Oleh : Dra. Mazdalifah, M.Si **

 

Komunikasi merupakan hal yang amat penting di abad milenium ini, salah satu kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh manusia yakni berbicara secara lisan. Berbicara secara lisan merupakan aktifitas sehari-hari yang rutin dilakukan, disamping melalui komunikasi tulisan. Komunikasi pula yang membedakan manusia dengan hewan, sehingga dapat dinyatakan bahwa kebisaan berkomunikasi merupakan anugerah Tuhan yang paling besar yang diberikan kepada manusia.

Penelitian membuktikan bahwa 75% kehidupan kehidupan manusia itu lebih banyak diisi dengan berkomunikasi atau berbicara. Aktifitas sehari-hari mulai dari bangun tidur, di rumah, di pasar, di sekolah, di fakultas dimana saja manusia itu berada tetap tidak luput dari kegiatan komunikasi atau berbicara. Jadi kegiatan berkomunikasi, atau secara spesifik kegiatan berbicara, merupakan hal yang mutlak diperlukan oleh setiap orang, apalagi untuk kegiatan dalam bidang ekonomi (bisnis), politik (kehidupan bernegara), maupun dalam bidang lainnya. Secara lebih khusus untuk memperoleh  pengetahuan tersebut diperoleh dengan mempelajari ilmu Public Speaking, yang merupakan salah satu kajian dalam studi Ilmu Komunikasi.

Bidang hukum merupakan salah satu bidang yang memerlukan keterampilan berbicara. Pemerintah berupaya agar pelaksanaan hukum berjalan adil. Program bidang hukum menyangkut jumlah orang yang banyak dan harus diajak berpartisipasi dalam pelaksanaannya. Kendala utama dalam mewujudkannya adalah keterbatasan tenaga ahli atau tenaga profesional di bidang penyuluhan hukum. Profesional dalam arti mampu menyuluh masyarakat tentang hukum dan mampu menggerakkannya untuk melakukan sesuatu yang konkrit.

Sering ada persepsi yang keliru yang menyatakan bahwa kegiatan penyuluhan adalah kegiatan sekadar omong-omong saja. Hanya sekedar menyebarkan informasi. Tanggapan semacam ini salah, dan perlu diabaikan. Penyuluhan adalah kegiatan amat penting dan menentukan apakah satu program berhasil atau gagal. Oleh sebab itu menyiapkan tenaga penyuluh yang terampil merupakan kebutuhan yang amat mendesak. Tenaga penyuluh yang memiliki ketrampilan berbicara ( Publik Speaking ) adalah hal yang paling ideal. Tenaga penyuluh ini yang mampu mempengaruhi dan menggerakkan masyarakat untuk menerapkan bidang hukum dengan baik. Bagaimana agar menjadi pembicara yang handal? Penjelasan berikut akan menguraikan  kiat dan strategi pelaksanaannya.   

 

MENJADI PEMBICARA YANG HANDAL      

Banyak orang berkata bahwa ”berbicara itu gampang” atau ”berbicara itu murah”, semurah dan segampang membalik telapak tangan. Benarkah demikian? Ungkapan yang menyatakan ”berbicara itu gampang dan murah” tidak sepenuhnya benar. Pada kenyataannya banyak orang merasa ciut, gemetar dan nervous, saat diminta tampil berbicara di depan umum. Di lain pihak, sering kita melihat seorang pembicara tampil di depan umum dengan semangat dan penuh percaya diri. Namun kita melihat pendengarnya seperti tidak perduli dengan keberadaan si pembicara di sepan, mereka tampak asyik dengan urusan masing-masing. Jika demikian yang tampak, masihkah kita bersikukuh bahwa ”berbicara itu gampang dan murah?”

Keterampilan berbicara di depan umum (orang banyak) atau lebih dikenal sebagai Public Speaking, ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan. Menjadi pembicara yang handal (to be a good speaker) apakah sebagai orator, moderator, presenter, reporter televisi, penyiar radio dan televisi, master of ceremony (MC) dan sebagainya, membutuhkan keseriusan dan tekad yang besar untuk mempelajari dan memperaktekkannya. Menjadi pembicara yang handal membutuhkan pula persiapan yang matang, kemampuan merangkai kata, dan beberapa aspek penting lainnya. Jika anda ingin menjadi pembicara yang handal sekaliber Oprah Winfrey, setangguh Soekarno, sepopuler Tantowi Yahya, maka anda harus mempelajari dan memperaktekkan  Public Speaking. Ibarat anda belajar naik sepeda, yang harus jatuh bangun terlebih dahulu baru kemudian lancar naik sepeda, maka untuk menjadi pembicara handal anda juga akan mengalami hal yang sama. Beberapa langkah yang perlu mendapat perhatian adalah :

 

PERSIAPAN YANG MAKSIMAL

”BARANG SIAPA YANG NAIK MIMBAR TANPA PERSIAPAN, AKAN TURUN TANPA PENGHORMATAN”. Kata bijak dari seorang ahli yang bernama CICERO yang berasal dari Yunani, mengingatkan anda untuk melakukan persiapan terlebih dahulu sebelum tampil di depan umum. Hal pertama yang harus anda lakukan adalah mencoba mengetahui secara umum usia, pendidikan, jenis kelamin, kepercayaan, status ekonomi, yang dimiliki oleh pendengar. Dengan mengenali pendengar kita, diharapkan kita mampu menarik perhatian mereka. Hal ini dikarenakan anda sebagai pembicara akan mampu menentukan topik bahasan yang menarik dan menentukan gaya/bahasa yang sesuai dengan karakteristik mereka.

