Tags

, , , , , , ,

Oleh : Dra. Mazdalifah, Msi

Abstract: Woman labour’s plantation life is too hard. They have many activity; they do themselves to handle they daily activity. Most of them have low knowledge about nutrition, development of child education, and how to create the harmonic communication. The problem solving this case are intending to increase the knowledge and awareness the woman labour. Government, NGO, and people have responsibility to develop their life.

PENDAHULUAN

Propinsi Sumatera Utara memiliki lahan perkebunan yang amat luas. Perkebunan merupakan sektor utama untuk menghasilkan devisa negara. Disamping itu, perkebunan merupakan lahan penyedia lapangan pekerjaan, baik laki-laki maupun perempuan. Hasil sensus tahun 1990 menunjukkan bahwa tenaga kerja di Sumatera Utara terdiri dari 51,1% laki-laki dan 48,1% perempuan (Pemda Sumut,1991).

Hasil di atas menunjukkan bahwa perempuan turut berperan dalam memberikan kontribusi ekonomi bagi keluarga. Kondisi ini dapat dijumpai di beberapa perkebunan seperti, di PTPN II, PTPN III, PTPN IV, atau di perkebunan milik swasta seperti LONSUM, dan PT. Indah Poncan di desa Sukaluwei Kecamatan Bangun Purba Kabupaten Deli Serdang. Dalam konteks ini, perempuan khususnya ibu rumah tangga bekerja sebagai buruh harian lepas (BHL) dan buruh pabrik ramling (pengolahan karet).

Pilihan sebagai buruh disebabkan  karena dua alasan, antara lain : Pertama, penghasilan suami (umumnya bekerja sebagai karyawan perkebunan) tidak mencukupi. Kondisi ini kemudian menyebabkan istri harus bekerja guna memenuhi ekonomi keluarga. Kedua, pekerjaan tersebut relatif mudah dan dapat dilakukan siapa saja. Pekerjaan sebagai buruh tidak membutuhkan pengetahuan dan keterampilan tinggi, atau dapat dikatakan hanya membutuhkan tenaga. Umumnya perempuan dan ibu rumah tangga di desa Sukaluwei berpendidikan rendah (tamatan SD), sehingga mereka tidak mempunyai pilihan selain bekerja sebagai buruh.

Kehidupan sebagai buruh di perkebunan merupakan pilihan yang cukup berat pada saat ini. Arus globalisasi yang menerjang membuat kehidupan buruh perkebunan, khususnya buruh perempuan menjadi semakin termarginalisasi. Sesungguhnya, tidak banyak orang yang mengetahui bagaimana buruh perempuan di perkebunan menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, tulisan ini berupaya memberi gambaran lengkap, tentang kehidupan perempuan yang bekerja sebagai buruh.

Sebagai representasi buruh perkebunan, penulis coba mengangkat kehidupan buruh perempuan di PT. Indah Poncan, tepatnya di desa Sukaluwei Kecamatan Bangun Purba Kabupaten Deli Serdang. Hal yang menarik di lokasi ini adalah adanya dua jenis buruh. Pertama, buruh perempuan yang bekerja sebagai buruh harian lepas pada perkebunan dengan tugas utama membabat, merumput, membersihkan parit, dan sebagainya. Kedua, buruh perempuan yang bekerja di Pabrik pengolahan karet (pabrik ramling) dengan tugas utama mencuci dan menjemur lembaran karet untuk di ekspor ke luar negeri. Pada umumnya, buruh perempuan ini telah berkeluarga, sehingga penulis merasakan unik dan beratnya peran ganda yang harus mereka jalankan.

PEMBAHASAN

Kehidupan Buruh Perempuan Perkebunan

Secara tradisional, ada tiga peranan utama perempuan Indonesia yang dapat diidentifikasikan, antara lain; rumah tangga dan pendapatan yang berkaitan dengan kegiatan rumah tangga, reproduksi dan produksi sosial yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan dan kesejahteraan anak, serta kerja sosial yang menunjang status keluarga. Kini selain ketiga aspek tradisional di atas, perempuan juga seringkali (karena terpaksa untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga) bekerja di luar rumah, mencari kerja di pasaran yang ada (Herawati dan Vitayala, 1990).

