Tags

, , , , , , , , , ,

Oleh : Dra. Mazdalifah, Msi

Judul tulisan di atas tentu saja menggelitik hati kita sejenak, karena ada kontradiksi di dalamnya. Pembangunan di negeri ini telah menimbulkan pertanyaan : adakah kita menjadi kelompok yang pertama? Atau kita masuk ke dalam kelompok kedua.

Tentu saja sebagai mahasiswa kita menginginkan masuk ke dalam kelompok pertama, tetapi tidak jarang situasi dan kondisi akhirnya menjerumuskan kita ke dalam kelompok kedua. Tulisan ini akan berupaya melihat kondisi kekinian mahasiswa, di tengah maraknya demonstrasi BBM di berbagai kota, dimana mahasiswa merupakan tokoh sentral dalam kegiatan ini.

Ide dasar pendirian perguruan tinggi adalah untuk menciptakan manusia-manusia intelektual yang yang manusiawi, yang sanggup berfikir dan bekerja untuk masyarakat dan negaranya (Drost, 1990). Ide dasar ini sungguh mulia adanya. Namun realitas yang tampak pada kita adalah mahasiswa tidak lebih sebagai robot yang hanya tahu belajar, untuk mencapai indeks prestasi yang setinggi-tingginya, dan secepatnya meninggalkan almamaternya, dan kemudian mencari pekerjaan yang memberikan penghasilan yang besar. Bagi mahasiswa yang disebut aktivis tentu gambarannya sedikit berbeda, hari-hari mereka berlalu dengan diskusi dan saling adu argumen yang tiada habisnya. Predikat mahasiswa, mereka sandang sedemikian gagahnya, namun sedikit waktu yang mereka luangkan untuk menggali ilmu yang ia tekuni, atau merancang program yang lebih konkrit dan berguna bagi masyarakat. Biasanya mahasiswa model seperti ini, punya masalah dengan waktu penyelesaian masa studi. Karena terlalu asik dengan kegiatan, kuliah menjadi terbengkalai.

Diantara dua model mahasiswa di atas, tidak satupun yang ideal yang patut dicontoh dan diterapkan. Mahasiswa yang ideal adalah mahasiswa yang memiliki kemampuan intelektual, dan mampu menyumbangkan ilmunya untuk masyarakat dan negaranya. Pengertian yang lebih mendalam dari kalimat ini adalah menyebarluaskan ilmu yang ia peroleh dalam rangkaagen perubahan, mem merubah kehidupan masyarakat yang lebih baik. Peran mahasiswa disini adalah change of agents (Nasution, 2002). Menurut Duncan dan Zaltman ada beberapa kualifikasi dasar yang harus dimiliki oleh mahasiswa, untuk menjadi agen perubahan dalam pembangunan yakni :

  1. Kualifikasi teknis (memiliki kompetensi teknis dalam tugas yang spesifik)
  2. Kualifikasi administrasi (kemampuan mengalokasikan waktu untuk persoaln-persoalan yang relatif menjelimet)
  3. Hubungan antarpribadi (mengedepankan empati dalam menjalin hubungan antarpribadi)

Uraian di atas menunjukkan bahwa mahasiswa bertindak sebagai agen dalam pembangunan yaitu sebagai agen perubahan. Sisi lain mahasiswa dapat pula menjadi korban pembangunan. Mahasiswa tidak mampu melanjutkan studi, tidak memiliki keahlian sesuai dengan ilmunya akibat sistem pendidikan yang tidak benar, adalah gambaran dimana mahaiswa telah menjadi korban pembangunan. Kondisi seperti harus kita hindari, karena tidak menguntungkan bagi negara khususnya pribadi mahasiswa itu sendiri. Negara mengambil tangung jawab ini, dan kita harapkan ditengah carut marutnya kondisi ekonomi, negara tetap memperhatikan sektor pendidikan. Apapun yang terjadi, kita berharap semangat idealisme tidak surut dalam para mahasiswa. Mari kita optimis bahwa kita akan mampu mewujudkan cita, membangun masyarakat.

*Dimuat dalam Buletin ISI (Imajinasi Spirit Icon) – Oktober 2005