Oleh : Dra. Mazdalifah, PhD

 Abstrak

 

Literasi media merupakan kegiatan dan pemikiran yang perlu dikembangkan.

Usaha mengembangkan literasi media , baik dalam bentuk pemikiran dan

Kegiatan perlu mendapat dukungan berbagai pihak. Perguruan Tinggi adalah

pihak yang dianggap Strategis. Perguruan tinggi mempunyai Tri Dharma Perguruan Tinggi, pendidikan pengajaran , penelitian dan pengabdian masyarakat. Literasi media menjadi berkembang dan semakin luas jika dikutdertakan dalam kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi

Latar Belakang

Literasi media merupakan bidang baru yang mendapat perhatian dari beberapa kalangan. Seperti : pendidik, pemerhati media, orangtua, intelektual, lembaga non pemerintah , dan sebagainya. Aneka kegiatan dalam bentuk seminar, worksshop, talk show , banyak diselenggarakan dalam upaya mengenalkan dan menerapkan literasi media. Ada pula ormas dan lembaga non pemerintah yang melakukan pemberdayaan masyarakat dalam literasi media.

Sejatinya literasi media merupakan sebuah kegiatan dan pemikiran yang harus di sebarluaskan ke tengah masyarakat. Semua lapisan masyarakat seharusnya berperan dalam mengembangkan literasi media, termasuk perguruan tinggi. Selama ini literasi media lebih berkonsentrasi pada kegiatan pemberdayaan di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, kegiatan ini perlu dikembangkan secara lebih luas. Literasi media perlu mendapat dukungan dan dikembangkan oleh pemerintah dan pihak terkait.

Perguruan tinggi merupakan pihak yang dapat diajak bekerjasama dalam mengembangkan literasi media. Apakah dalam bentuk penelitian, pendidikan pengajaran ataupun dalam bentuk pengabdian masyarakat. Ketiga hal ini disebut sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dosen di perguruan tinggi harus menjalankan fungsi dan perannya, dengan melakukan Tri Dharma dalam aktifitas kesehariannya. Kegiatan ini dapat dimanfaatkan dosen  untuk mengembangkan literasi media.

Strategi ini merupakan salah satu cara, agar literasi media menjadi sebuah gerakan massif di tengah masyarakat. Kepedulian dan keikutsertaan perguruan tinggi ( dosen dan mahasiswa ) dalam literasi media merupakan hal yang harus diapresiasi. Pengalaman sebagai dosen di Departemen Ilmu   Komunikasi FISIP USU dalam mengembangkan literasi media melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat menjadi informasi berharga. Beberapa kegiatan yang dilakukan, dan metode / cara mengembangkan literasi media, akan diurai dalam penjelasan berikut.

Pengertian dan Perkembangan Literasi Media

Literasi media merupakan satu istilah untuk menyebut seseorang “pandai”,  ”mampu dengan baik” menggunakan media massa yaitu televisi, radio, filem dan surat kabar. Banyak pengertian yang diungkapkan oleh banyak ahli tentang literasi media . Para ahli memiliki pelbagai konsep , berapa  pengertian dari berbagai ahli, sebagai berikut :

1)      Art Silverblatt

menyatakan satu defenisi literasi media  yang amat baik yaitu : Literasi Media  mengembangkan keterampilan pemikiran kritis yang memperbolehkan orang-orang untuk membuat keputusan bebas dan keputusan terdidik dalam merespons informasi yang menyangkut seluruh saluran dari komunikasi massa.  (Massey, 2005, hal: 3)

2)      Mc Cannon

mendefenisikan  literasi media  sebagai uraian umum seperti kemampuan untuk menganalisis, mengakses dan memperlihatkan media.  (Strasburger & Wilson, 2002, hal: 323)

3)      Hobbs

menjelaskan Literasi Media  sebagai ”  Kemampuan untuk mengakses, menganalisis,           mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan dalam suatu keragaman bentuk: (Van Evra, 2004, hal: 215)

4 )     James A. Brown :

Literasi Media literacy  pada analitik, pengertian reflektif dari media massa cetak dan   elektronik, termasuk film (Singer & Singer, 2001, hal: 681)

5)      Kaiser Family Foundation: Berdasarkan defenisi yang dihasilkan oleh National Leadership Confrence on Media Literacy, Literasi Media  merupakan suatu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan menghasilkan komunikasi dalam berbagai bentuk  (Akses internet februari 2009)

6)      Media Literacy Report: Literasi media merupakan kemampuan untuk menemukan, menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan nformasi dalam suatu keragaman media.(Akses internet februari 2009)

7)      Baran

Literasi Media  merupakan suatu keterampilan yang kita terima , tetapi seperti semua keterampilan lainnya, keterampilan ini bisa dikembangkan. Baran mengemukakan  delapan  elemen dasar dari  literasi media yaitu :

–           Suatu keterampilan pemikiran kritis yang memungkinkan para pemirsa dalam mengembangkan keputusan bebas tentang isi media.

–           Sebuah pengertian dari proses komunikasi massa.

–           Suatu kesadaran dari dampak  media pada individu dan masyarakat.

–           Strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media.

–           Suatu pengertian dari isi media sebagai suatu wacana yang memberi arti yang mendalam ke dalam kebudayaan dan kehidupan kita.

–           Kemampuan untuk menikmati dan menghargai isi media.

–           Perkembangan dari keterampilan-keterampilan produksi yang efektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

–           Suatu pengertian dari peraturan moral dan etik  dari para praktisi  media ( Baran, 2008, hal: 26 – 27)

8)       Di Amerika Utara, kebanyakan organisasi literasi  media  dan para ahli akan setuju dengan deskripsi berikut : Kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk, termasuk cetak maupun tidak. Media non cetak termasuk televisi, video dan rekaman audio, permainan elektronik, film, fotografi dan internet. Penjelasan lain dari media literacy ditambah ke dalam defenisi kita.   (Wan & Cheng, hal :1)

9)      Studi pada trend dan usul yang sedang beredar pada media literacy di Eropa menyatakan:  Literasi Media  merupakan sebuah istilah yang mendeskripsikan keterampilan dan kompetensi wajib untuk mengembangkan, dengan otonomi dan kesadaran, dalam lingkungan komunikatif baru-digital, global dan multi media- dari masyarakat informasi. Literasi Media  dihasilkan dari proses pendidikan media.  (Media Literacy in Europe, akses internet  Februari 2009)

Berdasarkan pendapat beberapa individu dan lembaga di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa konsep Literasi media   adalah kemampuan untuk membaca media yang tercetak dan media elektronik. Para ahli kemudian mengembangkan definisi lebih luas menjadi kemampuan membaca media secara visual, seperti media filem, televisi, dan internet.  David Considine memperluas pengertian literasi media  sebabagai berikut: literasi media merupakan suatu perluasan dari keterampilan informasi dan komunikasi yang memungkinkan untuk perubahan alam informasi di masyarakat kita. Literasi Media  lebih dari mengkonsumsi informasi. Seorang individu yang memiliki literasi media  mampu membuat, menciptakan dan dengan sukses mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk, tidak hanya cetak atau tulisan. Sebuah contoh sederhana  dari alasan pentingnya keterampilan ini pada saat ini yang nyata adalah munculnya CD-ROM. Teknologi ini mewakili sebuah fusi dari dua teknologi, yakni komputer dan kamera video. Ini juga mewakili dua fusi dari dua bentuk  informasi, yakni cetak dan gambar. (The Journal of Media Literacy, volume 41)

Setelah kita memahami tentang pengertian literasi  media  dari beberapa sumber, selanjutnya  membahas kegunaannya. Mengapa media literacy diperlukan? Apa kegunaannya? Pertanyaan ini menjadi penting, mengingat beberapa negara telah memprogramkan literasi  media  sebagai kegiatan yang harus dilaksanakan, guna mengatasi dampak buruk media. Literasi media  memiliki beberapa kegunaan  yaitu  :

–       memungkinkan orang-orang untuk memperoleh pengertian dari media komunikasi yang digunakan di lingkungan masyarakat mereka dan cara mereka mengoperasikannya di masyarakat  kontemporer.

–       Media literacy memastikan orang belajar untuk:

–       menganalisis dan merespon secara kritis teks media

–       mengidentifikasi sumber dari teks media, sosial serta politik mereka

–       menginterpretasikan nilai dan pesan yang terkandung dalam pesan media

–       menyeleksi dengan tepat pesan media berdasarkan kebutuhan dan tujuan yang   sebenarnya

–       mengembangkan kompetensi untuk menyajikan pesan media dalam beragam bentuk pengetahuan dan keterampilan untuk mendistribusikan pesan guna menjangkau pemirsa yang telah direncanakan sebelumnya.

(Wikipedia, akses internet 2007)

Oleh sebab itu bila seseorang memiliki literasi media  ia akan dapat mengembangkan kompetensi yang dimilikinya. Kompetensi tersebut berkaitan dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki dalam memaknai pesan. Pengetahuan literasi media  akan mendorong orang untuk selalu mempertanyakan atas apa yang mereka tonton, baca atau dengarkan. Pengetahuan yang baik akan mengembangkan rasa kritis untuk menganalisa pesan, dan bias berita pada program-program yang ada dalam media massa,

Dewasa ini literasi media telah berkembang menjadi satu model pembelajaran, yang disebarluaskan melalui institusi masyarakat ataupun sekolah. Berdasarkan sejarah,literasi  media  dimulai dari penulisan alphabet. Kita mengenal apa yang disebut dengan literasi dari membaca dan  menulis. Kemudian  muncul percetakan, dan selanjutnya diikuti dengan revolusi industri. Secara ringkas literasi media merupakan bagian dari proses perkembangan komunikatif manusia, yang dimulai dengan pengenalan dari penulisan alphabet dan telah diperluas ke dalam perkembangan media elektronik dan informasi digital.

Peristiwa paling penting yang  terjadi pada perkembangan komunikasi dan teknologi adalah: tampilnya media elektronik (telefon, film, radio dan televisi) yang mendominasi sejak tahun 1950-an – dan terakhir, munculnya media digital, contohnya internet  –  sejak tahun 1980-an. Munculnya media digital, yang telah  diperluas pada sebuah kecepatan dan sebuah jangkauan yang tidak pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah, telah memimpin, dalam konteks masyarakat informasi, sebuah intelektual baru, semiotik, komunikatif dan iklim budaya, yang telah menandai efek dari perorangan, relasi kerja dan perkembangan sosial. Untuk lebih memahami media baru literasi  ini, berikut peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam proses literasi:

  • Literasi klasik (membaca, menulis, memahami) yang mendominasi abad dan menghubungkan kepada proses membaca dan menulis, serta di sekolah-sekolah dasar telah digunakan sebagai aturan dasar.
  • Literasi audiovisual, yang menghubungkan kepada media elektronik sperti film dan televisi, fokus pada gambar dan rangkaian gambar. Ini merupakan permulaan dari pendidikan berbeda yang digagas dengan segera tetapi tidak didukung penuh oleh kebijakan yang nyata.
  • Informasi atau digital literasi yang berasal dari komputer dan media digital yang telah membuat pentingnya belajar keterampilan baru. Ini merupakan konsep terbaru dan sering digunakan untuk mengacu pada keterampilanteknik yang diperlukan untuk peralatan digital modern.
  • Literasi Media  yang dibutuhkan sebagai hasil dari konvergensi media – yang menggabungkan media elektronik (komunikasi massa) dan media digital (komunikasi multimedia) yang terjadi dalam berbagai perkembangan masyarakat informasi. Literasi Media  ini meliputi  beragam bentuk literasi: membaca, menulis, audiovisual, digital dan keterampilan baru yang diperlukan dalam sebuah iklim  konvergensi media.

Tabel berikut menerangkan fase-fase penting dari evolusi ini

Tabel

Perkembangan  Literasi Media 

 

Era historis Lingkungan komunikatif Keterampilan baru Hasil sosial-budaya
Era klasik Komunikasi dengan mulut dan gerak tubuh.

+Berkembangnya penulisan alphabet.

Perintah dari mulut dan bahasa tubuh.

+Keterampilan alphabet.

+Sistematisasi dan konservasi dari pengetahuan.

+Pangkal filosofy dan eksplorasi ilmiah.

Permulaan abad dan Revolusi industri pertama Perkembangan dari percetakan dan buku. Perluasan dan pemenuhan literacy. Kemajuan dalam ilmu bahasa empiris ilmiah.
Revolusi industri kedua Gejala media elektronik: telepon, film, radio dan televisi. Literasi audio visual. Media dan masyarakat pengguna.
Masyarakat informasi Media digital dan Internet Literasi digital.

Media literasi (dalam sebuah kondisi konvergensi media)

Globalisasi dari informasi.

