Tags

, , , , , , ,

Oleh : Dra. Mazdalifah, Msi

Abstract : Television is most popular medium. Everyone do like to watching television, include children. Television transmission many program, and sosialitation good value and bad value. For the best life children, television must be encreasing the good value more than bad value.

PENDAHULUAN

Televisi memiliki nilai-nilai pertalian dengan nilai-nilai sosial. Hal ini dapat kita lihat dengan muatan tayangan televisi yang mengandung nilai-nilai sosial. Di lain pihak, televisi ikut pula membentuk nilai-nilai sosial yang menjadi acuan masyarakat. Berbicara mengenai media televisi, tentu saja tidak bisa lepas dari citra sebuah media yang sangat populer di negeri Indonesia. Pada saat ini masyarakat memiliki banyak pilihan stasiun televisi, dengan hadirnya pihak televisi swasta dalam industri televisi. Kehadiran pihak swasta di satu sisi menambah jajaran media dalam menginformasikan berita, namun di sisi lain informasi yang datang menyerbu masyarakat berisikan nilai-nilai yang belum tentu baik bagi penontonnya. Anak-anak adalah salah satu di antaranya, dimana jumlah penonton anak sebesar 70 juta jiwa (Kompas, 23 Juli 2005) merupakan potensi yang amat besar. Selain jumlah anak yang besar, penonton anak-anak memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan yang lain. Ciri khas tersebut berkaitan dengan karakteristik anak yang belum mampu membedakan antara realitas dan rekayasa. Anak-anak cenderung belum mampu berfikir secara kritis. Kelemahan ini yang mengakibatkan mereka dengan mudah terpengaruh akan nilai-nilai yang ditawarkan media. Sebagai contoh sosialisasi nilai kekerasan yang banyak mendominasi tayangan televisi kita saat ini. Sosialisasi nilai kekerasan seperti ini, jika terus menerus terjadi maka akan mengakibatkan pengaruh buruk pada anak.

Majalah Ayah Bunda dalam artikelnya menjelaskan bahwa nilai kekerasan tersebut dapat menimbulkan pengaruh pada diri anak. Selanjutnya dinyatakan: “pada awal sekolah (6-10 tahun) anak memiliki kemampuan berfikir tahapan konkret operasional, pada usia ini kemampuan anak mulai terasah. Saat usia 10-12 tahun anak menggunakan logikanya. Kemampuan berfikir yang berbeda-beda akan mempengaruhi tayangan kekerasan di televisi pada masing-masing anak. Anak usia muda cenderung lebih terpengaruh dibandingkan anak usia lebih tua.

Relasi anak dengan televisi telah menjadi persoalan yang problematik. Televisi dapat menjadi sarana tranferensi ide, nilai, norma dan sebagainya namun ia dapat pula mendegradasikan format dan kemampuan berfikir anak (Khadiz, 1999). Anak-anak begitu leluasa menonton berbagai acara televisi, bahkan cenderung berlebihan. Apabila tidak ada upaya untuk membentengi anak, bisa saja mengganggu perkembangan sosial anak.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang kedudukan televisi sebagai media yang dapat mensosialisasikan nilai buruk dan baik pada anak. Semua pihak harus terlibat baik orangtua, pendidik, ataupun pemerhati anak agar dapat memaksimalkan potensi nilai-nilai yang baik dari televisi. Harapan ini tentu saja semakin besar, mengingat adanya kekhawatiran mutu tayangan televisi Indonesia yang didominasi oleh sinetron/film, penuh dengan nilai-nilai tidak mendidik.

TELEVISI DAN SOSIALISASI NILAI

Televisi adalah sebuah pengalaman yang kita terima begitu saja. Kendati demikian, televisi juga merupakan sesuatu yang membentuk cara berfikir kita tentang dunia. Kehadirannya yang tidak terelakkan dan sifat alamiahnya yang populis, di masa lalu menjadi alasan bagi penolakan televisi karena sifatnya yang sekejap dan :tidak berharga” (Burton, 2000).

Penerusan nilai-nilai merupakan salah satu fungsi media massa. Televisi merupakan salah satu dari media massa tersebut. Fungsi penerusan nilai-nilai merupakan fungsi yang penting, fungsi ini sering pula disebut dengan fungsi sosialisasi. Sosialisasi merujuk pada cara-cara dimana seorang individu mengadopsi perilaku dan nilai-nilai dari satu kelompok. Televisi menghadirkan gambaran masyarakat kita, dengan cara mengamati, mendengarkan dan membaca. Televisi mendorong kita untuk mempelajari dan bertindak untuk mengetahui nilai-nilai apa yang penting.

