimbulkan budaya konsumerisme di masyarakat turut pula mendapat sorotan. Televisi merupakan media yang paling ideal untuk mempromosikan aneka produk, oleh sebab itu produsen beramai-ramai memanfatkannya. Biaya mahal tidak menjadi hambatan bagi mereka untuk jor joran mengiklankan produknya. Dari mulai produk ayam goreng sampai partai politik, berlomba-lomba menarik perhatian masyarakat.

Banyak anak Indonesia tergila-gila dengan ayam goreng Kentucky dan tidak doyan lagi dengan ayam goreng kalasan buatan ibunya. Remaja menginginkan wajah dan tubuhnya putih cemerlang bak model, hingga ia memaksakan diri membeli dan menggunakan produk pemutih yang belum tentu aman bagi kesehatan. Akibat iklan alat pelangsing tubuh para ibu berlomba membeli, meskipun alat itu hanya digunakan beberapa saat saja. Keinginan untuk membeli dan membeli lagi, telah menjadi budaya yang tren , ini berarti bahwa budaya konsumerisme telah melanda.

Seperti yang telah diuraikan bahwa televisi mampu mempengaruhi khalayak penontonnya lewat berbagai acara yang disiarkannya. Televisi memiliki seperangkat nilai, yang secara pelan dan pasti ia dapat mempengaruhi pula pola pikir dan perilaku khalayak.. Ardianto dan Erdinaya menyatakan bahwa secara pasti media massa ( dalam hal ini televisi ) mempengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak ( 2007 ). Apalagi jika tayangan tersebut selalu diulang-ulang, potensi pengaruhnya tentu sangat besar.

Burhan Bungin ( 2006 ) mengidentifikasi daftar pengaruh dari media massa ( termasuk televisi ) yang tidak diharapkan (cenderung merusak) yang memiliki andil dalam hal pembentukan sikap, perilaku dan keadaan masyarakat.

1. Penyebaran budaya global yang menyebabkan masyarakat berubah dari tradisional ke modren, dari modren ke postmodren, dan dari taat beragama ke sekuler.

2. Media massa kapitalis telah memicu hilangnya berbagai bentuk kesenian dan budaya tradisional di masyarakat yang mestinya dipelihara.

3. Terjadinya perilaku imitasi yang kadang menjurus kepada meniru hal-hal buruk dari apa yang dilihat dan ia dengar dari media massa

4. Efek media massa sering secara brutal menyerang seseorang dan merusak nama baik orang tersebut serta menjurus ke pembunuhan karakter seseorang.

5. Persaingan media massa yang tidak sehat menyebabkan media massa mengorbankan idealismenya dengan menyajikan berbagai pemberitaan yang justru menyerang norma-norma sosial sehingga menyebabkan terciptanya perilaku pelanggaran norma sosial bahkan terciptanya perilaku disorder.

6. Penyebaran pemberitaan pornomedia menyebabkan lunturnya lembaga perkawinan dan norma seks keluarga di masyarakat, bahkan memicu terbentuknya perilaku penyimpangan seksual di masyarakat.

7. Berita kekerasan dan teror di media massa telah memicu terbentuknya “ketakutan massa” di masyarakat. Masyarakat selalu merasa tidak aman, tidak menyenangkan bahkan tidak nyaman menjadi anggota masyarakat tertentu.

8. Media massa kapitalis telah sukses mengubah masyarakat dari kota sampai ke desa, menjadi masyarakat konsumerisme dan masyarakat pemimpi, masyarakat yang hidup dalam dunia seribu satu malam tanpa harus bekerja keras. Hal ini menjadi sangat kontradiksi karena di satu sisi masyarakat menjadi konsumerisme dan disatu sisi lain menjadi pemimpi dan pemalas.

9. Media massa cenderung menjadi alat provokasi sebuah kekuasaan sehingga efek media massa menindas rakyat, bahkan dalam skala luas, media massa menjadi alat kolonialisme modern, dengan memihak kepada sesuatu negara adidaya, dan menjadi genderang perang untuk memerangi negara-negara kecil dan miskin.

Berbagai uraian dan contoh di atas telah membuktikan bahwa televisi ibarat dua sisi mata uang, satu sisi memiliki nilai plus sisi lainnya memiliki sisi minus. Keputusan untuk menggunakan televisi ada ditangan kita, sebaiknya anda memilih untuk memaksimalkan nilai plus. Mudah-mudahan bila nilai plus ini telah menjadi pilihan masyarakat, kita berharap hal-hal minusnya dapat kita kurangi.

Penulis adalah Dosen  Ilmu Komunikasi FISIP USU

*Tulisan ini dibuat pada tahun 2009, untuk keperluan penerbitan buku media literasi keluarga