Tags

, , , , , ,

Oleh :  Dra. Mazdalifah MSi Ph.D.

Pendahuluan

John Naisbitt dan Patricia Aburdune dalam buku Megatrends 2000 yang diterbitkan pada tahun 1982 meramalkan  : “Bahwa perempuan akan mengambil semua peran dalam berbagai lini kehidupan”. Karenanya perbincangan tentang perempuan menjadi  menarik, mengingat ramalan itu kini menjadi nyata.  Globalisasi menunjukkan adanya peningkatan kemajuan di bidang telekomunikasi, elektronika, dan bioteknologi. Kemajuan ini memberi dampak pula pada keterlibatan perempuan di sektor ekonomi, politik, dan bidang sosial lainnya.

Keterlibatan perempuan yang semakin besar pada sektor publik, tentu saja merupakan kemajuan. Hanya saja globalisas membawa konsekwensi  bagi kehidupan perempuan. Bagi mereka yang  berstatus single, situasi ini memberi ruang yang selebar-lebarnya untuk mengaktualisasikan diri. Meraih cita, mengukir prestasi adalah hal utama yang ingin diwujudkan. Ukuran sukses ditandai dengan adanya posisi  yang mapan dan prestise. memiliki gaji yang besar, jaringan kerja internasional, jam kerja yang semakin padat.

Namun bagi perempuan  berstatus ibu rumah tangga. Kencenderungan untuk eksis  di sektor publik, menjadi semacam dilema. Terkait dengan posisi mereka sebagai istri dan ibu dalam rumah tangga. Posisi ini mengharuskan mereka untuk berperan di sektor domestik, sementara  mereka umumnya bekerja dan berkarir di sektor publik  Menjaga keseimbangan antara sektor domestik dan publik menjadi sulit, manakala globalisasi menggiring mereka semakin eksis di sektor publik.

Makalah ini menyoroti bagaimana perempuan bisa berperan di sektor publik, tanpa mengabaikan sektor domestik. Apa saja tantangan yang akan dihadapi dalam mewujudkan keseimbangan tersebut. Serta solusi apa yang bisa dilakukan dalam menjawab tantangan tersebut.

Pengertian  Globalisasi

Globalisasi berasal dari kata “global” yang bermakna universal. Istilah ini memiliki pengertian yang berhubungan dengan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia, di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer dan bentuk-bentuk interaksi lain, sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias. Adanya globalisasi memberi dampak yang signifikan bagi perkembangan umat manusia, khususnya perempuan.

Dalam globalisasi setiap bangsa/negara berlomba melakukan pembangunan. Semua negara melakukan kapitalisasi dan ekspansi utamanya di bidang industri, teknologi dan komunikasi. Proses  komersialisasi berlangsung di semua bidang. Kehidupan manusia cenderung individualis dan materialistik. Kesuksesan hidup diukur  dari  sebesar apa materi yang ia punyai ( uang, rumah, tanah, jabatan , investasi, dsb )

Perempuan dan Globalisasi

Sejak Kartini memperjuangkan kedudukan perempuan setara dengan kaum lelaki, maka sejak itu emansipasi bergulir. Emansipasi adalah satu gerakan yang dimaksud agar perempuan memiliki kedudukan dan setara dengan kaum lelaki. Artinya setara dalam kehidupan di sektor publik dan sektor domestik. Pada zaman Kartini yang diperjuangkan adalah perempuan memperoleh pendidikan setara dengan laki-laki. Ia berpendapat pendidikan perempuan merupakan hal penting untuk mengangkat derajat bangsanya, karena ibu-ibu yang terdidik akan bisa membesarkan anak mereka dengan lebih baik.

Berpuluh tahun kemudian emansipasi telah merasuki tatanan masyarakat, bukan saja di bidang pendidikan tetapi di bidang politik, ekonomi, hukum dan sosial lainnya. Dan kini di era globalisasi perempuan Indonesia sama majunya dengan perempuan di negara lain. Banyak perempuan telah menduduki posisi penting di berbagai bidang. Keunggulan perempuan dalam menduduki posisi penting mendapat pengakuan oleh Marie C. Wilson : “The core what woman bring to leadership- a tendency toward inclusiveness, emphaty, communication up and down hierarchis, focus on broader issues and reacher bussiness” . Hal ini semakin dikuatkan pula oleh Thomas J. Reters mengatakan : “ woman as more relational, less conscious of hierarchy, better listener and more able to avoid the agression men can sometimes bring to management”  

Tantangan Perempuan di Era Globalisasi

Meskipun perempuan memiliki keunggulan, namun eksistensi perempuan di ranah publik menghadapi tantangan beberapa hal berikut :

  1. Sindrom Cinderella Complex : adalah sindrom yang dikemukakan oleh Collete Dowling yaitu suatu rasa takut yang begitu mencekam, sehingga perempuan merasa tidak berani dan tidak bisa memanfaatkan potensi otak dan daya kreatifitasnya secara penuh. Perempuan merasa takut menjadi terkenal, sukses, dan menempati posisi penting, karena merasa harus berperan di sektor domestik, dengan alasan agama, budaya, dsb. Banyak perempuan mengalami sindrom ini, dan mengambil keputusan untuk bekerja dan berkarir seadanya, padahal ia memiliki potensi yang amat besar.
  2.  Dukungan institusi yang belum maksimal : maksud dukungan institusi disini adalah institusi keluarga, masyarakat, perusahaan, dan pemerintahan. Meskipun pola pikir masyarakat sudah berkembang tetapi masih di temui pola pikir  belum maju, dan berakibat pada dukungan institusi yang delum maksimal. Misalnya : institusi keluarga, dimana ayah, ibu, suami, mertua, dsb  memiliki pola pikir yang menghambat perempuan aktif di dektor publik. Atau perusahaan yang beranggapan bahwa perempuan hanya boleh menempati posisi tertentu saja.
  3. Pergeseran nilai dalam kehidupan :  era globalisasi memberi pengaruh bergesernya nilai yang dianut oleh masyarakat. Nilai sukses diukur dari sisi materi seperti : uang , rumah jabatan, kepopuleran. Situasi ini membuat perempuan banyak mengejar simbol-simbol tersebut. Perempuan terjebak untuk bekerja terus menerus dan sangat keras ( menjadi sangat maskulin ). Cenderung meninggalkan femininitasnya. Dengan demikian, pelan dan pasti perempuan digiring mencapai ambisi, menjadi semakin individual dan cenderung mengabaikan  nilai kebersamaan.

Dalam konteks perempuan muslim , kondisi di atas sering dialami oleh perempuan  berkeluarga. Bagi perempuan yang masih sendiri, cenderung lebih aman dan dan dapat berekspresi dengan bebas. Apa saja solusi yang dapat dilakukan dalam menghadapi tantangan tersebut. Beberapa solusi yang ditawarkan adalah sebagai berikut :

  1. Mewujudkan adanya persamaan dan keragaman ( equality in diversity ) dikemukakan oleh Vandana Shiva aktifis dari India : yaitu sebuah konsep dimana perempuan tetap memerankan kualitas feminin yang baik. Bahwa kualitas pengasuhan, pemeliharaan dan cinta adalah fitrah perempuan dimana ia berhak untuk mengaktualisasikan dimanapun ia berada termasuk apabila ia berada di dunia publik (maskulin) . Maka yang menjadi ukuran  kehebatan perempuan dengan memakai standar maskulin ( uang, status, kekuasaan ) adalah tidak relevan. Apabila situasi dan kondisi  mengharuskan perempuan berkiprah di dunia publik ( maskulin ) , maka diharapkan aktualisasi kualitas femininya diharapkan dapat memberi warna tersendiri bahwa kebersamaan, saling peduli, dan memilihara kesatuan dapat memberikan kepuasan hakiki .
  2. Penentuan Skala Prioritas dalam  jenjang Kehidupan Perempuan : Bahwa perempuan muslim pada masa ia masih sendiri, bebas memilih  prioritasnya untuk mengekspresikan apa yang menjadi angan dan cita-citanya. Mengerahkan semua potensi kecerdasan inteletual dan kecerdasan emosi untuk meraih sukses. Pada posisi ini, perempuan memiliki posisi tawar yang besar untuk menentukan semua agenda. Oleh sebab itu perempuan muslim diharapkan dapat memanfaatkan masa emas ini untuk mengeksplore dirinya seluas-luasnya. Menjawab semua tantangan dan melakukan kerja yang bermanfaat, bagi diri, keluarga, masyarakat bahkan negara. Pada masa berkeluarga, skala prioritas itu mengalami perubahan, bukan lagi untuk diri sendiri, melainkan untuk suami dan anak. Perempuan harus berdamai, menghantarkan anak dan suami ke satu titik dimana mereka bisa mandiri mengelola diri tanpa bantuan perempuan sepenuhnya.. Apabila sudah mencapai situasi ini  maka perempuan boleh mengembangkan diri secara maksimal kembali.
  3. Membentengi diri dengan nilai mulia :  menjalani kehidupan sebagai perempuan di era globalisasi. Nilai mulia itu terdapat dalam nuansa religi, dan tradisi hidup masyarakat Indonesia. Kita sepatutnya bersyukur dibesarkan di satu negara yang mengagungkan nilai kesopanan, kejujuran, kebersamaan dalam agama dan tradisi yang kita anut. Nilai ini tidak boleh hilang, harus tetap dijaga dan dikembangkan agar dapat menjadi benteng di tengah melunturnya nilai di era gobalisasi.

Penutup

Era globalisasi membawa perubahan dalam semua aspek kehidupan. Perempuan sebagai elemen penting dan menentukan harus tetap mengambil peran di era ini, tanpa meninggalkan sisi feminitasnya. Semoga perempuan muslim dapat menjawab tantangan globalisasi , menjadi  contoh teladan , memberi manfaat bagi orang di sekitarnya