Tags

,

Oleh : Dra. Mazdalifah, Msi

Pembicaraan tentang televisi merupakan hal yang amat menarik dan selalu mendapat perhatian. Garin Nugroho turut memberi komentar : Televisi tampaknya akan kehilangan perannya sebagai agen pembentukan karakter bangsa…: (Harian Kompas, 17 Mei 2008).

Komentar Garin tersebut mengingatkan kita pada perdebatan tentang keberadaan televisi di tengah masyarakat, sebagian menganggapnya memiliki pengaruh yang baik, namun sebagian lagi menganggapnya memiliki pengaruh buruk. Garin menyatakan bahwa televisi ibarat Dewa Janus, penyelamat sekaligus penghancur.

Penelitian tentang televisi menunjukkan hasil yang beragam. Sejak tahun 1940 kajian atau studi tentang televisi mendapat perhatian dari para peneliti, hingga kini penelitian tentang televisi masih terus berlangsung. Tulisan ini berupaya membincangkan kembali tentang televisi, dengan memaparkan keunggulan dan kelemahan, pengaruh yang dimiliki, serta kajian televisi yang dilakukan dahulu hingga kini.

Keunggulan televisi

Televisi sebagai media paling populer memiliki keunggulan dibandingkan dengan media lain. Pertama, televisi bersifat audio visual, sehingga khalayak dapat menikmati secara audio (mendengar) dan visual (melihat). Audio merupakan unsur suara yang dapat didengar berupa lagu atau musik. Sementara visual merupakan unsur penglihatan berupa gambar bergerak dan berwarna, sehingga gambar terlihat lebih menarik untuk dilihat.

Kedua, televisi memiliki daya jangkau yang amat luas, sehingga dapat menyapa khalayak di pelosok dalam jumlah cukup besar. Daya jangkau yang luas menjadikan televisi memiliki berjuta penonton fanatik, seperti tayangan sinetron atau film.

Ketiga, televisi memiliki keunggulan dalam penyampaian pesan yang cepat. Khalayak dapat menikmati berita atau peristiwa terkini, tidak berbeda jauh dengan peristiwa sebenarnya. Misalnya peristiwa gempa di China,  dapat disaksikan saat gempa tersebut baru saja terjadi. Berbeda halnya dengan surat kabar, peristiwa tersebut baru bisa disajikan dan dinikmati pada keesokan harinya. Keunggulan televisi ini memungkinkan kita memperoleh informasi terkini, akurat, tepat, dan hangat.

Kelemahan televisi

Televisi memiliki pula kelemahan. Pertama, televisi memiliki modal yang amat mahal dan tenaga yang banyak. Artinya, untuk mendirikan sebuah stasiun televisi kita memerlukan dana amat besar dan tenaga yang banyak untuk dapat mengoperasikan berbagai alat. Stasiun televisi memerlukan peralatan yang lengkap, ruang dan gedung yang memadai, sumber daya manusia yang memiliki keahlian, dan lain sebagainya.

Kedua, biaya produksi amat mahal. Stasiun televisi biasanya beroperasi selama lebih kurang 15-18 jam setiap hari. Biaya produksi yang dikeluarkan agar acara televisi dapat berlangsung baisanya amat mahal yang biasanya berkaitan dengan pembiayaan pengadaan properti, studio, sumber daya manusia, listrik, alat dan sebagainya.

Ketiga, pesan yang disampaikan bersifat sekilas. Pesan melalui media televisi biasanya tidak dapat diulang. Apabila menginginkan pesan tersebut, kita tidak dapat mengulanginya seperti yang kita dapatkan pada media suratkabar.

Ahmad Zaini Abar (1997) mengatakan terdapat dua pandangan yang saling berhadapan (vis a vis) perihal pengaruh media dalam masyarakat. Pertama, pandangan optimistik (the enthusiatic position) dalam media melihat pengaruh media di masyarakat. Media massa dianggap kekuatan (informasi) yang dapat mempengaruhi kognisi, afeksi, bahkan perilaku sosial khalayaknya. Media dianggap efektif untuk wahana pendidikan dan sosialisai nilai-nilai positif, dan media dianggap pula sebagai perusak sikap, moral serta menimbulkan perilaku destruktif.

