Tags

(Tinjauan tentang Kualitas Tayangan, Pengaruh dan Tantangan Mewujudkan Televisi Sehat bagi Anak Indonesia)

Uneducated quality of television programs will givebad effects to children. Government society and also family have to overcome this problem. It could be reached by making healthy television programs for children. This effort also has challenges. They are : 1) the implementation of broadcasting regulation, 2) the quality of the pro children television programs; 3) the culture of Indonesian society.

 

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan satu Negara, dimana media televisi mengalami perkembangan amat pesat. Saat ini telah berdiri 11 stasiun televisi, ditambah dengan puluhan televisi lokal dan jaringan televisi kabel. Banyaknya stasiun televisi ini membuat masyarakat Indonesia dapat menikmati tayangan televisi sepanjang hari, dari pagi hingga malam hari. Masyarakat dapat menyaksikan tayangan informasi dan hiburan dari berbagai stasiun televisi.

Hadirnya stasiun televisi swasta ini memberi keuntungan dan kerugian bagi masyarakat Indonesia. Keuntungannya adalah masyarakat dapat menikmati tayangan televisi beragam, memiliki banyak pilihan dan menerima informasi dari berbagai sumber. Sementara itu, kerugiannnya adalah masyarakat mengalami banjir informasi. Hal semacam ini dapat mengakibatkan kebingungan, karena masyarakat kesulitan untuk memilah informasi sampah atau informasi bernas. Banyaknya stasiun televisi akan mengakibatkan munculnya aneka ragam tayangan. Masyarakat dapat menikmati aneka tayangan produksi dalam negeri maupun produksi luar negeri. Saat tayangan produksi luar negeri mendominasi, maka nilai dan budaya luar dikhawatirkan mempengaruhi kehidupan masyarakat. Misalnya : perilaku remaja Indonesia yang meniru gaya berpakaian, gaya rambut dan gaya berbicara seperti bintang idola yang muncul di televisi.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa media televisi mengalami kemunduran dalam hal kualitas tayangan. Pengamatan memperlihatkan bahwa kualitas tayangan televisi Indonesia cenderung memprihatinkan. Kualitas memprihatinkan tersebut tampak dari banyaknya tayangan tidak mendidik yang muncul dan dinikmati oleh masyarakat. Pengertian tayangan tidak mendidik adalah tayangan yang berisikan adegan kekerasan, kemewahan, mistik, serta seks, yang dapat menimbulkan pengaruh buruk bagi pemirsanya. Adegan semacam ini banyak muncul pada tayangan sinetron, film, reality show, ataupun musik.

Penulis beranggapan menjamurnya tayangan tidak mendidik akan memberi pengaruh buruk kepada masyarakat Indonesia, khususnya pada diri anak-anak Indonesia. Mengapa anak-anak? Hal ini disebabkan dua alasan.

Pertama, karena Negara dan masyarakat wajib memberi perlindungan kepada anak dari serbuan tayangan tidak mendidik. Menurut Konvensi Hak Anak (Convention of The Right of Child) menyatakan anak mempunyai hak untuk mendapatkan hiburan yang sehat dan mendidik, serta hak untuk berekspresi melalui media (Kidia, 29 Juli 2007). Negara Republik Indonesia turut pula memberi perlindungan kepada anak-anak melalui Undang-Undang nomor 32 tentang Penyiaran. Pada bab V pasal 48 pasal 4 Pedoman Perilaku Penyiaran menentukan standar isi siaran yang sekurang-kurangnya berkaitan dengan perlindungan terhadap anak-anak, remaja dan perempuan.

Kedua, karena jumlah penonton anak-anak di Indonesia sangat besar jumlahnya. Harian Kompas (2005) menyatakan penonton anak Indonesia berjumlah 70 juta orang. Jumlah ini merupakan potensi pasar bagi televisi, khususnya dalam memasarkan iklan. Penonton anak-anak harus mendapat perhatian dan perlindungan, karena mereka memiliki kekhasan. Penonton anak berbeda dengan penonton orang dewasa. Anak-anak belum memiliki cara berfikir yang baik, seperti orang dewasa. Mereka cenderung belum dapat mencerna mana yang baik dan mana yang buruk.