Meledaknya pengetahuan.

Masyarakat berpengetahuan.

Sumber : Study on the Current Trends and Approaches to media Literacy in Europe (akses internet, 26 feb 2009 )

Literasi Media dan Perguruan Tinggi

Literasi Media perlu dikembangkan secara luas di berbagai lapisan masyarakat.  Perguruan tinggi adalah  salah satu institusi yang ada  mengemban amanah untuk menjawab tantangan  mengembangkan literasi media. Perguruan tinggi  merupakan komunitas hidup yang dinamik. Perannya untuk  menumbuhkan  intelektual, emosional dan spiritual para civitas akademika. Dosen, mahasiswa, dan seluruh staf perguruan tinggi  bergumul dengan nilai-nilai kehidupan kemasyarakatan,, mengejar dan mendiseminasikan pengetahuan sebagai pengabdian bagi kemajuan masyaraka..  Perguruan tinggi  tidak seperti menara gading  sebagai simbol belaka.

Keberadaan perguruan Tinggi mempunyai kedudukan dan fungsi penting dalam perkembangan suatu masyarakat.  Proses perubahan sosial (social change) di masyarakat yang begitu cepat, menuntut dalam menghadapi permasalahan pembangunan, pendidikan tinggi tidak boleh sebagai penonton.  Perguruan tinggi  harus pro aktif  dan berpartisipasi di dalamnya. Seperti persoalan literasi media, dimana  kehadiran media  telah memberi dampak dalam kehidupan masyarakat.

Pada umumnya peran perguruan tinggi itu diharapkan tertuang dalam pelaksanaan Tri dharma perguruan tinggi, yaitu:  dharma pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.  Dengan dharma pendidikan, perguruan tinggi diharapkan melakukan peran pencerdasan masyarakat dan transmisi budaya.  Dengan dharma penelitian, perguruan tinggi diharapkan melakukan temuan-temuan baru ilmu  pengetahuan dan inovasi kebudayaan.  Dengan dharma pengabdian masyarakat, perguruan tinggi diharapkan melakukan pelayanan masyarakat untuk ikut mempercepat proses peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat.  Melalui dharma pengabdian pada masyarakat ini, perguruan tinggi juga akan memperoleh feedback dari masyarakat tentang tingkat kemajuan dan relevansi ilmu yang dikembangkan perguruan tinggi itu.  . Ketiga peran dharma perguruan tinggi seharusnya , berjalan serempak dan saling berkaitan (sinergis), sehingga secara teoritik suatu perguruan tinggi tidak boleh hanya berperan dalam sebagian dharma dan meninggalkan yang lain.

Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU sebagai salah satu unsur perguruan tinggi, berusaha menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan baik. Dosen dan mahasiswa sebagai elemen penting, menerapkan tri dharma sebagai wujud peran dan sumbangan kepada negara. Literasi media mendapat perhatian dan dukungan bagi dosen dan mahasiswa dalam bentuk pendidikan pengajaran, penelitian , dan pengabdian pada masyarakat.

Pengembangan literasi media melalui pendidikan pengajaran

Pendidikan san pengajaran adalah bentuk kewajiban bagi dosen untuk meningkatkan mutu pengajaran. Dosen melakukan pengajaran melalui mata kuliah, dan mahasiswa sebagai target sasaran yang  diharapkan dapat menyerap dan menerapkannya dalam keseharian. DepartemenIlmu Komunikasi Fisip USU mengajarkan berbagai mata mata kuliah. Departemen ini memiliki tenaga pengajar ( dosen ) dengan latar pendidikan S3 dan S2. Jumlah tenaga dosen sebanyak 22 orang memgajarkan berbagai mata kuliah kepada mahasiswa.

Seiring dengan perkembangan pendidikan, maka departemen Ilmu Komunikasi Fisip USU melakukan perbaikan kurikulum. Hal ini dilakukan agar lulusan yang dihasilkan dapat memenuhi kompetensi keilmuan dalam bidang komunikasi. Sejak tahun 2009 telah mulai diakomodir materi tentang literasi media dalam mata kuliah media dan masyarakat.  Strategi memasukkan materi literasi media dalam pengajaran mata kuliah dianggap efektif. Hal semacam ini cukup ampuh dalam mengenalkan dan mengembangkan literasi media kepada mahasiswa.

