Tags

, , , , , , , , , , , ,

Mazdalifah Ph.D.

Pendahuluan

Berita adalah jantungnya media , tanpa berita media akan mati. Oleh sebab itu setiap media akan berupaya untuk menyajikan berita yang up to date, dan menarik, agar dapat dinikmati khalayaknya. Setiap media mempunyai ciri khas atau gaya dalam penulisan beritanya. Media suratkabar tentu saja berbeda dengan media televisi, demikianpula media radio tentu berbeda dengan media internet. Masing-masing media mempunyai keunggulan, dan diharapkan mampu mepengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat.

Besarnya potensi media dalam mempengaruhi khalayak telah disadari oleh penyelenggara negara, praktisi iklan, pengusaham LSM/NGO, dan lain sebagainya. Mc. Luhan berkata bahwa media adalah pesan ( medium is the message ) yang bermakna bahwa media adalah perluasan ide, gagasan dan pikiran terhadap kenyataan sosial ( Zakiah, 2011 ). Saat membaca media sebenarnya kita membaca arus kesadaran dan impian dalam ruang dan waktu tertentu, disinilah media dapat berperan dalam membentuk opini publiknya.

Pembentukan opini publik bermula dari berita yang dibuat oleh wartawan. Sebagai individu yang bertindak sebagai perpanjangan tangan media, wartawan memiliki seperangkat pemikiran dan kerangka acuan dalam menuliskan berita. Berdasarkan kepribadian, visi, dan missi yang dianut oleh media dimana mereka bernaung. Semua ini akan tercermin dalam bentuk berita yang mereka susun sedemikian, disampaikan secara berulang-ulang, melalui angle tertentu, sehingga akhirnya mampu membentuk opini publik kahalayaknya.

Dalam kerangka membuat dan menyusun berita inilah wartawan melakukan pembingkaian. Hal ini karena wartawan melakukan seleksi, penyaringan dan penyuntingan yang dikenal dengan nama gatekeeping. Pembingkaian ( framing ) adalah hal yang selalu terjadi dalam pemberitaan media. Adakalanya pembingkaian ini memang sengaja dilakukan untuk membentuk opini khalayak tentang satu hal. Pembingkaian berita dengan menerapkan jurnalisme empati diharapkan dapat membentuk opini publik mengenai hal-hal tertentu.

Apa itu pembingkaian ( framing ) dalam berita ?

Pembingkaian ( framing ) adalah upaya untuk melakukan konstruksi realitas dengan cara memberi penonjolan terhadap substansi – substansi persoalan dan esensi dari berbagai peristiwa yang diberitakan. ( Arifin, 2010 ) . Penonjolan tersebut disertai dengan motif dan kepentingan tertentu dari wartawan atau pemimpin redaksi sesuai dengan politik redaksi serta visi dan misi serta kerangka acuan yang sudah ditetapkan. Tujuan pembingkaian ini dapat bersifat politik atau bersifat ekonomi.

Sebagai contoh : berita tentang korupsi oleh oknum X dari partai Y menjadi berita yang hangat dan besar, karena menyangkut jumlahnya yang sangat besar , individu dan partai tertentu. Media Z dengan panjang lebar memberitakan hal ini meletakkannya sebagai headline news, selama beberapa hari. Berita ini dianalisis dengan kritis , bahkan cenderung ”dikuliti” oleh media Z. Sementara itu media A, turut memberitakan peristiwa ini , namun meletakkannya pada halaman 3 , dengan analisis yang seadanya.

Apabila kita melihat dari sudut pembingkaian, kita dapat melihat bahwa media Z telah mampu mengkontruksi ( membangun ) berita korupsi tersebut sedemikian rupa, berulang-ulang, sehingga mampu membentuk opini publik. Khalayak menjadi terbentuk pendapatnya bahwa oknum X terlibat korupsi dan partai X adalah partainya para koruptor. Sementara itu media A, dngen pemberitaannya pada halaman 3 dan analisis yang seadanya, cenderung tidak mampu menarik perhatian khalayak. Berita tersebut dianggap sebagai berita biasa saja, dan tidak begitu mendapat perhatian yang serius.

Wartawan sebagai Gatekeeper ( penjaga gerbang )

Salah satu unsur yang memegang peranan penting dalam pembingkaian ( framing ) adalah wartawan dan pemimpin redaksi. Namun wartawan dianggap sebagai ujung tombak dalam mencari, menyusun dan menyiarkan berita. Perannya sebagai gatekeeper dari pesan-pesan yang diberitakan membuat media massa ( televisi, koran, radio, internet ) menjadi hidup dan dinamis. Besarnya perhatian dan minat wartawan terhadap satu issue/peristiwa akan mempengaruhi bagaimana caranya ia memberitakan. Perhatian dan minat yang besar disertai dengan skill menulis yang baik, tentu saja akan menghasilkan sebuah tulisan/berita yang hidup dan dinamis.

Peran sebagai gatekeeper juga membuat wartawan mampu membuat prioritas. Yaitu mengangkat atau mengabaikan issu/peristiwa mana yang dianggap penting dan mana yang diabaikan. Tentu saja apa yang penting dan tidak penting ini terkait dengan visi, misi, kebijakan dari perusahaan dimana si wartawan bernaung. Disini pula peran pemilik media, turut mempengaruhi apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan. Kondisi seperti ini tentu saja mengkhawatirkan perkembagan dan semangat idealisme jurnalistik yang dibangun atas dasar kebenaran dan keadilan. Untuk konteks negara Indonesia fenomena semacam ini mulai tampak seiring dengan makin banyaknya media, baik media cetak maupun elektronik

Selanjutnya wartawan sebagai gatekeeper dapat pula memberikan penekanan terhadap substansi persoalan yang diberitakan. Misalnya : dengan meletakkannya pada halaman 1 dan dengan ruang ( space ) pemberitaan yang cukup besar, memberikan label tertentu ( labelling ) dan simbol-simbol tertentu. Semua ini dibuat agar terbentuk opini publik yang dicapai dengan cepat dan efektif.

Peran wartawan sebagai gatekeeper di atas amat pada akhirnya telah membuat wartawan tersebut melakukan framing ( pembingkaian ). Dimana tujuan framing biasanya disertai dengan motif politik atau ekonomi tertentu. Kondisi ini memberi peluang bagi wartawan untuk terlibat pada hal-hal yang negatif. Hal seperti inilah yang seharusnya dihindari oleh wartawan. Sebagai insan pers yang terikat dengan kode etik jurnalistik , harus berusaha sekuat tenaga menjadikan pers sebagai media yang bertujuan untuk kebenaran dan keadilan masyarakat. Khususnya berempati pada masalah/issue dan peristiwa yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.

Penutup

Wartawan berperan penting dalam membingkai berita, apakah berita dibuat untuk tujuan baik atau buruk. Berkaitan dengan jurnalisme empati, selayaknya wartawan berperan untuk membuat pembingkaian agar kahalayak terbentuk empatinya terhadap masalah yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Wartawan berfungsi sebagai gatekeeper yang menentukan baik dan buruknya sebuah berita.

Wartawan sebagai pelaku media dalam membuat dan menyusun berita, diharapkan dapat memahami potensi mereka sebagai pembingkai berita. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan nilai-nilai, kebijakan, dan lain sebagainya ke tengah khalayak, agar mereka paham , mengerti, dan mau melakukan nilai-nilai, kebijakan, tersebut.

– Disampaikan pada Pelatihan Jurnalisme Empati, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia, Garuda Plaza Hotel, 22 Desember 2012