Ketiga, karena anak Indonesia memiliki curahan waktu yang tinggi untuk menonton televisi. Beberapa hasil penelitian telah menunjukkan bahwa anak Indonesia waktu untuk belajar lebih sedikit daripada menonton televisi. (Dictum, 2007). Temuan ini tentu saja menimbulkan rasa khawatir, bahwa kegiatan menonton televisi ternyata lebih menarik daripada kegiatan belajar.

Ketiga alasan di atas, patut membuat kita peduli akan nasib anak-anak Indonesia di masa yang akan datang. Sementara, televisi di Indonesia telah berkembang menjadi sebuah industri besar. Namun, mutu tayangan televisi tidak mengalami perubahan yang signifikan. Tayangan tidak mendidik tetap mendominasi hampir di seluruh tayangan. Pemerintah, pihak penyelenggara stasiun televisi, orang tua, pendidik, LSM dan tokoh agama, menghadapi tantangan yang besar. Tantangan tersebut adalah mewujudkan televisi yang sehat bagi anak-anak Indonesia. Televisi sehat adalah televisi sebagai media hiburan sekaligus memberikan informasi yang berguna dan bermanfaat. Tantangan ini semakin terasa berat mengingat industri televisi di Indonesia sangat berorientasi pada profit, dan cenderung abai terhadap kualitas tayangan.

Perkembangan Televisi di Indonesia

Perkembangan televisi Indonesia memasuki era baru, saat pemerintah memberi izin kepada swasta untuk mendirikan televisi swasta. Pada tahun 1987 Departemen Penerangan mengizinkan berdirinya televisi swasta RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Kemudian menyusul SCTV (Surya Citra Televisi) pada tahun 1989. Pada tahun 1991 berdiri Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Selanjutnya berdiri stasiun televisi swasta Indosiar. Izin kembali diberikan pada tahun 1993 kepada stasiun televisi Anteve. Sepanjang tahun 2000 – 2001 bermunculan kembali stasiun televisi baru yaitu Metro TV, TV7, Trans TV, Lativi dan Global TV. Perkembangan selanjutnya TV7 berubah nama menjadi Trans 7 dan Lativi berubah menjadi TV One.

Setelah Mei 1998 kehidupan sosial politik di Indonesia mengalami perubahan signifikan. Secara menyeluruh sistem autoritarian yang sentralistik berubah menjadi system demokrasi yang berlandaskan pada semangat desentralisasi. Perubahan ini membawa akibat pada pola penyiaran televisi di Indonesia. Televisi swasta lebih bebas untuk menayangkan berbagai acara, tanpa takut pada sensor. Situasi semacam ini membuat televisi swasta lebih leluasa menayangkan ragam acara seperti : sinetron, musik, reality show, film, kuis, berita. Televisi dapat pula menayangkan talk show, debat, ataupun diskusi yang membahas kehidupan politik dan sosial di Indonesia secara lebih terbuka.

Pada sisi lain perembangan televisi lokal milik pemerintah daerah mengalami perkembangan cukup signifikan. Beberapa pemerintah daerah seperti Jakarta, Bandung dan Medan memiliki stasiun televisi, dan menyelenggarakan siaran bersaing dengan televisi swasta. Televisi lokal memiliki keterbatasan modal sehingga kualitas sumber daya manusianya juga terbatas. Televisi lokal hanyalah perwujudan kecil dari televisi Jakarta. Jika adapun perbedaannya adalah pemakaian setting, artis dan penggunaan bahasa lokal tempat stasiun televisi itu berada.

Kualitas Tayangan Televisi Di Indonesia

Perkembangan dunia televisi di Indonesia mengalami kemajuan besar. Hanya sayang, perkembangan dari sisi kuantitas, belum diiringi dengan perkembangan secara kualitas. Hal ini dapat kita amati dari berbagai komentar yang muncul, yang menyatakan bahwa tayangan televisi kita banyak bermuatan hal yang tidak mendidik. Wakil ketua KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Fetty Fajriati menyatakan: KPI setuju bahwa saat ini banyak tayangan televisi seperti sinetron dan lagu-lagu yang tak seronok dan tak mencerdaskan, bahkan membodohi masyarakat. (Kompas, 2007)

Berkaitan dengan muatan tayangan televisi di Indonesia, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (Mualyana & Ibrahim, 1997) telah melakukan penelitian tentang program tayangan di stasiun televisi Indonesia. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan. Jumlah persentase acara televisi terutama yang ditujukan bagi anak-anak masih relatif kecil, hanya sekitar 2,7 – 4,5% dari keseluruhan tayangan lainnya. Pada umumnya persentase tayangan yang sedikit ini memiliki materi yang sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan anak-anak. Salah satunya ialah banyak mengandung adegan “antisocial” daripada adegan “prososial” .  Adegan  prososial artinya tayangan yang mengandung nilai-nilai dan makna positif seperti disiplin, saling bekerja sama, saling membantu, bekerja keras, jujur, rendah hati, cinta keluarga, dan lain sebagainya.  Sementara itu, tayangan antisosial mengandung nilai-nilai dan makna negatif seperti : kekerasan, kemewahan, pornografi, mistik dan lain sebagainya.

Hasil yang sama ditemukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Lembaga ini bertugas memonitor kualitas siaran di Indonesia, melakukan pengamatan sepanjang April 2008 terhadap 47 sampel dari 10 stasiun televisi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari 7 kategori program hiburan (sinetron, variety show, film layar lebar/lepas dan reality show), acara musik (MTV Top, MTV Ampuh, MTV Musik Banget) menempati peringkat pertama acara yang memiliki muatan seks. (Media Watch, Habibie Center, 2008).

Hasil penelitian dia atas menunjukkan pada kita bahwasanya tayangan televisi tidak seluruhnya aman untuk ditonton. Alasan yang paling mendasar adalah karena banyak muatan nilai tidak mendidik yang terkandung di dalamnya daripada muatan mendidik. Khusus bagi orang tua yang memiliki anak kecil, penulis berpendapat sangat penting untuk melakukan pengaturan dalam pola menonton televisi anak. Pengaturan tersebut diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif yang mungkin akan muncul.

Pola Menonton Televisi pada Anak-anak Indonesia

Anak-anak menonton televisi untuk memenuhi rasa ingin tahunya yang besar, sebagai pengisi waktu, untuk menghilangkan kebosanan, dan sebagainya. Pda umumnya anak prasekolah menunjukkan minat yang lebih besar pada televisi dibanding anak usia sekolah yang sudah mulai mempunyai perhatian bermain yang lebih luas dan teman main yang lebih banyak. Lita Hadiati dalam Seminar berjudul Diet Televisi (2008) mengatakan : yang disukai anak dari media adalah keberagaman dan fleksibilitas hiburan, relaksasi, pendidikan, peluang hubungan sosial, mengembangkan minat, mengembangkan keterampilan, dan kemandirian.

Berapa jam anak-anak menonton televisi dalam satu hari? Pada umumnya anak-anak menonton televisi cukup lama, dan mereka cenderung menonton sepanjang waktu. Pada tahun 1950-an, anak-anak berusia 3 tahun menonton televisi kurang dari 1 jam setiap hari; anak-anak berusia 5 tahun hanya menonton lebih dari dua jam setiap hari. Tetapi pada tahun 1970-an, anak-anak prasekolah menonton televisi 11 hingga 28 jam setiap minggu (Huston, Wakins, & Kunkel, 1989), yang lebih lama daripada kegiatan apapun kecuali tidur. Keprihatinan khusus kita ialah sejauh mana ank-anak terpengaruh oleh kekerasan dan agresi yang diperlihatkan oleh televisi. Sampai 80% pertunjukan prime time mencakup tindakan kekerasan, termasuk berkelahi, menembak, dan menikam. Frekuensi pertunjukan kejahatan meningkat pada pertunjukan kartun yang ditayangkan pada hari Sabtu pagi, yang rata-rata lebih dari 25 tindak kekerasan per jam. (Santrock, 2002).

Gambaran yang sama dapat dilihat dari pola menonton televisi pada ank-anak Indonesia. Rata-rata anak Indonesia, menonton televisi jauh lebih lama dengan jam belajar mereka di sekolah. Mereka menghabiskan sekitar 1600 jam untuk menonton TV, dan hanya sekitar 740 jam untuk belajar di sekolah. Perhitungan ini didasarkan pada hasil Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006 mengenai jumlah jam menonton TV pada anak di Jakarta Bandung yang mendapati angka sekitar 30-35 jam seminggu, atau 4,5 jam dalam sehari sehingga dalam setahun mencapai kurang lebih 1600 jam. (Media Watch, Habibie Center, 2007).

Pada dasarnya anak-anak di kota Medan memiliki pola menonton televisi yang sama dengan anak-anak di kota lain. AGB Nielsen (2007) sebuah lembaga kajian mencatat bahwa anak-anak di Medan yang berumur 5-14 tahun menghabiskan waktu tiga jam dalam satu hari untuk menonton televisi. Pada masa liburan (sabtu atau minggu), lamanya menonton televisi meningkat menjadi 4-6 jam dalam satu hari.

Berdasarkan data penelitian di atas dapat disimpulkan bahwasanya pola menonton televisi anak-anak di Indonesia masuk kategori tahap penonton berat (hard viewers). Kategori penonton semacam ini, sangat rentan terhadap dampak buruk televisi. Apa saja dampak buruk yang dapat menimpa diri anak. Akan penulis uraikan pada bagian berikut.

Pengaruh Buruk Televisi pada Anak-anak

Tayangan televisi di Indonesia sejatinya tidaklah aman dikonsumsi anak-anak. Hal ini dikarenakan tayangan televisi Indonesia banyak mengandung tayangan tidak mendidik, seperti : kekerasan, kemewahan tiada tara, mistik dan muatan seks. Apabila hal semacam ini berlangsung terus menerus, maka dikhawatirkan akan member pengaruh buruk pada anak-anak. Anak-anak adalah pribadi yang mudah dipengaruhi, cara berfikirnya belum sebaik orang dewasa.  Anak-anak belum dapat membedakan tayangan yang baik dan buruk.

Kekhawatiran tentang pengaruh buruk televisi terutamanya tayangan kekerasan pada kanak-kanak telah mendapat perhatian sejak tahun 1946. Anderson dan Bushman (2002) mengatakan bahwa fakta empiris yang telah dikumpulkan oleh Kepala Jawatan Kesehatan Amerika Serikat pada tahun 1972, mengatakan bahwa kekerasan dalam televisi memang memiliki pengaruh yang merugikan pada golongan masyarakat tertentu, terutama pada kanak-kanak dan remaja.

Kekhawatiran adanya pengaruh buruk tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh George Gebner dan kawan-kawan dalam Teori Kultivasi, Gebner (Nurudin, 2007) telah melakukan penelitian jangka panjang yang dapat memastikan bahwa dalam jangka waktu cukup panjang televisi telah mampu mempengaruhi pandangan, sikap penontonnya, terutama bagi ‘penonton berat’ (hard viewers)

Kita tentu saja masih ingat beberapa kasus yang berkaitan dengan televisi. Pada tahun 2006 di Indonesia mengalami kasus buruk. Seorang anak meninggal dunia akibat meniru tayangan smack down. (Masduki & Nazaruddin, 2008). Anak-anak amat menyukai tayangan ini, dimana mempertunjukkan adegan perkelahian antar dua orang. Tayangan ini penuh adegan kekerasan, banyak adegan membanting, memukul, dan menyepak. Seorang anak sekolah dasar di Bandung meninggal dunia akibat mempraktekkan adegan ini bersama seorang temannya.

Pada tahun 2008, seorang anak usia 10 tahun membunuh ibu angkatnya dengan sebilah pisau. Perbuatan ini dilakukan karena si anak merasa tidak senang diberi nasihat oleh ibu angkatnya. Ketika ditanya mengapa anak tersebut membunuh? Si anak menjawab bahwa inspirasi untuk membunuh didapat dari tayangan kriminal di televisi. Anak tersebut mampu melakukannya karena sering menonton tayangan kriminal di televisi. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Ade Erlangga Masdiana dari Universitas Indonesia yang juga mengajar mata kuliah Media Massa dan kejahatan menerangkan bahwa meda menjadi alat pembelajaran bagi pelaku dalam mengemas perbuatan criminal (Kompas, 2008).

Ke dua kasus di atas, hanayalah sedikit dari banyak kasus yang terjadi. Beberapa kasus lainnya luput dari pemberitaan media massa. Misalnya anak-anak yang menjadi cepat dewasa, ucapan dan sikapnya meniru artis yang ia tonton di televisi. Banyak pula anak-anak menjadi lebih konsumtif membeli barang (makanan, minuman, mainan dan pakaian) setelah menonton iklan di televisi.

Tantangan Mewujudkan Televisi Sehat bagi Anak Indonesia

Adanya beberap kasus akibat pengaruh buruk televisi pada anak-anak, telah mendorong para pendidik, orang tua, pemerhati media, LSM dan organisasi masyarakat, di Indonesia melakukan tindakan nyata. Protes terbuka telah ditayangkan kepada stasiun televisi swasta. Seminar, kajian dan penyuluhan telah pula dilakukan. Namun gerakan utuk mewujudkan televisi sehat masih menemui tantangan.

Effendi Gazali, pakar ilmu komunikasi menyatakan bahwa kita tidak bias berharap pada kerelaan pemilik stasiun televisi untuk mengubah acara televisi yang cenderung membodohi ke siaran yang lebih mencerdaskan bangsa (Kompas, 2007). Pernyataan ini sekaligus kian menegaskan bahwa masih terbentang jalan yang panajang utuk mewujudkan televisi sehat bagi anak. Upaya mewujudkan televisi sehat harus kita lakukan bila kita menginginkan anak Indonesia cerdas dan kreatif. Televisi sehari adalah siaran televisi dimana acaranya mengandung tayangan yang bermanfaat bagi anak, sehingga dapat menambah pengetahuan, mencerdaskan dan menjadikan mereka sebagai anak yang kreatif.

Penulis memperkirakan ada tiga tanatangan yang dihadapi. Tanatangan tersebut adalah :

  1. Pelaksanaan Regulasi Penyiaran secara Tepat dan Konsekwen

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) adalah satu lembaga yang bertugas mengatur dan mengawasi penyiaran di Indonesia. KPI bentuk sebagai amanat pasal 16 poin (4) undang-undang Nomor 32 tahun 2002 tentang  penyiaran mulai diberlakukan pada 28 Desember 2002. Dalam menjalankan fungsinya, KPI mempunyai wewenang untuk :

a)      menetapkan standar program siaran

b)      menyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaran

c)      mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program penyiaran

d)      memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran dan

e)      nelakukan koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah, lembaga penyiaran dan masyarakat (Sunarto, 2009)

Selanjutnya dalam buku Sunarto tersebut menyatakan bahwa UU Penyiaran juga secara terbuka melindungi penonton anak dari tayangan tidak mendidik. Keberadaan anak-anak disinggung secara eksplisit pada undang-undang penyiaran bab IV tentang Pelaksanaan pasal 36 ayat (3) yang menyatakan, isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kpada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai dengan isi siaran. Pada pasal 18 terkait dengan posisi anak-anak dan remaja sebagai narasumber. Dalam pasal 35 tentang kekerasan dalam prdogram anak-anak ditegaskan, bahwa dalam program anak-anak, kekerasan tidak bo;eh tercipta kesan bahwa kekerasan adalah hal lazim dilakukan dan tidak memiliki akibat serius bagi pelaku dan korbannya.

Namun keberadaan KPI hingga saat ini belum mampu untuk menjalankan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 – SP3) khususnya kepada stasiun televisi swasta. Tayangan televisi swasta masih banyak menayangkan kekerasan, mistik, kemewahan dan muatan seks. Pihak televisi swasta tidak memperdulikan peraturan yangtelah dibuat. Apabila ada pelanggaran, pihak KPI hanaya member peringatan keras saja. Wewenang untuk menghentikan penyiaran tidak berada di tangan KPI. Situasi semacam inilah yang membuat lembaga KPI kedudukannya menjadi lemah.

Mengapa UU no.32/2002 belum dapat dilaksanakan secara murni dan konsekwen? Hal ini dikarenakan belum ada PP atau Peraturan Pemerintah yang mengaturnya. Proses penyusunan mengenai PP ini sudah dimulai sejak akhir Maret 2004. Antara pihak KPI dengan Asosiasi Televisi Swasta Indonesia, Jaringan Radio Komunikasi Indonesia serta Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia. Tim ini juga berkoordinasi dengan Departemen Komunikasi dan Informatika. Namun penyusunan PP ini menemui jalan buntu, khususnya mengenai kewenangan perijinan. (Wirodono, 2005)

Regulasi penyiaran yang dilaksanakan sesuai dengan undang-undang merupakan tanatanagan bagi pemerintah khususnya bagi KPI. Semua pihak utamanya masyarakat sebagai konsumen, merasa berkepentingan bagi terlaksananya regulasi ini dengan baik. Regulasi merupakan pintu pertama yang diharapkan dapat menertibkan siaran televisi swasta di Indonesia.

Apabila kita melihat regulasi pada Negara-negara maju. Regulasi dan pengawasan adalah sebuah kemutlakan untuk media massa. Pengaturan dan pengawasan justru diperlukan untuk melindungi hak-hak public karena pengaruh media massa. Regulasi  bukan membatasi isi, melainkan menata system supaya ada keadilan. Demokrasi member tempat luas pada kebebasan dan mekanisme pasar agar muncul yang terbaik. Namun demokrasi juga menjunjung tinggi regulasi untuk menjamin terjadinya keadilan. Tanpa regulasi, keadilan akan mudah dimanipulasi oleh kelompok kekuatan tertentu, yang mempunyai kekuasaan dan kapital.

2. Peningkatan Kualitas Tayangan Televisi Pro Anak

Peningkatan mutu tayangan televisi adalah tantangan kedua dalam mewujudkan televisi sehat bagi anak Indonesia. Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh mengatakan bahwa televisi hendaknya bisa menayangkan acara yang disebutnya mengandung unsur 3 EN, yaitu Education, Empowerement, Enlightment dan Nasionalism. (Kompas, 2007)

Education maksudnya semua informasi yang ditampilkan harus bisa berfungsi edukasi. Bangsa Indobesia bisa menjadi besar kalau terus menerus sadar bagaimana mendidik dirinya. Unsur empowerment stasiun televisi harus bisa memberdayakan penonton. Unsur enlightment stasiun televisi harus mampu mencerahkan pemikiran dan kehidupan bangsa Indonesia. Apalagi pada masa kini bangsa Indonesia sedang mengalami berbagai masalah berat yang perlu mendapat perhatian dan penyelesaian. Dalam konteks nationalisme stasiun televisi diharapkan dapat membangun dasar yang kokoh dan memiliki visi yang jauh ke depan, agar bangsa Indonesia kehidupannya menjadi lebih baik.

Khusus bagi penonton anak-anak, pihak stasiun televisi menghadapi tantangan tersendiri. Tantangannya adalah mampu menayangkan dan menghasilkan tayangan yang bersahabat bagi anak. Isi pesan, baik audio maupun visualnya harus sesuai dengan ciri khas anak-anak. Penyajiannya harus diberikan pada saat anak belum tidur. Pihak perencana program harus menyadari bahwa pada dirinya terletak tanggung jawab moral terhadap perkembangan anak.

Penulis beranggapan bahwa tayangan televisi saat ini amat dipengaruhi oleh rating. Angka rating menunjukkan berapa banyak suatu program ditonton oleh pemirsa televisi. Program acara berating tinggi mempunyai peluang lebih tinggi untuk mendapatkan iklan. Senaliknya acara yang ratingnya rendah (betapapun acara tersebut berkualitas) akan kesulitan mendapatkan iklan yang mahal harganya. Karena biro iklan dan pengiklan lebih suka menempatkan produknya di acara yang mempunyai rating tinggi, dengan harapan akan lebih banyak orang yang menonton dan memperoleh informasi produk.

Kecenderungan ini berdampak serius bagi televisi. Karena pendapatan utama stasiun televisi adalah dari iklan, maka stasiun televisi juga menyesuaikan diri dengan membuat program yang diharapkan akan mempunyai rating tinggi. Rating lalu menjadi acuan bagi stasiun televisi untuk memproduksi atau tidak program-program acara.

Akibat dari kecenderungan tersebut adalah munculnya tayangan yang seragam atau mirip satu sama lain dari stasiun televisi yang berbeda. Kesuksesan program televisi di satu stasiun televisi “ditiru” oleh stasiun televisi lain dengan membuat program yang kurang-lebih sejenis. Karena yang dikejar adalah aspek menghibur dan kecepatan produksi, aspek-aspek kualitas menjadi cenderung ternafikan.

Kondisi semacam ini mengakibatkan stasiun televisi swasta cenderung mengabaikan idealisme. Bagi mereka yang penting adalah bagaimana caranya mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya. Sebahagian besar lebih suka menayangkan sinetron atau film, dimana dalam tayangan semacam itu banyak menayangkan adegan kekerasan, mistik dan pornografi.

Sampai saat ini, penulis mengamati belum ada pebaikan mutu tayangan yang signifikan. Pemerintah Indonesia telah mendirikan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang bertugas mengatur penyiaran di Indonesia, termasuk televisi. KPI memiliki SP3 yaitu Standard Pedoman Perilaku Penyiaran yang patut dijalankan oleh seluruh stasiun televisi. Peraturan ini dibuat agar tayangan yang muncul di televisi adalah tayangan yang mendidik dan membawa manfaat. Namun kenyataannya menunjukkan bahwa peraturan ini tidak sepenuhnya dijalankan oleh pihak stasiun televisi. Hingga kini masih banyak tayangan kekerasan, mistik dan pornografi muncul di televisi.