Materi literasi media diberikan dalam bentuk beberapa kali tatap muka. Berdasarkan hasil amatan, ternyata belum banyak mahasiswa yang memahami pa sebenarnya literasi media. Tatap muka dalam b entuk ceramah selama 2 jam, memberikan pengenalan mengenai hadirnya media di tengah masyarakat. Kehadiran media yang beraneka ragam telah mewarnai hidup, dimana masyarakat dapat memanfaatkan media untuk tujuan positif maupun negatif. Selain itu media juga ditengarai memberi manfaat dan kerugian. Oleh sebab itu sebagai target sasaran media, masyarakat sebagai pengguna harus menyadari hal tersebut.

Departemen Ilmu Komunikasi Fisip USU  telah melakukan peninjauan kembali terhadap kurikukumnya. Peninjauan ini dilakukan agar mata kuliah yang disusun telah memenuhi syarat kompetensi sesuai standard ilmu komunikasi. Hasil dari peninjauan kurikulum memutuskan untuk menghapus beberapa mata kuliah yang dianggap tidak up to date dan menggantinya dengan mata kuliah yang lebih up to date. Salah satu mata kuliah baru yang diusulkan adalah mata kuliah  new media dan media literasi. Keputusan untuk menyertakan materi literasi media dalam kurikulum, merupakan hasil amatan terhadap perkembangan media dewasa ini. Perkembangan yang sangat pesat harus diimbangi dengan pengetahuan yang baik dalam pemanfaatannya. Keputusan ini merupakan satu lompatan besar dalam pembaruan kurikulum Depertemen Ilmu Komunikasi FISIP USU. Usaha pembaharuan ini diharapkan akan mampu menambah dan mengembangkan literasi media di perguruan tinggi secara maksimal.

Pengembangan Literasi Media melalui Penelitian

Ilmu yang dikuasai melalui proses pendidikan di perguruan tinggi harus dimplementasikan dan diterapkan. Salah satunya dengan langkah ilmiah, seperti melalui penelitian. Penelitian bukan hanya mengembangkan diri dosen dan mahasiswa, namun juga memberikan manfaat bagi kemajuan peradaban dan kepentingan bangsa dalam mensejahterakan bangsa.  Penelitian bermanfaat bagi pengembangan diri dosen dan mahasiswa secara ilmiah dan akademis. Hal ini dikarenakan dosen dan mahasiswa harus senantiasa mengembangkan kemampuan diri, termasuk dalam melakukan penelitian. Hal ini akan membawa pola pikir yang kritis terhadap fenomena yang ada.

Salah satu fenomena yang perlu mendapat perhatian dalam bidang penelitian adalah kajian tentang literasi media. Kajian ini merupakan bidang baru, dimana belum banyak dosen dan mahasiswa yang membahasnya, Namun sejak tahun 2007, Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU telah  mulai mengembangkan kajian ini secara lebih intens. Strategi yang dilakukan adalah dengan mengembangkan bidang penelitian ke arah literasi media.

Dalam setiap seminar proposal, dosen yang berminat pada bidang ini mencoba menjelaskan kepada mahasiswa tentang literasi media. Dosen mencoba menggugah mereka dengan menunjukkan topik baru yang bisa mereka bahas di luar topik ada dan sudah jenuh. Dosen berusaha merangsang minat meneliti mereka, dengan menunjukkan beberapa jurnal hasil penelitian, dan buku –buku penunjang literasi media. Pihak depertemen Ilmu Komunikasi telah menyediakan beberapa referensi berupa buku dan jurnal yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, bila mereka melakukan penelitian tersebut.

Strategi semacam ini cukup ampuh untuk menarik minat mahasiswa dan dosen dalam meneliti bidang literasi media. Ada satu dua orang yang tertarik dan mulai serius menjadikan topik literasi media sebagai bahasan skripsi. Topik tentang sinetron, televisi, dan internet , dari sisi pemanfaatan dan dampak buruk serta dampak positif, merupakan topik yang dipilih oleh mereka. Ketertarikan terhadap topik media literasi untuk diteliti , karena ada pemberian  materi literasi  media  dalam salah satu mata kuliah. Meskipun hanya beberapa kali pertemuan, ternyata cukup memicu rasa ingin tau dan keinginan meneliti dalam  diri mahasiswa.