Demikian pula dengan hasil temuan di Desa Sukaluwei, kaum perempuan harus bekerja guna membantu perekonomian keluarga sebagai buruh di perkebunan dan pabrik. Buruh perempuan di perkebunan menjalani kehidupan dan aktifitas sehari-hari dengan penuh kesibukan. Mereka dituntut untuk pandai membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangga, agar keduanya berjalan dengan lancar. Aneka pekerjaan mereka jalani dengan penuh ketekunan demi keluarga dan anak-anak.

Menjadi karyawan perkebunan, dalam hal ini lebih tepat dengan sebutan “memburuh”, merupakan alternatif yang dilakukan untuk bebas dari himpitan pengeluaran yang kerap lebih besar dari penghasilan mereka sendiri. Penghasilan mereka yang rendah tidak mampu menopang pemenuhan berbagai kebutuhan hidup (berutu, 1992).

Pekerjaan membabat, merumput, memupuk, membersihkan parit, mencuci, dan menjemur lembaran karet merupakan pekerjaan yang sering mereka lakukan. Sebagai buruh perkebunan, mereka berangkat pukul 6.30 pagi dan pulang ke rumah pukul 15.00. sebelum berangkat meninggalkan rumah, mereka harus menyelesaikan terlebih dahulu pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci, memasak, dan membersihkan rumah. Setelah semuanya dipersiapkan, buruh perempuan dapat meninggalkan beban domestiknya. Sementara itu, buruh perempuan yang bekerja di pabrik dibagi atas dua shift. Shift pagi aktif bekerja mulai pukul 06.30 dan selesai pukul 11.00. Shift sore aktif bekerja mulai pukul 17.00 dan selesai pukul 10.00 malam.

Hampir sama dengan buruh yang bekerja di perkebunan, buruh pabrik tersebut juga harus menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat kerja. Pekerjaan tersebut diselesaikan agar mereka dapat meninggalkan rumah dengan tenang. Karena telah berkeluarga, buruh perkebunan harus mengkombinasikan pekerjaan sebagai buruh dengan tugas rumah tangga, dan membaginya dengan seluruh anggota keluarga. Meskipun demikian, porsi terbesar tetap menjadi tanggung jawab perempuan.

Hasil penelitian Sukesi (1999) pada buruh pemetik kopi mendeskripsikan aktifitas buruh sebagai berikut: Para perempuan bangun pagi (shubuh), melakukan sholat shubuh, menyiapkan makan pagi, minuman dan bekal untuk dibawa ke perkebunan, kemudian menyapu halaman. Pada saat suling kebun berbunyi pukul 06.00, para buruh harus berkumpul di halaman kantor perkebunan untuk menerima pengarahan kerja. Sebagian buruh pulang tengah hari, tetapi buruh petik dan sortasi pulang pukul 16.00. setelah istirahat sebentar, para buruh perempuan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci pakaian, dan mencuci peralatan rumah tangga.

Buruh perempuan yang merangkap sebagai ibu rumah tangga merupakan motor penggerak kelangsungan hidup bagi keluarganya. Dengan demikian, mereka harus bergerak menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga. Lebih lanjut, Gartijah (1990) menyebutkan bahwa hal yang paling utama bagi buruh perempuan adalah mempersiapkan bontot untuk suami, untuk dirinya, untuk anaknya yang dititipi di pajak bebi, dan sarapan untuk anak yang sekolah.

Selanjutnya penelitian Gartijah (1990) mengungkapkan bahwa pengasuhan anak-anak yang masih kecil diserahkan kepada balai penitipan anak (pajak bebi), kepada anak yang lebih tua, atau kepada neneknya. Bila keluarga dekat tidak ada, mereka menggunakan jasa pengasuh amatir dari tetangga dengan memberi imbalan berupa uang. Penelitian ini juga menemukan bahwa perkembangan anak-anak cenderung mengarah kepada tingkah laku pesimistis dikarenakan semenjak kecil anak ditinggal bekerja oleh ibunya.

Selain aktifitas utama sebagai istri, ibu dan pencari nafkah dalam rumah tangga, buruh perempuan juga merupakan bagian dari anggota masyarakat. Sebagai pemeluk agama Islam, mereka tidak pernah lepas dari kegiatan keagamaan yang dilakukan di desan Sukaluwei. Misalnya, mereka mengikuti pengajian di  Mesjid yang secara rutin setiap minggu menyelenggarakan ceramah dengan topik tertentu, dimana hal ini dapat menambah pengetahuan mereka tentang agama. Kemudian, ada juga kegiatan seperti wirid yaasin yang lebih banyak diselenggarakan dari rumah ke rumah. Kegiatan ini mereka ikuti karena adanya anggapan bahwa dengan mengaji dari rumah ke rumah selain dapat mempererat tali silaturrahim di antara mereka dan dengan warga lain, juga dapat mengurangi stress atau beban kehidupan yang mereka alami.

Aktifitas yang demikian padat mengakibatkan buruh perempuan sering meninggalkan rumah dan keluarga mereka. Frekuensi pertemuan dengan keluarga (suami dan anak) menjadi sangat terbatas, komunikasi keluarga berjalan dengan seadanya. Apabila mereka memiliki sisa waktu, praktis waktu tersebut digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kondisi ini mengakibatkan anggota keluarga, khususnya perkembangan anak usia balita sering terabaikan.

Pertengkaran antar suami dan istri, atau antar istri dan anak yang sudah besar sering terjadi. Bagi masyarakat di sekitar perkebunan Desa Sukaluwei, kondisi seperti ini dapat dimaklumi, mengingat kasus semacam itu juga sering dialami oleh keluarga lainnya. Bagi mereka pertengkaran semacam itu wajar saja terjadi, karena kehidupan yang semakin berat, suami dan istri sibuk bekerja untuk memenuhi biaya hidup dan pendidikan anak.

Penelitian Ratnauli (1989) menunjukkan bahwa buruh perkebunan di Desa Keluwei merupakan keturunan kuli kontrak yang didatangkan dari Jawa. Mayoritas karyawan perkebunan memiliki jumlah anak yang cukup banyak. Dengan kehidupan ekonomi yang sangat rendah, mereka melakukan skala prioritas dalam kehidupan keluarga. Penelitian tentang upah buruh perempuan yang disponsori oleh AKATIGA menunjukkan bahwa tingkat upah yang berlaku hanya memenuhi 75% kebutuhan fisik minimumbagi buruh lajang dan hanya memenuhi 30% kebutuhan keluarga dengan dua anak (Indraswari dan Thamrin, 1995). Selanjutnya, mereka lebih mendahulukan kebutuhan sandang dan pangan daripada pendidikan anak. Kondisi ini menyebabkan pendidikan anak menjadi terabaikan. Orang tua tidak mampu melanjutkan pendidikan formal anak ke jejang yang lebih tinggi. Hal ini semakin dipicu oleh lingkungan, dimana pihak perkebunan menerima anak usia lanjutan sebagai pekerja. Menurut mereka pendidikan tidak begitu penting, karena pihak perkebunan bersedia menampung mereka sebagai buruh harian.

Kondisi pendidikan anak-anak di desa Sukaluwei hampir sama dengan gambaran di atas, dimana banyak anak-anak yang tidak melanjutkan sekolahnya karena ketiadaan biaya. Gaji sebagai buruh tidak mencukupi untuk menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi. Rata-rata pendidikan anak berhenti di jenjang SMP atau SMA. Jarang sekali ditemukan keluarga yang dapat menyekolahkan anak hingga ke jenjang perguruan tinggi. Hal lain yang sering ditemukan adalah masalah perawatan kesehatan dan keluarga. Utamanya, perawatan kesehatan diri dan gizi buruh perempuan itu sendiri dan anaknya. Anak mereka tidak mendapatkan makanan dengan gizi yang baik sehingga sering mengalami sakit. Pengetahuan mereka tentang jenis-jenis makanan yang bergizi dapat dikatakan kurang. Makanan yang disuguhkan untuk keluarga hanya apa adanya saja, tanpa ada pertimbangan tentang nilai gizi yang dikandung.

Berdasarkan gambaran di atas, dapat dilihat bahwa buruh perempuan hampir tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan menu atau jenis makanan apa yang harus disajikan untuk keluarga. Yang paling penting bagi mereka adalah tersedianya makanan, selama mereka meninggalkan rumah. Hasil tanaman di sekitar pekarangan seperti daun ubi, genher, kangkung, atau labu sering dimanfaatkan untuk hidangan sehari-hari. Lauk ikan asin dan telur adalah makanan yang paling sering dikonsumsi karena harganya relatif murah. Umumnya, mereka tidak memikirkan apakah makanan yang dikonsumsi bergizi baik atau tidak, yang paling penting adalah makanan tersedia dalam jumlah yang cukup untuk seluruh anggota keluarga.

Selain masalah anak, buruh perempuan di perkebunan, menghadapi permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan di tempat kerja mereka. Hasil penelitian Emy (1905) menemukan bahwa buruh perempuan di perkebunan menghadapi gangguan kesehatan karena aktifitas monoton dalam bekerja. Misalnya buruh perempuan sebagai penampi dan pemilih biji, mereka hanya duduk  berjam-jam untuk memilih biji dan sekali-sekali mereka berdiri. Kondisi ini menyebabkan mereka banyak menderita sakit pinggang. Pihak perusahaan juga tidak menyediakan sarana kamar mandi atau WC, sehingga mereka seringkali menahan keinginan buang air kecil. Hal-hal seperti ini amat mudah memicu timbulnya penyakit pada diri perempuan seperti timbulnya infeksi saluran kemih, dan penyakit lain.

Buruh perkebunan yang umumnya hidup di pedesaan sering mengalami ketidakadilan seperti gambaran di atas. Kepatuhan buruh perempuan dalam bekerja telah dimanfaatkan oleh perusahaan, seperti yang dialami oleh buruh perempuan pabrik gula di kota kecil di Jawa Tengah. Umumnya menghadapi permasalahan seputar perlakuan di pabrik, tuntutan kerja yang semakin  meningkat, padahal imbalannya sangat sedikit (Marcoes, 1995). Lebih lanjut hasil penelitian Indraswari dan Thamrin pada buruh garmen (1995) mengungkapkan bahwa pihak perusahaan lebih leluasa melalaikan penyediaan fasilitas penyelamatan kerja. Pengadaan masker sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah buruh yang ada.

Kondisi yang hampir sama dijumpai pada buruh perempuan perkebunan di Desa Sukaluwei dan di pabrik ramling. Pihak perusahaan tidak menyediakan sarung tangan, sepatu bot, ataupun masker yang berfungsi sebagai pengaman kerja. Minimnya penyediaan fasilitas penyelamatan kerja dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan kesehatan bagi buruh perkebunan. Pada pekerjaan tertentu seperti meracun, ketiadaan masker pelindung dapat mengakibatkan gangguan kesehatan bagi buruh perempuan.

PENUTUP

Berbagai penjelasan di atas menunjukkan bahwa kehidupan buruh perempuan di perkebunan sangat berat. Tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan kualitas hidup mereka agar lebih baik. Hal ini tentu saja memerlukan bantuan berbagai pihak baik dari pemerintah, NGO atau lembaga lainnya. Alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan dalam bentuk pertemuan, seperti penyuluhan, ceramah atau pelatihan yang dapat meningkatkan penhetahuan dan keterampilan. Apabila buruh perempuan memiliki pengetahuan dan keterampilan, maka buruh akan dapat menjadi motor penggerak dalam membangun kehidupan keluarga yang lebih baik.

*Tulisan dimuat di Jurnal Harmoni Sosial , September 2007