Televisi juga memberi kita pelajaran mengenai orang, media ini memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka bertindak dan apa yang diharapkan dari mereka. Dengan kata lain televisi menyuguhkan kepada kita model peran yang dapat kita amati dan kita tiru. Sebagai contoh adalah penayangan berulang-ulang tentang demonstrasi sebagai bentuk aspirasi masyarakat kepada oemerintah di depan gedung DPR/MPR. Penayangan ini menjado model, dimana masyarakat kita mengamati dan meniru pola perilaku yang muncul di televisi. Akibatnya kita tidak lagi merasa heran apabila ada anggota masyarakat, organisasi, dan lain sebagainya berdemonstrasi langsung di depan gedung DPR/MPR.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa televisi seperti mencoba memaksakan nilai-nilai dan pola-pola perilaku masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada tayangan populer yaitu sinetron. Saat sinetron hadir dalam aktifitas keseharian kita, secara tidak sadar nilai-nilai tertentu telah disosialisasikan. Contohnya: nilai kemewahan yang amat menonjol, dimana selalu muncul tokoh yang hidupnya bergelimang harta, mobil bagus, rumah megah dan sebagainya. Melalui tayangan ini seolah-olah disosialisasikan bahwa hidup bahagia adalah hidup bergelimang harta benda, naik turun mobil mewah, belanja sana sini, menggunakan produk bermerk terkenal. Padahal hakikat hidup bahagia sesungguhnya bukanlah selalu dari kemewahan harta benda. Bahwa kita dapat hidup sehat, memiliki putra putri yang membanggakan, hidup rukun dan saling menyayangi antar sesama, merupakan kebahagiaan lain yang nilainya jauh melebihi harta duniawi.

Televisi dalam kasus di atas terkesan seperti memaksakan nilai kemewahan sebagai nilai mutlak bahagia dalam menjalani hidup. Mungkin ada contoh-contoh lain yang tidak terhitung dari nilai-nilai dan perilaku-perilaku yang disosialisasikan melalui televisi. Tetapi lebih baik kita mengkaji akibat dari peran televisi sebagai agen sosialisasi. Berbicara mengenai peran, kita berharap bahwa televisi dapat menjalankan fungsi dan kegunaan kepada masyarakat. Salah satu diantaranya mensosialisasikan nilai-nilai yang baik. Kehidupan ekonomi dan politik bangsa Indonesia yang mengkhawatirkan, amat memerlukan bantuan media massa khususnya televisi dalam mensosialisasikan nilai-nilai yang positif. Kehidupan yang selalu diwarnai dengan nilai spiritual, optimis, kerja keras, gotong royong, diharapkan dapat membangkitkan kehidupan masyarakat dari keterpurukan.

Berdasarkan hal di atas, kita dapat mengatakan bahwa televisi merupakan media andalan dalam mensosialisasikan nilai tersebut. Hal ini dapat dilihat kepemilikan TV yang cukup tinggi pada masyarakat Indonesia. Jumlah pesawat televisi yang beredar di Indonesia mencapai 30 juta (Data dari Pendidikan Jurnalisme, Universitas Indonesia, 2004). Apabila satu televisi ditonton oleh 5 orang dalam satu keluarga, maka akan terdapat potensi penonton sebesar 150 juta orang . ada berbagai alasan mengapa media ini begitu diminati oleh masyarakat. Wirodono (2005) menyebutkan bahwa Televisi adalah media yang paling luas dikonsumsi masyarakat Indonesia. Jenis media ini sebagai media audio visual tidak membebani masyarakat untuk menikmatinya. Untuk masyarakat Indonesia, yang lebih kuat budaya lisan, media televisi tidak memiliki jarak yang jauh. Menonton televisi berbeda dengan budaya baca tulis.

TELEVISI DAN SOSIALISASI NILAI PADA ANAK

Televisi memiliki potensi besar untuk mensosialisasikan nilai-nilai kepada anak-anak. Hal ini disebabkan hampir sebahagian waktu anak-anak banyak dihabiskan untuk menonton televisi. Data dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (2002) menyatakan bahwa anak-anak menghabiskan waktu menonton televisi selama 30-25 jam dalam seminggu. Hal ini dapat diartikan bahwa anak-anak di kota Medan menurut hasil riset AGB Nielsen (2007)menghabiskan waktu selama 3 jam satu hari, dan pada masa libur waktu menonton tersebut meningkat menjadi 4-6 jam sehari.

Kegiatan menonton televisi disinyalir lebih besar daripada kegiatan belajar atau kegiatan positif lainnya. Seperti dinyatakan oleh Nasution dalam Supriyono (2000) bahwa tingginya waktu menonton televisi, sehingga mengurangi kegiatan lain seperti membaca, bermain engan sesama, membantu orang tua dan mengerjakan tugas di rumah. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan menonton televisi merupakan kegiatan yang amat disenangi oleh anaj-anak, dan cenderung mengganggu kegiatan lainnya. Tingginya waktu menonton televisi di kalangan anak-anak, dapat dimanfaatkan oleh pemerintah atau pihak terkait, sebagai media sosialisasi nilai-nilai, utamanya adalah nilai yang positif. Potensi ini amat besar yang berguna untuk menghasilkan anak-anak yang memiliki perkembangan sosial yang baik.

Pendapat yang senada telah dikemukakan oleh Leifer dan kawan-kawan mengatakan, bahwa televisi bukan saja sebagai hiburan bagi anak-anak, melainkan juga merupakan alat untuk memasyarakatkan sesuatu yang baik bagi mereka (Hidayati, 1998). Dengan demikian sosialisasi (yang merupakan inti dari perkembangan sosial anak) akan tumbuh dengan baik ketika anak bisa mengambil secara positif sarana apa saja yang ada di sekitarnya, tidak terkecuali dengan keberadaan televisi.

Peran yang dimainkan televisi dalam sosialisasi nilai ini dapat dilakukan lewat acara-acara yang disampaikannya. Televisi dapat menampilkan acara mendidik yang dapat menambah pengetahuan anak tentang sesuatu, memotivasi anak dalam melakukan hal yang baik dan positif serta mendorong anak untuk melakukan sesuatu yang berguna baik untuk dirinya, keluarga maupun lingkungannya. Acara seperti Lap Top si Unyil mampu menambah pengetahuan anak tentang teknologi, dengan cara sederhana dan menghibur. Acara Bahasa Inggris pada akhirnya akan mendorong anak untuk berlatih menggunakan bahasa Inggris yang baik dan benar.

Sosialisasi semacam hal di atas, apabila dilangsungkan secara terus menerus dan secara konsisten akan mampu membentuk perkembangan sosial anak dengan baik. Oleh sebab itu keluarga adalah faktor penting yang turut mempengaruhi keberhasilan sosialisasi ini. Cooley menyebutkan bahwa institusi keluarga merupakan agen sosialisasi awal yang sangat penting bagi anak (Hidayati, 1998). Keluarga seharusnya memahami bahwa televisi sebagai sebuah media, dapat berperan dalam mensosialisasi nilai-nilai dalam kehidupan anaknya. Nilai-nilai yang ditawarkan oleh televisi, bukan seluruhnya nilai-nilai yang baik. Oleh sebab itu keluarga khususnya ayah ibu harus berhati-hati, dalam menyikapi interaksi anaknya dengan televisi. Keluarga atau orangtua sebaiknya mulai membangun kesadaran kritis pada saat berinteraksi dengan televisi.

PENUTUP

Era globalisasi dewasa ini membuat teknologi dan informasi berkembang dengan amat pesat, pada gilirannya perkembangan informasi ini mengakibatkan manusia terperangkap dalam banjir informasi. Stimulus (khususnya tayangan televisi) yang menerpa anak semakin banyak, bervariasi dan penuh dengan nilai-nilai. Televisi lewat acara dan tayangannya telah hadir dengan seperangkat nilai baik dan juga nilai yang buruk.

Berkaitan dengan relasi anak dengan televisi, kekhawatiran terserapnya nilai yang buruk oleh anak dapat diantisipasi dengan memberdayakan keluarga, khususnya orangtua (ayah ibu). Keluarga menjadi benteng utama yang mengajarkan pada anak-anak untuk menonton dengan kritis. Pola menonton semacam ini pada gilirannya diharapkan dapat meminimalisir terserapnya nilai-nilai buruk tersebut.

*tulisan dimuat di Jurnal Harmoni Sosial, Mei 2008