Pada tahap yang lebih tinggi, para dosen mencoba membuat proposal penelitian untuk tingkat Hibah bersaing dan kerjasama dengan lembaga lain. Proposal untuk Hibah bersaing sampai saat ini belum menunjukkan hasil, dikarenakan waktu persiapan pembuatan proposal yang terbatas. Hal ini berakibat pada pembauatan proposal yang tidak maksimal. Sementara ini belum dilakukan usaha pengajuan kembali. Masing-masing dosen masih berkonsentrasi menyelesaikan beban tugasnya masing-masing. Sementara itu pengajuan proposal kepada pihak lain, sedang dijajaki. Proposal ini berkaitan dengan penelitian tentang analisis isi tayangan televisi yang berpihak atau tidak berpihak terhadap perempuan.

Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwasanya pengembangan penelitian dalam bidang literasi media telah berjalan. Pada masa yang akan datang diharapkan akan muncul bentuk penelitaian lain yang lebih banyak dan lebih beraneka ragam. Sebagai departemen Ilmu Komunikasi yang berkedudukan di luar pulau Jawa, perkembangan ini dianggap cukup signifikan. Seiring semakin intensnya tenaga pengajar, terlibat dalam kegiatan literasi media dengan rekan-rekan pengajar di pulau Jawa. Perkembangan ini diharapkan akan membawa kemajuan, dimana kedudukan departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU dapat sejajar dengan perguruan tinggi lainnya, khususnya di pulau Jawa.

Pengembangan Literasi media melaui  pengabdian Masyarakat.

Kewajiban sebagai dosen dan mahasiswa di perguruan tinggi adal;ah melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah kepada rakyat. Oleh sebab itu dosen dan mahasiswa harus membela kepentingan rakyat, dengan menjunjung tinggi nilai luhur pendidikan. Dosen dan mahasiswa memiliki ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Caranya dengan melakukan kegiatan Pengabdian pada masyarakat. Kegiatan ini daharapkan dapat mengasah kepekaan yang dimiliki oleh dosen dan mahasiswa.  Kegiatan pengabdian diharapkan pula dapat menjadi ajang mempraktekkan apa yang dipelajari, untuk melihat apakah teori dama dengan pelaksanaan di lapangan.

Usaha melakukan pengabdian masyarakat dapat dilakukan minimal setahun sekali.  Setiap dosen dan mahasiswa dapat memilih tempat mana yang dijadikan lokasi pengabdian. Salah satu topik yang dipilih dalam kegiatan pengabdian adalah literasi media. Khususnya yang berhubungan dengan : cara menonton televisi yang baik, pemanfaatan internet yang baik  pada remaja, dampak televisi pada anak, dan diet televisi. Kelompok sasaran ibu rumah  tangga dan remaja adalah kelompok sasaran yang amat diminati. Berdasarkan pengalaman kelompok ini amat mudah untuk didekati dan diajak bekerjasama.

Kegiatan pengabdian ini bekerjasama dengan lembaga yang ada, seperti : arisan, pengajian, sekolah ataupun lingkungan setempat. Kerjasama semacam  ini cukup efektif dilakukan, mengingat kedua belah pihak sama-sama mendapat keuntungan dari kegiatan yang dilakukan. Pelibatan doden dalam kegiatan pengabdian masyarakat, merupakan bentuk kegiatan yang rutin dilaksanakan.

Para dosen merencanakan dan merealisasikan kegiatan pengabdian tersebut selama lebih kurang 3 bulan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini biasanya dalam bentuk ceramah, demonstrasi tayangan, tanya jawab, diselingi dengan games. Waktu penyampaian maksimal 2 jam.  Kegiatan ini mendapat sambutan baik dari kelompok ibu dan remaja. Umumnya mereka mendapat pengetahuan baru bahwasanya media yang akrab ( televisi, internet ) harus diwaspadai. Mereka baru menyadari bahwa media tersebut membawa dejumlah milai, yang dapat membewa dampak buruk bagi diri, dan keluarganya.

Pihak departemen Ilmu komunikasi FISIp USU menyadari, bahwa kegiatan bersifat insidental ini belum mampu memberi perubahan signifikan. Dalam diskusi mingguan yang secara rutindialkukan setiap jumat, muncul ide untuk membuat kegiatan literasi media secara lebih massif. Pada saat tulisan ini sedang dibuat, pihak departemen tengah menyusun kegiatan literasi media yang besar. Kegiatan ini akan bekerjasama dengan pihak pemerintah Sumatera Utara, khususnya PKK.  Kegiatan yang direncanakan adalah penyuluhan literasi media di berbagai kota kabupaten di Sumatera utara. Target utama adalah pengurus PKK di masing-masing kota Kabupaten.

