Tags

,

Oleh : Dra. Mazdalifah, Msi

A. Pendahuluan

Literasi media adalah sebuah istilah yang mengacu pada kemampuan seseorang dalam memahami, menyeleksi, menggunakan dan memproduksi pesan. Setiap insan selayaknya memiliki kemampuan ini. Hal ini dimaksudkan agar seseorang dapat memaksimalkan secara positif potensi media, dan meminimilasir dampak negatif media. Bila kita mengamati, kehidupan manusia modren dewasa ini telah menempatkan media sebagai bagian kehidupan yang amat penting. Media seperti : televisi, surat kabar/majalah, internet, radio, handphone dan film, menjadi bagian tidak terpisahkan. Istilah “tidak bisa hidup tanpa media” bukanlah hal yang aneh.

Potter (2005) menyatakan kita perlu meningkatkan kemampuan literasi media, karena kita diserbu dengan aneka pesan (message saturation). Budaya keseharian kita digambarkan sebagai sebuah supermarket yang penuh dengan pesan media. Disadari atau tidak pesan itu menerpa kita, dimana saja dan kapan saja. Kondisi ini mengakibatkan kita menjadi kelebihan informasi, dan bila tanpa penyaring (filter), pesan tersebut akan kita terima begitu saja (taken for granted). Padahal jika ditelusuri lebih lanjut, informasi tersebut belum tentu “aman”.

Sejak era reformasi bergulir, media menjadi lebih bebas untuk menginformasikan berbagai hal. Masyarakat mendapatkan informasi dengan cepat, dari sumber yang beraneka ragam, nyaris tanpa sensor yang ketat. Media memiliki kebebasan dalam menginformasikan apa saja. Dalam situasi semacam ini, tanpa kita sadari hal negatif seperti : kekerasan, gaya hidup mewah tiada tara, perselingkuhan, mistik, dan pornografi, memasuki dan merasuki hidup kita. Seperti yang dinyatakan pula oleh Gebner (dalam Sunarto : 2009), violence on television is an integral part of system of global marketing.

Fenomena isi media yang banyak memuat pesan dan nilai-nilai negatif cenderung semakin meningkat. Orientasi profit yang menjadi dasar pendirian media, membuat isi pesan media semakin sulit untuk berubah. Pihak pemerintah yang diwakili oleh KPI sebagai pemantau isi media, tidak dapat berbuat banyak. Oleh sebab itu masyarakat harus membentengi diri dan keluarganya agar dapat memanfaatkan media dengan benar. Apalagi jika berkaitan dengan khalayak media, yang kebanyakan adalah anak-anak dan remaja. Maka keluarga adalah institusi (lembaga) yang paling tepat untuk melakukan literasi media.

B. Mengapa Keluarga?

Keluarga menduduki posisi terpenting diantara lemmbaga-lembaga sosial yang memiliki perhatian terhadap pendidikan anak dan remaja. Lembaga pendidikan apapun tidak akan mampu menggantikan posisi keluarga dalam mendidik meskipun sains dan tatanan kemasyarakatan telah berkembang pesat. Dalam budaya timur, peran keluarga bukan saja berperan dalam kehidupan anak dan remaja saja. Keluarga berperan pula dalam menentukan kehidupan anggota keluarga lain yang telah dewasa. Hal ini berbeda dengan budaya barat, dimana pada usia tertentu anak dapat hidup berpisah dari keluarganya.

Keluarga dalam istilah sosiologi dikenal sebagai keluarga batih (nuclear family). Keluarga merupakan institusi terkecil dalam masyarakat sebagai wadah dan proses pergaulan hidup. Biasanya keluarga terdiri dari Ayah, Ibu dan anak-anak. Namun dalam kenyataannya, keluarga dalam budaya Indonesia memiliki lingkup lebih luas. Anggota keluarga seperti : kakek, nenek, paman atau bibi, dapat menjadi keluarga inti. Hal ini dikarenakan budaya Indonesia yang memiliki nilai kekerabatan sangat tinggi. Sistem semacam ini membuat kakek, nenek, paman atau bibi, dari kedua belah pihak, tinggal dan hidup bersama dalam satu rumah dan saling berinteraksi.

Anak-anak dan remaja mengenal orangtua mereka sebagai orang pertama. Pada proses selanjutnya mereka akan mengenali saudara, kerabat di sekitar lingkungannya. Pola dan pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari merupakan proses sosialisasi bagi anak dan remaja. Orang tua, saudara-saudara maupun kerabat terdekat lazimnya mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak, agar supaya anak tersebut memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar dan baik, melalui penanaman disiplin dan kebebasan serta penyerasiannya. Pada saat ini orang tua, saudara maupun kerabat melakukan sosialisasi yang diterapkan penuh kasih sayang. Anak dan remaja di didik untuk mengenal nilai-nilai tertentu, seperti : nilai ketertiban, ketentraman, kebendaan, keahlakan, kelestarian, dan sebagainya.

Berkaitan dengan literasi media, maka keluarga yang dimaksud disini adalah ayah dan ibu. Seorang anak dan remaja membutuhkan orangtua (ayah/ibu) yang peduli terhadap pendidikan dan perkembangannya, termasuk dalam melakukan literasi media. Soerjono Soekanto (2004) menyatakan : Bahwa keluarga batih (ayah, ibu dan anak-anak) dianggap sebagai satu sistem sosial, oleh karena memiliki unsur-unsur sistem sosial, yang pada pokoknya mencakup kepercayaan, perasaan, tujuan, kaidah-kaidah, kedudukan dan peranan, tingkatan atau jenjang, sanksi, kekuasaan dan fasilitas. Selanjutnya ia menyatakan bahwa seorang anak/remaja akan sukses dan akan gagal dipengaruhi oleh peran keluarganya. Peran tersebut adalah :

  1. Keluarga batih berperanan sebagai pelindung bagi pribadi-pribadi yang menjadi anggota, dimana ketentraman dan ketertiban diperoleh dalam keluarga tersebut.
  2. Keluarga batih merupakan unit sosial-ekonomis yang secara materil memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya.
  3. Keluarga batih menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah pergaulan hidup.
  4. Keluarga batih merupakan wadah dimana manusia mengalami proses sosialisasi awal, yakni suatu proses dimana manusia memepelajari dan mematuhi kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Selanjutnya Cocey (dalam Yusuf, 2008) mengajukan empat prinsip peranan keluarga yaitu:

  1. Modelling (example of trustworthness). Orangtya adalah contoh atau model bagi anak dan remaja. Tidak dapat disangkal bahwa contoh dari orangtua mempunyai pengaruh yang sangat kuat. Orangtua merupakan model pertama dan terdepan (baik positif maupun negatif) dan merupakan pola bagi “way of life” anak. Melalui modelling orangtua mewariskan cara berfikirnya kepada anak, yang kadang-kadang sampai pada generasi ketiga atau keempat. Melalui modelling anak dan remaja belajar tentang sikap pro aktif, sikap respek dan kasih sayang.
  2. Mentoring yaitu kemampuan menjalin atau membangun hubungan, investasi emosional (kasih sayang kepada orang lain) atau pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur, pribadi dan tidak bersyarat. Orangtua merupakan mentor pertama bagi anak dan remaja yang menjalin hubungan dan memberikan kasih sayang secara mendalam, baik secara positif atau negatif. Orangtua menjadi sumber pertama bagi perkembangan perasaan anak dan remaja: rasa aman atau tidak aman, dicintai atau dibenci. Orangtua tetap dan selalu menjadi mentor bagi anak dan remaja.
  3. Organizing, yaitu keluarga seperti perusahaan yang memerlukan tim kerja dan kerjasama antar angota dalam menyelesaikan tugas-tugas atau memenuhi kebutuhan keluarga. Peran organizing adalah untuk meluruskan struktur dan sistem keluarga dalam membantu hal-hal yang penting.
  4. Teaching. Orang tua berperan sebagai guru (pengajar) bagi anak dan remaja tentang hukum-hukum dasar kehidupan. Melalui pengajaran ini orangtua berusaha memberdayakan (empowering) prinsip-prinsip kehidupan, sehingga anak dan remaja memahami dan melaksanakannya.

Dari uraian diatas kita dapat melihat, betapa pentingnya keluarga batih dalam pendidikan dan kepribadian seseorang. Apabila keluarga memiliki kesadaran tinggi tentang pendidikan, diharapkan keluarga khususnya ayah ibu dapat membimbing anak dan remaja dengan baik. Keluarga dapat mengarahkan dan memaksimalkan potensi anak dan remaja. Caranya dengan melakukan strategi tertentu dalam mendidik anaknya. Termasuk strategi dalam mendidik anak dan remaja dalam literasi media.

C.Apa yang dilakukan keluarga dalam Literasi literasi?

Literasi media merupakan sebuah kegiatan pendidikan media yang memiliki tujuan agar masyarakat mampu untuk memahami, menganalisis, sekaligus mampu menciptakan dan memproduksi pesan. Agar hal tersebut dapat dicapai tentu saja memerlukan dukungan berbagai pihak. Keluarga adalah salah satu institusi yang dapat menjadi ujung tombak literasi media di Indonesia.

Budaya Indonesia menempatkan posisi dan peran keluarga sangat penting. Peran orangtua (ayah/ibu) dalam keluarga sangat besar dan memiliki posisi sangat dihormati. Apabila ayah/ibu mempunyai aturan atau panduan tentang satu hal, maka anak-anaknya akan patuh mengikuti. Oleh sebab itu bila ayah/ibu telah melakukan literasi media, maka anak atau anggota keluarga lainnya akan termotivasi untuk melakukannya. Dalam konteks ini keluarga menjadi andalan menyebarluaskan gagasan ini ke seluruh masyarakat luas.

Prof. Milton Chen memberi petunjuk bagaimana keluarga dapat berperan . ia menyatakan bahwa orangtua berperan dalam membimbing anak, terutama dalam hal mengunakan dan mendapatkan manfaat kehadiran televisi di rumah : “dalam proses ini peran orangtua juga lebih penting daripada yang berani diakui para pemikir pendidikan tradisional. Usaha-usaha pembaharuan pendidikan telah mulai menggarap orangtua bisa bekerjasama dengan sekolah dan dengan organisasi kemasyarakatan dengan memusatkan perhatian pada : si anak secara utuh. Dan sekali kita memusatkan pikiran pada rumah, kita juga harus memusatkan pikiran pada bagaimana waktu dilewatkan di rumah.”

Selanjutnya Pungente menjelaskan beberapa aspek yang mendukung literasi media. Ada sembilan kunci utama membangun dan melanjutkan media sebagai pendidikan di masa depan. Ia menyatakan bahwa Pendidikan literasi media berkaitan dengan keragaman dan ketrampilan, maka harus ada kerjasama berbagai pihak antara guru, orangtua, peneliti dan media. (Singer & Singer: 2001).

Berdasarkan berbagai penjelasan di atas maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan keluarga dalam kegiatan literasi media. Diantaranya adalah :

  1. Keluarga harus memiliki pengetahuan literasi media. Pengetahuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam embangun media literasi media kepada anak dan remaja mereka. Potter (2005) menyebutkannya sebagai Knowledge Structure. Yaitu seperangkat pengetahuan yang harus dimiliki oleh individu, manakala ia harus berhadapan dengan media. Seperangkat pengetahuan tersebut berisikan tentang : pengetahuan isi media (media content), pengaruh media (media effect) dan industri media (media industri).

Ayah/ibu sebagai tokoh penting dalam keluarga, selayaknya memiliki pengetahuan ini. Apabila mereka telah memiliki pengetahuan tersebut, mereka dapat memahami, menganalisa, mengkritisi saat berinteraksi dengan media. Ayah/ibu pada akhirnya dapat membentengi dirinya, sehingg pada akhirnya dapat menjadi role model yang baik bagi anak dan remaja.

Ayah/ibu sebagai pemegang otoritas dalam keluarga dapat menularkan pengetahuan ini kepada anaknya. Ayah/ibu sebagai orangtua menjalankan peran teaching yaitu sebagai guru, menjelaskan tentang berbagai nilai kehidupan yang bermanfaat bagi anak dan anggota keluarga lainnya. Pendidikan literasi media, amat efektif jika dilakukan secara berkesinambungan. Keluarga adalah institusi yang dapat melakukan literasi ini secara sinambung dan terus menerus. Keluarga memiliki modal utama seperti : adanya kedekatan emosional, waktu yang selalu tersedia kapan saja, dan rumah sebagai tempat yang nyaman dimana semua anggota keluarga dapat berkumpul.

