Tags

, , ,

Oleh: Dra. Mazdalifah, Msi

Tanggal 20 Juli 2008 merupakan Hari Tanpa TV. Pada hari tersebut seluruh keluarga Indonesia diharapkan mematikan Tv sehari penuh, dan mengisinya dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Munculnya gerakan Hari Tanpa TV memunculkan pertanyaan cukup menggelitik: Apakah menonton TV membahayakan anak-anak kita? Sehingga keluarga Indonesia harus istirahat sejenak dari riuh rendahnya tayangan TV. Pertanyaan ini menjadi amat penting mengingat potensi penonton anak di Indonesia luar biasa besar jumlahnya, serta mutu tayangan TV Indonesia yang masih memprihatinkan.

Tulisan ini lahir dalam rangka memperingati Hari Anak Indonesia yang jatuh pada 23 Juli 2008. Selayaknya kita harus peduli pada nasib Anak Indonesia pada saat ini. Detengah arus globalisasi yang begitu kuat menerjang, Anak Indonesia dikepung informasi dari berbagai media, khususnya media TV. Tentu saja berbagai informasi ini tidak seluruhnya aman bagi anak-anak kita. Secara jujur harus diakui, lebih banyak informasi (tanayangan-tayangan) yang tidak mendidik menerpa mereka daripada informasi yang mendidik. Artinya TV belum berpihak kepada anak-anak!

Fenomena tayangan tidak mendidik di berbagai stasiun TV telah lama ada. Dan anehnya, banyak orangtua dan keluarga di Indonesia tidak menyadari hal ini. Kita menyaksikan banyak orangtua dan keluarga amat menikmati berbagai acara, bahkan menjadi penonton setia TV. Sebut saja acara lomba menyanyi di sebuah stasiun TV dengan durasi 6 jam, mereka ikuti sampai tuntas.

KARAKTERISTIK PENONTON ANAK

Sebuah data tahun 2005: ada lebih kurang 70 juta penonton anak-anak di Indonesia. Dan alokasi menonton TV secara umum lebih banyak daripada kegiatan lain. Bagi sebahagian anak-anak, TV adalah hiburan gratis. Boleh jadi hampir sepanjang hari diisi dengan menonton TV (Kompas, 23 Juli 2005).

Data ini menunjukkan kepada kita bahwa ada jumlah yang luar biasa banyaknya dari penonton anak-anak. Pada umumnya mereka adalah penonton setia, dalam istilah komunikasi mereka termasuk dalam kategori Hard Viewer (penonton berat), yang menghabiskan waktu menonton televisi 4 jam dalam satu hari. Bagi para pemasang iklan, jumlah ini boleh jadi amat fantastis, mengingat dalam beberapa detik sebuah iklan dapat menjangkau berpuluh juta orang. Ada potensi pasar yang sangat menggiurkan, sehingga tak heran pemasang iklan akan rela mengeluarkan dana besar untuk menciptakan iklan komersial.

Selain jumlah yang amat besar, penonton anak memiliki karakteristik tersendiri, di antaranya adalah : Anak-anak mengalami kesulitasn untuk membedakan mana hal-hal penting yang harus disisakan (positif) dan mana yang mesti disisihkan (negatif), anak-anak memiliki sifat peniru (imitasi) yang paling ulung, anak-anak dalah makhluk polos yang siap diisi oleh apa saja, ia cenderung akan menyerap semua yang dilihat di sekitarnya termasuk dari media TV.

Karakteristik ini akan menjadi catatan bagi orang tua, pengelola stasiun TV, serta pemerintah, agar memberi perhatian khusus terhadap mereka. Tanpa perhatian khusus dan penanganan khusus, penonton anak kelak akan tumbuh dan berkembang menjadi makhluk dewasa yang cenderung memiliki segudang masalah.

TAYANGAN TV HARI INI

Berbicara mengenai tayangan TV Indonesia saat ini, tentu saja akan menimbulkan berbagai komentar, baik positif maupun negatif. Tetapi, jika kita dengan tepat mengukur komposisinya, jujur diakui bahwa komposisi tayangan tidak mendidik lebih mendominasi daripada ayangan mendidik. Tayangan tidak mendidik adalah tayangan yang memiliki muatan unsur kekerasan, mistik, kemewahanyang berlebihan, unsur seks dan sensualitas. Sementara itu tayangan mendidik adalah tayangan yang didalamnya mengandung undur informasi dan pengetahuan yang bermanfaat.

Beberapa waktu lalu pihak KPI Pusat (Komisi Penyiaran Indonesia) memberikan peringatan terhadap sepuluh tayangan yang dianggap tidak mendidik. Jika diamati lebih lanjut, tayangan tayangan tersebut pada umumnya banyak ditonton oleh anak-anak dan keluarga Indonesia, seperti tayangan Ekstravaganza dan Si Entong. Meskipun tayangan Ekstravaganza bernuansa komedi, KPI menilai banyak unsur kekerasan dan pelecehan yang tidak mendidik. Demikian pula tayangan si Entong yang notabene adalah tayangan anak-anak, ternyata banyak memuat unsur tidak mendidik di dalamnya. Kata-kata kasar yang melecehkan seringkali muncul dan dianggap dapat membahayakan anak-anak.

Kita harus mengakui bahwa masih banyak lagi tayangan sejenis, contohnya: tayangan berita: Buser, Sergap, Patroli. Secara umum tayangan ini menggambarkan kinerja kepolisian dalam menangani tindak kejahatan seperti: pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, perkelahian, penculikan dan sebagainya. Namun dalam tayangan ini seringkali unsur kekerasan muncul, misalnya: gambar korban tergeletak berdarah-darah, dalam kondisi utuh dan bisa pula dalam keadaan terpotong-potong. Pencuri yang babak belur dikeroyok massa gambar yang muncul di TV seringkali tanpa sensor ketat, sehingga dapat memunculkan perasaan takut dan khawatir yang berlebihan bagi penonton khususnya penonton anak-anak.

Tayangan berita yang kita anggap aman, ternyata tidak luput pula dari unsur kekerasan. Tidak masalah jika demonstrasi atau unjuk rasa berlangsung dengan damai, namun yang kerap kita saksikan adalah demonstrasi brutal dan anarki. Kita disuguhi gambar orang-orang ditangkap dan dipukuli, asap dari ban bekas atau bom molotov, pagar-pagar rubuh, hingga gambar orang terluka. Sesungguhnya masyarakat belajar kekerasan dari televisi, mereka mencontoh apa yang pernah dilihat di televisi.

Kita tidak usah bicara lagi soal film atau sinetron. Sudah cukup bukti bahwa film dan sinetron hanya menjual kemewahan, kelicikan, perebutan harta yang tiada henti, perselingkuhan dn sebagainya. Hanya satu kata untuk menyatakanbtayangan TV kita pada hari ini, yakni: Prihatin!

TELEVISI PEDULI ANAK

Guna mengatasi masalah di atas, perliu kiranya mewujudkan dengan segera Televisi Peduli Anak. Di beberapa negara maju (Inggris, Kanada, Australia) telah menjadi agenda utama. Acara-acara yang ditampilkan pada jam anak adalah acara yanag aman dan mendidik. Orang tua tidak akan khawatir melepas anaknya menonton televisi, meskipun tanpa pendamping. Akan sangat sulit menemukan acara orang dewasa seperti: film, pada jamnya anak-anak. Orang dewasa yang menginginkan acara dewasa dapat mengaksesnya melalui berlangganan TV kabel.

Bagaimana dengan Indonesia? Berbicara mengenai Indonesia tentu saja kita harus berani melihat kenyataan yang ada. Kita harus berbenah dan bergerak untuk mewujudkan Televisi Peduli Anak. Meski harus berebut perhatian dengan masalah besar lainnya seperti: korupsi, pemilu, kenaikan BBM dan sebagainya, kita tidak boleh berpangku tangan berdiam diri saja. Sebab, televisi seperti musuh yang datang diam-diam, tanpa kita sadari meninggalkan bom yang siap meledak.

Dalam seminar yang berjudul “Mengapa Anak perlu Diet Media?” 19 Juli 2008, Nina Armando menawarkan beberapa alternatif untuk mewujudkan Televisi Peduli Anak dengan cara mengusahakan agar televisi mau memperbaiki mutu acaranya, yakni memberikan masukan kritik: melalui surat pembaca di surat kabar, ke KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), atau memberi masukan langsung kepada media yang bersangkutan. Kegiatan semaam ini dapat dilakukan siapa saja, apakah ia seorang ibu rumah tangga, seorang bapak, pelajar, mahasiswa, guru, tokoh agama, dan sebagainya. Sebagai warga masyarakat kita diharapkan tidak cuek, namun harus proaktif melakukan suatu perubahan.

Cara-cara sederhana semacam ini ternyata cukup efektif untuk menjewer pengelola stasiun TV. Satu kasus yang telah membuahkan hasil adalah tayangan Ekstravaganza dari Trans TV. Setelah mendapat peringatan dari KPI sebanyak tiga kali, pihak pengelola telah bebenah diri. Acara Ektravaganza kini telah tampil mendidik, tanpa kata-kata kasar dan perilaku tidak pantas.

Hari Anak Indonesia patut dijadikan sebagai momentum untuk melakukan pembenahan dan perubahan. Gerakan Hari Tanpa Tv merupakan awal yang bail. Meski bagi sebagian orang gerakan ini dipandang dengan sebelah mata, dianggap berlebihan, dan tidak berarti. Namun sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak kita, selayaknya gerakan hari Tanpa TV tidak dianggap sepele.

Orangtua, pendidik, pemerintah dan penyelenggara stasiun TV harus menyadari bahwa Media khususnya TV nerupakan agen sosialisasi paling berpengaruh. Prof. Chairul Yoel dalam makalahnya berjudul Media Vs Kids menyatakan : “Today’s media influence all our lives, but particulary the lives of our children”. Bahwa hari ini media telah mempengaruhi seluruh kehidupan kita, secara khusus media telah pula mempengaruhi kehidupan anak-anak kita.

*Penulis adalah Dosen di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP – USU

Tulisan dimuat pada Harian WASPADA, Senin 25 Agustus 2008