Langkah kedua adalah mempersiapkan materi apa saja yang akan disampaikan. Agar materi kelihatan berbobot, maka kita harus menambahai materi kita dengan info yang aktual dari berbagai sumber seperti: buku, majalah, internet, koran dan sebagainya. Anda perlu juga mempersiapkan bahan pendukung materi, jika memang dibutuhkan, seperti foto, slide, grafik dan sebagainya.

Langkah ketiga adalah empersiapkan gisik dan mental yang prima. Persiapan fisik mencakup kesehatan (segar dan cerah), kerapihan dan penampilan (pakaian, asesoris). Persiapan mental mencakup upaya menimbulkan keberanian, menekan/mengatasi nervous, yang sering melanda pembicara khususnya pembicara pemula. Bagaimana kita bisa tampil berani? Selain rajin berlatih, anda dapat memanfaatkan moment yang dapat dijadikan sebagai ajang belajar seperti: memberanikan diri bertanya pada dosen saat kuliah, memimpin diskusi/rapat, dan sebagainya.

 

MENYUSUN NASKAH DENGAN CERMAT

Pembicara yang tidak teratur bukan saja menjengkelkan, tetapi juga membingungkan pembicara itu sendiri. Herbert Spencer berkata: ”KALAU PENGETAHUAN ORANG ITU TIDAK TERATUR, MAKA MAKIN BANYAK PENGETAHUAN YANG DIMILIKINYA, MAKIN BESAR PULA KEKACAUAN PIKIRANNYA” (Rakhmat, 1996)

Secara garis besar format pembicaraan meliputi tiga bagian, yakni pembukaan, isi dan penutup. Sebaliknya supaya pembicaraan tidak kacau, anda harus membuat out line, atau garis besar pembicaraan. Gunanya untuk memberi panduan pada anda, agar tidak salah dalam menyampaikan pembicaraan di depan umum. Berbagai  kasus menunjukkan, saat seseorang tampil tanpa out line, seringkali pembicaraannya menjadi kacau kesana kemari, dan kadang-kadang keluar dari konteks yang dibahas.

Hal yang tidak kalah pentingnya dalam menyusun naskah adalah memilih kata dan menyusunnya dalam kalimat yang menarik dan menggugah perhatian orang. Pilihlah kata-kata yang sesuai dan menarik. Anda tidak diminta menulis naskah layaknya puisi, namun naskah pembicaraan tersebut haruslah disusun sedemikian rupa, dengan cara memilih kata-kata yang tepat.

 

MENYAMPAIKAN DENGAN MENARIK

Setelah anda melakukan persiapan dan penyusunan, tibalah anda menyampaikannya di depan umum. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian yaitu melakukan kontak, memperhatikan olah vokal dan memperhatikan olah visual.

Kontak maksudnya adalah anda melakukan jalinan emosi dengan pendengar, dengan cara memandang mereka secara merata. Pandanglah dengan adil pendengar anda, baik yang berada di kiri maupun yang berada di kanan anda. Jangan menunduk dan asyik pada naskah saja. Jika demikian yang anda lakukan, percayalah anda akan ditinggalkan pendengar anda. Mereka merasa diabaikan,dan pembicaraan anda tidak mencapai tujuan alias gagal. Di samping kontak mata anda harus melakukan kontak mental, artinya anda harus memperhatikan reaksi pendengar. Jika kebanyakan mereka menguap, lesu, ribut, ini tandanya mereka mulai bosan. Ubahlah strategi pembicaraan anda, misalnya dengan menyampaikan humor, pertanyaan dan sebagainya.

Olah vokal maksudnya adalah melatih kata yang diucapkan yang mencakup tinggi rendahnya suara, keras lembut, cepat lambat, jeda (hentian) dan dialek. Sebuah pembicaraan tidak akan bermakna kalau disampaikan dengan datar-datar saja, tanpa tinggi rendah, cepat lambat, keras lembut atau tanpa jeda sama sekali. Khusus pembicara yang berasal dari daerah, hendaknya harus melatih ucapannya, agar dialeknya tidak begitu kentara. Pembicara yang tampil dengan dialek yang kental akan dianggap kampungan.

Olah visual maksudnya adalah pembicara harus memperhatikan ekspresi wajah dan gerakan tubuh. Jika kita mengatakan ”ayo maju pantang mundur” tidak mungkin wajah anda datar tanpa ekspresi. Anda akan tampil memukau jika kata tersebut anda ucapkan dengan wajah penuh semangat sambil mengepalkan tangan. Pendengar akan bergairah , dan mungkin terbawa emosi, karena ucapan, wajah dan gerakan tangan anda benar-benar mengajak orang untuk bergerak maju. Oleh sebab itu jangan ragu untuk mengungkapkan ekspresi dan gerakan tubuh anda secara bebas.


Disampaikan pada Kegiatan Bimbingan Teknis Penyuluhan Hukum Tingkat Lanjutan, Hotel Madani 21 April 2011

** Dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU