Oleh Dra. Mazdalifah, MSi

Harian Waspada pada tanggal 12 Mei 2008 dalam tajuk rencananya menyatakan: meminta masyarakat untuk mewaspadai 10 program acara yang ditayangkan oleh Sembilan stasiun televisi swasta Indonesia. Lebih lanjut tajuk rencana tersebut menyatakan bahwa ke sepuluh acara televisi ini dinilai paling banyak melanggar Standar Program Siaran KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), antara lain melanggar norma kesopanan dan kesusilaan dengan menampilkan kekerasan, menampilkan kata-kata kasar, merendahkan dan melecehkan orang lain.

Persoalan mengenai tayangan yang tidak mendidik (kekerasan, mistik, pornografi, kemewahan yang berlebihan, dan lain-lain) di televisi, sesungguhnya telah terjadi sekian lama di bumi Indonesia. Penulis mengamati secara intens bahwa maraknya tayangan tidak mendidik semakin merajalela sejak tahun 1998, dimana pada saat itu semua media mengalami euphoria yang amat sangat, artinya media memiliki kegembiraan yang luar biasa memiliki kebebasan untuk menayangkan ataupun memberitakan apa saja. Konsekuensi adanya kebebasan yang amat luar biasa ini, member kesempatan munculnya tayangan tidak mendidik (tayangan sampah). Dan akhirnya kita menjadi saksi hari demi hari, anak-anak, remaja, ibu rumah tangga, kaum bapak, bahkan orang tua lanjut usia, semakin diserbu oleh aneka tayangan sampah tersebut.

Kenyataan menunjukkan sudah sepuluh tahun lamanya berlangsung persoalan dan keluhan mengenai tayangan tidak mendidik. Namun, apa yang kita lihat saat ini? Tiada perubahan berarti dari tayangan televisi kita. Sementara beberapa kejadian buruk terus berlangsung seperti: jatuhnya korban anak-anak akibat tayangan Smack Down, korban akibat meniru adegan film Naruto, atau untuk lingkup dunia adalah kasus penembakan di Universitas Virginia Tech oleh Seung-Hui Cho, yan diduga dipicu oleg adegan kekerasan dalam film Old Boy di Amerika (Dictum, September 2007).

Dalam kajian Ilmu Komunikasi hal tersebut dikenal dengan Media Literacy (kecakapan bermedia atau melek media), dimana khalayak/masyarakat /penonton diharapkan memiliki kepintaran dalam menggunakan media, baik media cetak dan media elektronik. Kepintaran ini diharapkan tercermin dari pengetahuan dan keterampilan menggunakan media, sehingga khalayak/masyarakat lebih banyak memperoleh manfaat daripada mudaratnya. Hal inilah yang paling mungkin dan amat realistis untuk dilakukan, dalam rangka mengantisipasi tayangan sampah. Pendidikan media literacy adalah keharusan agar masyarakat menjadi pintar.

Apakah media literacy itu?

Istilah media literacy mungkin belum begitu akrab ditelinga kita. Masyarakat mungkin masih terheran dan kurang paham jika ditanya apa sebenarnya media literacy tersebut. Para ahli pun memiliki konsep yang beragam tentang pengertian media literacy , Mc Cannon mengartikan media literacy sebagai kemampuan secara efektif dan secara efisien memahami dan menggunakan komunikasi massa (strasburger & Wilson, 2002). Ahli lain James W Potter (2005) mendefinisikan Media Literacy sebagai satu perangkat perspektif dimana kita secara aktif memberdayakan diri kita sendiri dalam menafsirkan pesan-pesan yang kita terima dan bagaimana cara mengantisipasinya. Secara ringkas Media Literacy artinya adalah pintar, cakap, mampu dengan baik, menggunakan, memahami, menganalisa media, baik media televisi, radio, surat kabar dan film. Kajian media literacy terkini menunjukkan adanya perkembangan media seperti video, komputer, dan internet.

Tulisan ini berupaya menekankan Media Literacy pada televisi, mengingat media ini amat popular di masyarakat dan tingginya waktu menonton televisi di masyarakat khususnya pada anak-anak. Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (2002) melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa: anak Indonesia menghabiskan waktu menonton sekitar 30-35 jam per minggu, atau 4-5 jam per hari.

Mengapa perlu Media Literacy?

Pertanyaan ini menjadi amat mendasar apabila kita ingin mewujudkan hadirnya tayangan mendidik, dan memperkecil pengaruh buruk televisi. Keprihatinan terhadap mutu tayangan di televisi merupakan alassan yang amat mendasar, mengapa kita memerlukan Media Literacy. Kehidupan modern dan perkembangan teknologi canggih membuat manusia dalam kesehariannya selalu diterpa oleh media. Istilah populernya adalah tiada hari tanpa media.