2. Keluarga harus memiliki keterampilan (skill) literasi media. Sebagai sebuah kegiatan yang bernuansa pendidikan, maka literasi media akan semakin baik apabila individu memiliki ketrampilan. Tujuan utama literasi media, tidak hanya berhenti pada tataran pengetahuan saja. Tetapi harus pula mencapai tataran ketrampilan. Yang dimaksud dengan ketrampilan disini adalah individu mampu menciptakan pesan, perilaku atau media. Misalnya : ayah/ibu mampu menjelaskan kepada anak dan remaja tentang sinetron televisi. Baik dari sisi positif maupun negatif. Atau ayah/ibu diharapkan mampu memproduksi tayangan sederhana, yang dapat dinikmati oleh anak dan anggota keluarga lainnya. Contoh lain yang dapat dilakukan adalah menulis di surat kabar, majalah atau media internet berupa : opini, surat pembaca atau artikel.

D. Tantangan yang dihadapi keluarga di masa depan

Memanfaatkan institusi keluarga sebagai ujung tombak literasi media di Indonesia adalah hal yang paling sederhana dan memberi dampak yang maksimal. Namun implementasinya di masa depan memiliki sejumlah tantangan berat. Beberapa tantangan yang akan dihadapi adalah :

  1. Terjadinya pergeseran fungsi institusi keluarga, khususnya di perkotaan. Kehidupan modren dewasa ini, pelan dan pasti merubah perilaku manusia termasuk interaksi dalam keluarha. Ayah memiliki kesibukan dalam pekerjaan. Ibu di era modren ini, bekerja di luar rumah sebagai aktualisasi dan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Kesibukan pekerjaan membuat kualitas dan kuantitas waktu bertemu semakin berkurang. Ayah ibu memiliki kesibukan dan cenderung mengalihkan peran modelling dan teaching kepada orang atau lembaga lain. Meskipun hal ini dapat dilakukan, namun sebaik-baik model dan guru adalah tetap ayah dan ibu. Anak-anak dan remaja tetap membutuhkan ayah dan ibu sebagai figur penting dalam hidupnya.
  2. Perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih

Perkembangan teknologi komunikasi mampu menciptakan media canggih,   akses yang cepat, dan terjangkau oleh semua orang. Kondisi ini mengakibatkan semua orang dengan mudah dapat mengakses informasi dengan murah, dimana dan kapan saja. Anak-anak dan remaja adalah pengguna media, yang dengan cepat dapat beradaptasi. Mereka dengan mudah dapat mempelajari media dan memanfaatkannya dalam keseharian. Hal semacam ini yang dapat menjadi celah, anak dan remaja memperoleh informasi negatif. Oleh sebbab itu keluarga (ayah dan ibu) harus mengetahui dan mempelajari media baru, seperti : internet atau handphone dengan fitur-fitur yang canggih. Hal ini dimaksudkan agar ayah ibu tidak mengalami gagap teknologi manakala menemui anaknya bermasalah. Atau manakala anak dan remaja menanyakan satu hal kepada mereka. Pengetahuan tentang teknologi terbaru, akan memudahkan keluarga (ayah dan ibu) dalam mendidik literasi media pada anak dan remaja.

3. Regulasi yang belum maksimal.

Regulasi dalam bidang penyiaran ataupun dalam penerbitan belum berjalan dengan baik. Pihak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atau PWI sebagai pihak yang berwenang dalam memantau isi siaran dan berita belum dapat melaksanakan tugasnya secara maksimal. Pemantauan berlangsung kalau ada siaran atau berita yang kurang baik. Belum ada pengaturan dan pengawasan yang terus menrus. Bentuk-bentuk teguran dan himbauan dalam mengatur siaran dan berita, belum efektif menghentikan berita dan siaran yang merugikan masyarakat.

E. Penutup

Literasi media adalah kegiatan yang memerlukan kesinambungan dan partisipasi dari semua pihak. Institusi keluarga merupakan lembaga yang berperan penting dalam masyarakat. Literasi media menjadi sukses bila didukung oleh institusi keluarga, khususnya bila berkaitan dengan anak-anak dan remaja. Institusi keluarga merupakan modal osial dan memiliki keunggulan tersendiri yang dimiliki bangsa Indonesia. Kita dapat memanfaatkan institusi keluarga untuk menggerakkan dan membangun literasi media di Indonesia.

*Tulisan dimuat dalam Kumpulan Makalah Workshop Nasional “Konsep & Implementasi Media Literacy Di Indonesia”