Kegiatan ini diharapkan mampu mengembangkan literasi media di kalangan ibu-ibu di Sumatera Utara, khususnya ibu pengurus PKK. Disamping itu kegiatan secara insidental bersama rekan dosen dan mahasiswa akan tetap berjalan seperti biasa. Kesempatan untuk mengajukan usulan kegiatan pengabdian  melalui dana universitas  atau dana bantuan lainnya, tetap dijajaki. Pihak departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU berupaya meyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat secara mandiri ataupun bekerjasama dengan pihak lain. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat tersebut topik literasi media telah menjadi perhatian. Kegiatan ini diharapkan akan terus berkembang dan menjadi besar di masa-masa yang akan datang.

Tantangan pengembangan literasi media Perguruan Tinggi

Kegiatan literasi media di perguruan tinggi mecapai sukses bila mendapat dukungan penuh dari pihak perguruan tinggi. Namun usaha mencapai sukses tersebut dapat menemukan kendala dalam perjalanannya. Kendala tersebut dapat berupa kendala teknis maupun operasional. Secara teknis kegiatan literasi media memerlukan dukungan pendanaan yang baik . Sumber pendanaan yang tersedia selama ini belum tersedia secara optimal, sehingga pelaksanaan literasi media menjadi sangat terbatas.  Pihak departemen Ilmu komunikasi FISIP USU  tidak bisa secara leluasa  merencanakan kegiatan, harus menyesuaikan dengan pendanaan yang tersedia.

Hal semacam ini membuat beberapa rencana besar kegiatan literasi media perlu dikaji ulang, dan mengalami penyesuaian. Kreatifitas untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan literasi media agak terhambat. Pihak depertemen harus menyususn strategi baru. Sumber pendanaan dari pihak luar  menjadi alternatif. Kerjasama dengan pihak luar yang sedang direncanakan, diharap dapat menjadi jalan keluar bagi pelaksanan literasi media di Perguruan Tinggi.

Kendala operasional dalam pelaksanaan literasi media di perguruan tinggi,  berkaitan dengan keberlangsungan program secara sinambung dan terus menerus.  Kesinambungan kegiatan literasi media secara terus menerus, belum bisa direalisasikan berkaitan dengan sumber daya manusia. Dosen dan mahasiswa sebagai pelaku utama, pengorganisir kegiatan mengalami leterbatasan waktu.

Aktifitas pendidikan pengajaran, penelitian dan pengabdian di luar kegiatan literasi media cukup  padat. Kondisi semacam ini mengharuskan dosen dan mahasiswa menyelesaikannya dengan baik. Sementara kegiatan literasi media, memerlukan konsentrasi waktu, tenaga dan fikiran yang khusus. Hal semacam ini membuat pelaksanaan literasi media secara sinambung dan terus menerus belum dapat diwujudkan. Namun keinginan untuk mewujudkannya sebagai sebuah kegiatan literasi media yang sinambung dan terus menerus, tetap menjadi ide dan gagasan yang selalu dipelihara. Persoalan manajemen dalam hal waktu dan  penentuan skala prioritas harus dilakukan, agar kegiatan besar ini terwujud.

Penutup

Perguruan tinggi adalah salah satu lembaga, yang dapat dimanfaatkan dalam mengembangkan literasi media. Posisi perguruan tinggi yang memiliki Tri Dharma sangat strategis untuk mengembangkan literasi media baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi. Perguruan Tinggi pada hakekatnya secara sadar berupaya untuk meningkatkan kadar ilmu pengetahuan dan pengamalan bagi civitas akademika khususnya bagi dosen san mahasiswa.

Departemen Ilmu komunikasi sebagai salah satu unsur perguruan tinggi memiliki misi pendidikan untuk melaksanakan dan mengembangkan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dalam bisang ilmu komunikasi. Salah satu upaya pengembangan tersebut adalah menyertakan Literasi media dalam tri dharma perguruan tinggi. Usaha ini diharapkan dapat membuat literasi media lebih berkembang di tengah masyarakat.