Kedua, pandangan pesimistik (the null position). Pandangan ini melihat informasi yang diproses media massa tidak berpengaruh terhadap khalayaknya. Sebab, khalayak dianggap punya daya tahan atau resistensi terhadap berbagai pengaruh tayangan media. Lebih dari itu, khalayak punya kemampuan rasional memilih dan membedakan media informasi yang berguna dan mana yang tidak.

Manakah yang berlaku? Berdasarkan pengamatan dan kajian yang telah berlangsung, kedua pandangan tersebut sama-sama berlaku untuk kasus Indonesia. Hanya saja, tingkat kemungkinan yang lebih banyak berlaku adalah pada pandangan pertama. Hal ini didasari pada jenis khalayak Indonesia yang belum memiliki tongkat pendidikan dan pengetahuan yang memadai. Kondisi seperti ini memungkinkan adanya filter (saringan) yang tidak ketat dalam diri masing-masing individu.

Penduduk Indonesia pada umumnya memiliki pengetahuan dan pendidikan yang rendah, sehingga mereka tidak memiliki filter, saat mengkonsumsi media. Semua pesan cenderung diterima dan dianggap benar. Padahal tidak semua pesan seperti itu. Realita menunjukkan bahwa banyak tayangan sampah (tayangan tidak mendidik) yang muncul di televisi. Hal seperti yang dikritik oleh KPI, dengan mengeluarkan sepuluh tayangan sampah, yang tidak layak tonton dan harus diwaspadai (Harian Waspada, 12 Mei 2008).

Televisi Sebagai Objek Studi

Sejak kehadirannya pertama sekali, televisi telah mampu menyedot perhatian khalayak. Industri televisi berkembang secara pesat sejak pasca perng dunia II, ketika orang-orang tua di Amerika dan Eropa lewat televisi melihat wajah perang dunia dan menunggu anak mereka pulang dari perang. (Garin, Harian Kompas, 18 Mei 2008).

Televisi sebagai objek studi dimuali pada tahun 1940, yang mengacu pada kecemasan terhadap televisi dan dampak yang ditimbulkannya. Televisi juga mempunyai sejarah kritis yang membantu mendefenisikan hakikat kajiannya. Gerakan-gerakan kritis dari pelbagai era memiliki kontribusi besar dalam cara menginterpretasikan bagaimana kita memahami televisi, misalnya semiotika pada tahun 1960-an, postmodernisme dan budaya pop sejak tahun 1980-an.

Garis besar uraian berikut berisi pengaruh khusus dari para komentator atau kritkus individual. Pertama, Barthes dan analisis tekstual melalui pemahaman signifikansi (penandaan), Althusser dan analisis struktural yang mewarnai pos-marxisme, Bourdieu dan kesenangan khalayak (audience pleasure) terkait dengan teks popular (Burton, 2007).

Kajian televisi di Indonesia pada umumnya masih mengacu pada kecemasan terhadap televisi. Objek studi di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU menunjukkan nahwa kajian televisi belum banyak menyentuh dan menggali topik-topik yang disebutkan oleh Burton. Ketidakmengertian dan minimnya motivasi menggali hal-hal yang baru adalah penyebab utama mandegnya penelitian kajian ini.  Kita berharap kajian televisi di masa depan, lebih berkembang dan mewarnai khasanah kajian ilmu komunikasi.

Media cetak Radio Televisi
Modal Mahal Relatif Mahal
Tenaga Relatif Sedikit Banyak
Biaya produksi Relatif Murah Mahal
Kekuatan pesan Khayal Khayal Konkret
Kekuatan penyampaian pesan Lambat Cepat Cepat
Khalayak Terbatas Luas Luas
Ruang penyampaian pesan Tidak terbatas Terbatas Sangat terbatas
Kesan diperoleh Mendalam Sekilas Sekilas

KEKUATAN dan kelemahan televisi dibandingkan dengan media lain (Darwanto, 2007).

*Tulisan dimuat  di Majalah Kajian Media DICTUM vol. II