3.  Kondisi Budaya Masyarakat Indonesia

Televisi adalah media yang paling banyak dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Televisi pada saat ini telah menjadi media keluarga. Mereka beranggapan bahwa media ini harus dimiliki oleh setiap keluarga. Sebuah rumah baru dikatakan lengkap jika ada televisi di dalamnya. Hal ini tidak hanya berlaku pada keluarga masyarakat kota saja, melainkan telah sampai pada rumah di desa.

Jumlah kepemilikan televisi yang ada di Indonesia mencapai 30 juta (Wirodono, 2005) Apabila satu televisi ditonton oleh tiga orang, maka ada penonton berjumlah 90 juta orang. Sebuah jumlah yang amat besar sekali. Kegiatan menonton televisi berbeda dengan membaca dan menulis. Menonton televisi tidak memerlukan syarat tertentu, seperti membaca menulis. Oleh karena itu kegiatan menonton televisi merupakan kegemaran bagi sebahagian besar masyarakat Indonesia.

Budaya menonton televisi menjadi dominan diantara berbagai kegiatan lainnya. Bahkan mampu menggeser kegiatan lain yang lebih penting. Dalam satu penelitian yang dilakukan oleh LIPI di Sulawesi Selatan para petani mengubah cara tidur mereka setelah televisi hadir. Mereka tidur pada pukul 01.00 malam. Akibatnya mereka pergi ke sawah lebih siang dari waktu sebelumnya (Rakhmat dalam Mulyana & Subandy, 1997).

Mengapa televisi begitu mempengaruhi masyarakat Indonesia? Salah satu penyebabnya karena budaya menonton hadir disaat budaya membaca dan menulis belum kuat tertanam. Kondisi ini membuat masyarakat menjadi amat mudah terpengaruh. Mereka cenderung lebih cepat menerima dan menikmati televisi karena lebih mudah. Dibandingkan dengan kebiasaan membaca dan menulis yang memerlukan waktu lama untuk mempelajari agar mahir dan terampil.

Gambaran kondisi masyarakat Indonesia seperti ini, ditambah dengan tingkat pengetahuan yang masih rendah, mengakibatkan mereka menjadi bangsa penikmat sejati televisi. Tiada hari dilewatkan tanpa menonton televisi. Mereka menjadi penonton pasif, cenderung menerima apa saja yang diberikan oleh televisi. Hal semacam ini yang menjadi tantangan bagi terciptanya televisi sehat bagi anak. Masyarakat tidak bisa diharapkan dengan cepat berubah menjadi cerdas dan pintar. Untuk mencapainya, diperlukan rentang waktu cukup panjang. Disamping itu diperlukan pula peran pemerintah agar masyarakat berubah. Perlu disusun satu program melek media, agar masyarakat menjadi cerdas menggunakan media dan mampu menyeleksi isi media, khususnya media televisi.

SIMPULAN DAN SARAN

Perkembangan televisi di Indonesia mengalami berbagai masalah dianataranya persoalan kualitas dan pengaruh yang ditimbulkannya. Oleh sebab itu kita perlu terlebih dahulu menyelesaikan persoalan tersebut. Dalam rangka mewujudkan televisi sehat bagi anak Indonesia, kita menghadapi tantangan di masa depan. Tantangan tersebut akan dapat diatasi apabila semua pihak saling bekerjasama dan memiliki goodwill. Artinya diperlukan satu kerjasama yang komprehensif antara pemerintah, penyelenggaran televisi dan masyarakat. Tanpa dukungan ketiganya, tidak bisa mengharapkan munculnya perubahan. Bahwa semua komponen bangsa berhak untuk mendapat pelayanan dan perhatian. Khususnya bagi anak-anak, generasi yang kita harapkan mampu membawa bangsa Indonesia menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Bila ada pendapat yang menyatakan “isu anak” bukanlah isu yang seksi untuk dibicarakab, maka sudah saatnya pendapat itu kita abaikan.

*tulisan dimuat dalam Jurnal Ilmu Sosial “PERSPEKTIF” Volume 3, Oktober 2010