Saat kita bangun pagi, setelah shalat subuh biasanya kita akan menyetel televisi menyaksikan berita terkini, atau bagi sebagian orang berlangganan surat kabar, sudah dapat membaca dan menikmatinya di pagi hari. Bergegas mandi, sebahagian dari kita terbiasa menyanyi sambil mengikuti lagu dari radio atau tape. Duduk menikmati hidangan sarapan, mata kita tidak lepas dari surat kabar atau televisi. Berangkat ke kantor, di dalam kendaraan pun anda menyetel kaset berisi lagu kesayangan atau memutar lagu kesayangan. Sampai di kantor, kita sibuk di depan computer, mengakses data melalui internet  hingga sore hari. Pulang ke rumah, kita pun duduk santai di depan televisi menikmati tayangan sore hari atau membaca majalah yang dibeli. Terakhir, saat malam hari menjelang tidur kita pun menyempatkan diri untuk mengecek pekerjaan lewat computer, membalas email teman dan sebagainya. Bahkan bagi beberapa orang, tidur akan semakin nyenyak jika diiringi musik instrumentalia yang syahdu.

Persoalan tayangan sampah yang ditengarai dapat mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku kita akan dapat diatasi jika sejak dini mulai dilakukan tindakan pencegahan. Sebab jika tidak, masyarakat akan terus terbuai menyaksikan tayangan sampah, yang mereka katakan menghibur tetapi sesungguhnya dapat menjerumuskan. Oleh sebab itu pendidikan tentang Media Literacy terutama bagi keluarga, adalah mutlak dilakukan.

Media Literacy pertama kali dikembangkan sebagai alat dalam melindungi orang-orang dari paparan media. Negara yang pertama kali mendengungkan konsep ini adalah Inggris pada tahun 1930  an. Pada tahun 1980  di Inggris dan Australia Media Literacy sudah menjadi mata pelajaran tersendiri. Sementara itu di Eropa pendidikan Media Literacy diperkenalkan pada kurikulum dasar di Negara Finlandia pada tahun 1970 dan pendidikan menengah atas tahun 1977. Di Negara Swedia Media Literacy berkembang sejak tahun 1980, dan di Denmark sejak tahun 1970.

Apa saja yang ingin dicapai lewat pendidikan Media Literacy ini? Pada umumnya pendidikan Media Literacy khususnya televisi, yang dilakukan di Negara maju menekankan pada peran orangtua agar bersikap kritis dalam menonton. Artinya kita tidak dibenarkan menerima apa saja yang ditawarkan, tanpa memahami dan menganalisa dengan baik informasi yang diterima. Proses memilah informasi mana yang baik dan mana yang buruk adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Contohnya : orang tua harus memilah film mana yang layak tonton dan mana yang tidak. Kebanyakan film berisikan tayangan sampah, yang tidak bermanfaat. Setelah dirinya mampu memilah, kebiasaan ini ditularkan kepada anaknya. Orangtua melakukan pendampingan, memilihkan acara yang bermutu, menjelaskan apa yang mereka tonton dan melakukan penjadwalan, kapan anaknya boleh menonton kapan tidak. Pada tahap selanjutnya orangtua membuat organisasi yang bersedia melakukan pelatihan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, seperti: kelompok orangtua, para murid di sekolah, dan sebagainya.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejauh ini pendidikan Media Literacy belum terorganisir dengan baik. Belum diakomodir lewat kurikulum di sekolah atau dalam kegiatan pokok di satu instansi. Baru sebatas kegiatan seminar, diskusi, ceramah, yang sifatnya belum berkesinambungan. Kegiatan pendidikan Media Literacy paling banyak dilakukan di Jakarta. Tokoh seperti Ade Armando, B.Guntarto, adalah orang-orang yang penulis ketahui amat peduli terhadap Media Literacy khususnya media televisi sejak 1997an. Mereka mendirikan lembaga yang bertindak sebagai pemantau siaran televisi (Watch Dog), dan melakukan aksi-aksi cukup semarak, seperti: Hari Tanpa TV di setiap tanggal 23 juli bertepatan dengan Hari Anak Indonesia.

Penutup

Pendidikan Media Literacy merupakan hal yang amat penting dan mendesak untuk dilakukan, dalam rangka mencegah pengaruh buruk tayangan sampah di televisi. Pendidikan ini selayaknya dimulai di tengah keluarga , oleh sebab itu orangtua khususnya ayah ibu harus terlibat penuh, karena mereka adalah tokoh kunci agar pendidikan ini berhasil. Orangtua diharapkan cerdas, pintar, dalam mengguna, memahami dan menganalisis media agar dapat menghasilkan anak-anak Indonesia yang memiliki pengetahuan dan perilaku terpuji.

Pendidikan Media Literacy juga tidak akan berhasil jika tidak ada dukungan penuh dari pemerintah. Di masa depan kita berharap adanya pendidikan Media Literacy di Indonesia khususnya di kota Medan dan berhasil dengan baik. Semoga!

Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU