Tags

, , , ,

Oleh : Dra. Mazdalifah, MSi

ABSTRAK

Pendidikan Media Literacy merupakan sebuah agenda yang amat penting untuk dilaksanakan saat ini. Media Literacy merupakan satu bentuk kecerdasan dalam bentuk interaksi dan menggunakan media. Pendidikan Media Literacy ini diupayakan agar dapat mengatasi dampak buruk televisi. Fenomena televisi sebagai media penyampai hiburan dan informasi pada masyarakat, makin marak dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tayangan televisi banyak menyajikan tayangan yang tidak mendidik daripada tayangan mendidik. Tayangan tidak mendidik dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak buruk kepada penontonnya, terutama penonton anak-anak. Dampak buruk tersebut berupa munculnya perilaku kekerasan, konsumtif, dan yang lanilla pada diri anak-anak. Keluarga sebagai tokoh penting dalam kehidupan anak-anak, diharapkan dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan Media Literacy, anak-anak dapat terhindar dari dampak buruk televisi.

PENDAHULUAN

Dewasa ini perkembangan teknologi media sedemikian pesatnya, hampir setiap hari kegiatan manusia selalu berhubungan dengan media. Media yang dimaksud adalah radio, surat kabar, majalah, televisi, internet dan lain sebagainya. Salah satu media populer dan amat diminati oleh masyarakat Indonesia adalah televisi. Hal ini dapat dilihat dari kepemilikannya, diperkirakan lebih dari 80 juta set televisi di Indonesia. (Mahayoni dan Lim, 2008). Jika satu televisi ditonton oleh tiga orang, amak dengan demikian hampir semua penduduk Indonesia menyaksikan tayangan televisi. Suatu fenomena yang amat fantastis, apalagi jika dikaitkan dengan potensi pasar iklan, jumlah ini merupakan jumlah yang amat luar biasa banyaknya.

Perkembangan lebih lanjut menunjukkan televisi di Idonesia telah menjadi industri yang menggurita, dengan hadirnya 10 stasiun penyiaran televisi. Hadirnya ke sepuluh stasiun televisi ini mampu menyajikan berbagai macam tayangan yang amat variatif. Khalayak penonton dapat memilih tayangan yang disukainya dari berbagai stasiun penyiaran. Namun sayangnya tayangan televisi satt ini ternyata lebih menonjolkan kekerasan, eksploitasi seksualitas, horor, mistik dan kemewahan yang tiada tara. Ade Armando menyatakan bahwa siaran televisi di Indonesia banyak mengandung konsumerisme, pornografi, kekerasan, mistik dan kemewahan (Waspada, 25 Agustus 2005). Muatan tayangan seperti ini dikhawatirkan dapat menimbulkan pengaruh buruk pada diri penontonnya, khususnya penonton anak. Anak-anak yang dimaksudkan disini adalah anak yang bersekolah di taman kanak-kanak. Usia mereka berkisar antara 4-6 tahun dimana pada umumnya belum dapat berfikir secara kritis. Belum dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Kekhawatiran tentang pengaruh buruk televisi pada diri anak-anak dikarenakan menonton televisi merupakan kegemaran mereka. AGB Nielsen sebuah lembaga riset penelitian mencatat bahwa anak-anak di kota Medan yang berusia 5-14 tahun menghabiskan waktu tiga jam satu hari. Dan pada masa libur waktu menonton televisi menjadi meningkat menjadi 4-6 jam sehari. (Nielsen, 2007). Hasil temuan ini tentu saja tidak jauh berbeda dengan kota-kota lainnya di Indonesia, hal ini dikarenakan karakteristik anak-anak di kota Medan hampir sama dengan karakteristik di kota lainnya, sama-sama menggemari televisi sebagai media hiburan.

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil gambaran, bila anak-anak menonton televisi secara berlebihan, sementara isi tayangan televisi sangat tidak mendidik, dikhawatirkan televisi dapat menimbulkan pengaruh buruk pada diri anak. Namun fenomena yang ada menunjukkan banyak keluarga dalam hal ini orang tua belum menyadari hal ini. Bahwa televisi dapat menimbulkan pengaruh buruk pada diri anaknya. Pada umumnya mereka memperlakukan televisi sebagai sahabat, para ibu membiarkan anaknya menonton televisi sepanjang waktu. Tanpa batasan waktu, tanpa penjelasan dan tanpa pendampingan.

Bagi orangtua hal ini lebih baik daripada anaknya bermain di luar rumah. Para orangtua khususnya para ibu, merasa nyaman melihat anaknya duduk manis di depan televisi, sembari mereka sibuk menyelesaikan tugas rumah tangga. Hal yang sama ditemukan pula pada diri Ayah, sepanjang pengamatan menunjukkan kesadaran mereka belum ada, dan menganggap bahwa televisi adalah media yang aman.

Salah satu cara agar pengaruh buruk televisi dapat diminimalisir adalah gagasan untuk memperkuat publik agar mampu mengatasi sendiri ekses-ekses media. Gagasan ini diwujudkan dalam konsep “media literacy” atau “melek media”. Konsep “melek media” sebagai alternatif memberdayakan publik di tengah kepungan media. Intinya, konsep ini berkehendak untuk mendidik publik agar mampu berinteraksi dan memanfaatkan media secara cerdas dan kritis. Sehingga publik tidak mudah dibodohi media, dan tidak gampang dieksploitasi media untuk kepentingan-kepentingan yang tidak berpihak pada kebutuhan publik.

Melek media, lantas diwujudkan dalam tindakan konkret berupa pendidikan dan pelatihan bagi publik agar mampu memahami isi media, mampu mengakses dan menggunakan media, serta mampu berkomunikasi melalui media secara interaktif. Dengan kemampuan semacam ini, publik diharapkan tidak lagi bersikap pasif ketika berhadapan dengan media. Namun, bisa mengkritisi dan meyeleksi isi media sesuai dengan kebutuhannya, terutama yang terkait dengan pengembangan SDM.

 

PERMASALAHAN

Berdasarkan uraian tersebut di atas timbul pertanyaan “Apakah Pendidikan Media Literacy Keluarga mampu mengatasi dampak buruk media televisi kepada anak-anak”? pertanyaan ini menjadi penting mengingat, dampak buruk media televisi sudah mulai tampak. Beberapa anak-anak telah menjadi korban, akibat meniru tayangan Smack Down. Banyak orang tua merasa heran mendengar anaknya telah mampu mengupat dan meyumpah, persis seperti adegan sinetron. Pada situasi lain, beberapa anak tidak mau sekolah apabila sepatu dan tas mereka tidak seperti iklan di televisi. Pertanyaan di atas menjadi relevan untuk diangkat, dan akan penulis bahas pada uraian berikut.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Target melek media terfokus pada publik, walau tak menutup kemungkinan target sasaran lain seperti kalangan pemerintah, pembuat undang-undang, maupun pemilik media sendiri. Kendati kebutuhannya dirasakan penting bagi semua pihak, konsep ini terutama ditujukan bagi kalangan anak muda penikmat (dan pengguna) media. Anak-anak adalah penonton muda penikmat media yang amat besar jumlahnya di Indonesia.

Harian Kompas 23 Juli 2006 menyatakan bahwa jumlah penonton anak di Indonesia 70 juta. Dan mereka pada umumnya menghabiskan waktu menonton televisi lebih banyak dari kegiatan lain. Bagi anak-anak menonton televisi adalah hiburan gratis. Dan bisa jadi hampir sepanjang hari diisi dengan menonton televisi.

Seperti yang dikatakan Milton Chen dalam bukunya Anak-anak dan Televisi, Televisi adalah kegiatan baku di kebanyakan rumah. Televisi dengan mudah bisa melahap sebagian besar waktu anak, dan anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada kegiatan apapun lainnya, kecuali tidur (Chen, 2005:27).

Target lain yang tak kalah penting sebagai sasaran media literacy adalah kalangan keluarga dalam hal ini orangtua yang terdiri dari ayah dan ibu.  Bagaimanapun keluarga adalah madrasah pertama bagi anak, dimana ia pertama sekali menerima nilai baik dan nilai buruk kehidupan. Dengan memberdayakan keluarga khususnya ayah ibu menjadi melek media, diharapkan mereka mau mewariskan nila-nilai kultural edukatif yang dapat membentengi putra-putrinya dari pengaruh buruk media televisi.

Keluarga sendiri sesungguhnya tidak kalah rentan terkena dampak buruk media televisi dibanding anak-anaknya. Banyak para ayah dan ibu yang menghabiskan waktunya dengan menonton televisi, dengan menonton tayangan yang tidak mencerdaskan. Tayangan sinetron dan infotainment merupakan tayangan yang paling banyak mereka tonton, sementara tidak semua sinetron memiliki muatan yang mendidik. Pada umumnya tayangan tersebut menyajikan perselingkuhan, konflik, kekerasan dan kemewahan yang tiada tara.

Media literacy perlu mendapat perhatian dikarenakan adanya kekhawatiran akan pengaruh buruk televisi terhadap anak-anak. Anak-anak yang dimaksud adalah anak yang bersekolah di taman kanak-kanak. Berdasarkan hasil penelitian Nelson (Mulyana & Ibrahim, 1997) bahwa memori anak-anak mulai terbentuk pada usia 3,5 – 4 tahun. Pada usia ini meori anak-anak secara kumulatif mulai merekam bernagai kejadian disekitar hidupnya. Hal penting dan berulang-ulang akan direkam secara relatif menetap dalam ingatannya. Sementara itu Levine (Mazdalifah, 1999) menyatakan pada umur sembilan tahun anak-anak baru bisa membedakan antara kenyataam dan khayalan.

Oleh karena sifat anak-anak yang masih labil seperti ini orangtua patut merasa khawatir, karena berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa televisi dapat memberi pengaruh pada diri anak. Van Evra (2004) menyatakan bahwa televisi memberi pengaruh pada perkembangan sosial dan emosi anak. Menonton televisi dan penggu8naan media lainnya dapat memberi pengaruh pada interaksi sosial, respon emphatic, perilaku prososial, kemampuan memecahkan maalah, contentedness, pemanfaatan saat luang dan beberapa aspek kehidupan kanak-kanak lainnya.

Keprihatinan terhadap pengaruh buruk televisi terhadap anak telah mendapat perhatian sejak tahun 1946. Anderson dan Bushman (2002) menyatakan bahwa fakta empiris yang telah dikumpulkan oleh Kepala Jawatan Kesehatan Amerika Serikat pada tahun 1972 yang menyatakan bahwa kekerasan dalam televisi memang memiliki pengaruh merugikan pada anggota masyarakat tertentu, khususnya anak-anak dan remaja.

Berdasarkan uraian ini dapat diambil kesimpulan bahwa menonton televisi bagi anak-anak akan memberi pengaruh pada diri anak. Pengaruh tersebut akan sangat bergantung pada apa yang ditonton anak, dan seberapa jauh peran keluarga dalam hal ini orang tua dalam membimbing dan mendampingi anak saat menonton televisi. Bagaimana isi tayangan televisi Indonesia saat ini? Apakah tayangan televisi saat ini aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak?

Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (2006) merupakan salah satu lembaga pemantau media anak telah melakukan pengamatan secara cermat. Hasil amatan menunjukkan bahwa acara anak-anak di televisi Indonesia secara kuantitas sangat banyak disominasi program dari Jepang, sebagian besar berisi hal-hal yang berkaitan dengan kekuatan supranatural, kekerasan, seksualitas dan tidak sesuai dengan kelompok anak-anak. Sebagai kasus : tayangan film kartun Sincan dan film kartun Doraemon, selama ini dianggap tayangan untuk anak-anak ternyata banyak mengandung tayangan tidak mendidik yang tidak sesuai dengan usia mereka. Tayangan tersebut banyak mengandung kata-kata memaki, berbohong, merayu, yang berpengaruh buruk bagi perkembangan anak-anak.

Banyaknya tayangan televisi dengan muatan tayangan tidak mendidik, tentu saja membuat para ahli, pendidik dan keluarga khususnya orangtua, harus melakukan tindakan pencegahan agar pengaruh buruk tersebut dapat diminimalisir. Kekhawatiran ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Gebner (Nurudin 2007) yang telah melakukan penelitian jangka panjang bahwa televisi mampu mempengaruhi pandangan, sikap pemirsanya terutama pada penonton berat (heavy viewer). Gebner menghasilkan teori Kultivasi yang menyatakan bahwa televisi telah menjadi alat utama dimana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur alam sekitarnya. Persepsi apa yang terbangun di benak penonton tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi.

Berdasarkan kajian dan uraian teori yang ada, dapat kita lihat bahwasanya persoalan menonton televisi dan pengaruhnya pada diri anak-anak perlu mendapat perhatian serius. Apalagi jika kita mengamati perkembangan tayangan televisi belakangan ini tidak juga mengalami perubahan, meskipun sudah banyak anggota masyarakat yang mengajukan keberatan atas mutu tayangan televisi kita. Salah satu upaya untuk menghambat atau mencegah pengaruh buruk yang lebih luas, perlu kiranya dilakukan upaya pembelajaran melalui pendidikan media literacy khususnya media televisi kepada seluruh lapisan masyarakat apakah anak-anak, remaja, orang tua, dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan penonton anak-anak, Neil Postman (Supritono, 2000) menyatakan bahwa untuk menimbulkan daya kritis pada penonton anak terhadap televisi, sikap orang tua (keluarga) dan berbagai lembaga masyarakat perlu dilibatkan. Orang tua adalah tokoh penting bagi anak, karena orang tua yang mengasuh dan mendidik anaknya dari sejak lahir sampai anak-anak dewasa. Peran orang tua amat penting dalam memberikan arahan dan pembelajaran tentang apa saja, termasuk tentang televisi agar anaknya dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berhasil kelak.

Oleh sebab itu keluarga terutama ayah ibu perlu mendapat pendidikan agar memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana caranyaberhadapan, dan mengunakan media khususnya media televisi secara efektif. Maksud efektif disini adalah orang tua memahami dan dapat mengunakan media televisi dengan memaksimalkan potensi positif dari media televisi daripada potensi negatifnya. Ide untuk melakukan pembelajaran kepada penonton dalam hal ini masyarakat luas dalam menggunakan media dikenal dengan istilah Media Literacy.

Mc Cannon (Strasburger & Wilson, 2002) mendefenisikan secara umum Media Literacy meliputi kemampuan menganalisa, mengakses, danmenghasilkan media. Defenisi dari Baran (2002) menyatakan bahwa media literacy sebagai kecakapan bermedia yaitu kemampuan secara efektif dan secara efisien memahami dan menggunakan komunikasi massa.

Media Literacy pertama kali dikembangkan sebagai alat dalam melindungi orang-orang dari paparan pesan media. Negara yang pertama kali mendengungkan konsep ini adalah negara Inggris pada tahun 1930-an. Pada tahun 1980 di Inggris dan Australia kecakapan bermedia sudah menjadi mata pelajaran tersendiri. Sementara itu di Indonesia media literacy belum mendapat perhatian penuh dari pemerintah, kegiatan media literacy baru terbatas pada kegiatan yang bersifat Talk Show, dan Seminar saja. Belum tersedia satu kegiatan pembelajaran yang terstruktur dengan baik atau kampanye media literacy yang utuh.

Peran keluarga khususnya orang tua dalam media literacy mendapat perhatian pula oleh Yayasan Pengembangan Media Anak Jakarta (2006) yang mengajak para keluarga (orang tua/ayah, ibu) membantu anak memilih tayangan televisi, membatasi jam menonton serta mengajak mereka bermain di luar rumah. Beberapa negara telah menerapkan pendidikan media literacy ini sejak lama. Sebagai contoh di Amerika Utara konsep kecakapan media dijadikan sebagai topik pendidikan mulai tahun 1978. Association for Media Literacy ( AML) Ontario Kanada dikenal sebagai negara di Amerika Utara yang gigih mengembangkan kecakapan bermedia. Sementara itu negara Amerika Serikat pada awalnya tidak begitu memperhatikan media literacy. Namun kini Universitas New York, Universitas Columbia, dan Universitas Texas-Austin menawarkan kursus dan lembaga musim panas mengajarkan kecakapan bermedia kepada guru dan siswa baru lulus.

Perkembangan media literacy di Indonesia dimulai sejak tahun 1990an. Hal ini seiring dengan perkembangan televisi yang sedemikian pesat, sehingga penonton kita banyak menikmati aneka tayangan dari berbagai stasiun televisi yang ada. Hanya saja kualitas tayangan televisi Indonesia harus diakui belum begitu baik. Bila dilakukan pengamatan lebih mendalam akan dapat dilihat bahwa tayangan tidak mendidik lebih banyak dari tayangan yang mendidik. Tayangan yang mendidik adalah tayangan yang berisikan dan mengajarkan semangat kerjasama, tolong menolong, cinta sesama, membangkitkan semangat kebangsaan dan cinta pada negara, memberi informasi tentang perkembangan negara, dan lain sebagainya. Pada sisi lain tayangan tidak mendidik adalah tayangan yang tidak berguna dan dapat menimbulkan dampak buruk pada penontonnya, seperti : kekerasan, mistik, kemewahan tiada tara, dan pornografi.

Hal semacam inilah yang mendorong agar dilakukannya kegiatan media literacy yang lebih intensif dalam bentuk pendidikan keluarga, dengan harapan keluarga khususnya ayah ibu menjadi mengerti dan akhirnya memiliki keterampilan dan mengguna dan meng akses media khususnya media televisi. Pendidikan yang dimaksud bukan saja sebatas seminar atau talk show yang bersifat sementara, melainkan pendidikan yang terpadu dan terstruktur. Pendidikan semacam ini memerlukan modul yang komprehensif dimana isinya dapat menambah dan memandu para orang tua untuk menerapkannya pada anak-anak mereka.

Berkaitan dengan pendidikan media literasi di atas, James W Potter (2005) mengajukan model dari Media Literacy yang mencakup Knowledge Structure dan Competencies and Skills yang harus dimiliki setiap orang agar dapat mengantisipasi pesan buruk media. Knowledge structure berkaitan dengan strukur pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tentang pengaruh media, isi media, dan industri media. Potter menjelaskan lebih lanjut bahwa struktur pengetahuan merupakan dasar dalam mengembangkan media literacy. Seseorang tidak akan memiliki keterampilam media literacy apabila struktur pengetahuannya belum dirubah.

Pengetahuan tentang pengaruh media adalah pengetahuan tentang bagaimana media ternyata dapat memberi pengaruh kepada penontonnya. Bahwa media tidaklah selalu aman untuk dikonsumsi. Televisi hadir di tengah kehidupan kita dan membawa seperangkat nilai yang baik maupun nilai yang buruk. Kita sebagai penonton diharapkan untuk berhati-hati dan melakukan pemilahan, dan selalu mengusahakan menonton tayangan yang aman dan mendidik.

Selanjutnya, kita perlu mengetahui tentang isi media, berupa tayangan hiburan, berita dan iklan. Bahwa masing-masing stasiun televisi akan menyajikan aneka tayangannya mencakup hal-hal dia atas. Pengetahuan tentang isi media secara lebih mendalam akan membantu kita untuk memilih mana tayangan yang aman dan bermanfaat buat keluarga.

Pada perkembangan berikutnya kita sebagai penonton dianjurkan Untuk mengetahui tentang industri media berkaitan dengan pendapatan, biaya dan keuntungan yang diperoleh televisid alam menjalankan aktifitasnya sehari-hari. Pengetahuan ini akan bermanfaat bagi kita untuk melihat bahwa stasiun televisi tersebut lebih berorientasi kepada bisnis ataukah benar-benar membawa misi pendidikan. Jika kita ketahui bahwa sumber penghasilan stasiun televisi sangat besar keuntungannya, kita harus lebih waspada.

Apabila hal tersebut di atas telah ada pada diri seseorang, tahapan berikutnya akan muncul keterampilan media literacy. Faktor keterampilan ini adalah hal yang paling diharapkan dalam media literacy, dikarenakan keterampilan ini merupakan sebuah tindakan akhir berupa aksi/tindakan yang paling diharapkan. Setiap aktifitas selalu diharapkan berakhir dalam bentuk tindakan. Leterampilan media literacy mencakup hal-hal sebagai berikut.

Pertama penotnon memiliki keterampilan memilih tayangan yang berkualitas artinya penonton diharapkan dapat memilih tayangan mendidik daripada tayangan tidak mendidik. Kedua, penonton memiliki ketrampilan dengan membatasi waktu menonton televisi, artinya penonton diharapkan dapat membatasi waktu menontonnya, dan melakukan aktifitas lain yang lebih bermanfaat. Hal penting lain yang harus dimiliki oleh penonton kita adalah keterampilan melakukan pendampingan, hal ini berkaitan dengan penonton yang memiliki anak di bawah umur. Selayaknya pendampingan harus dilakukan mengingat anak-anak adalah penonton yang belum dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Keempat, penonton diharapkan memiliki keterampilan menjelaskan makna tayangan yang ditontonnya kepada anggota keluarga yang lebih muda, seperti anak-anak dan remaja. Penjelasan ini diharapkan membuat anak-anak dan remaja paham, bahwa apa yang mereka tonton memiliki nilai-nilai tertentu.

Pendidikan media literacy yang tersusun dan terselenggara dengan baik, mungkin masih membutuhkan waktu yang amat panjang, untuk mewujudkannya. Tetapi sebagai keluarga yang notabene adalah orang tua dari anak-anak dan remaja, sepatutnya kita berpangku tangan. Uraian-uraian di atas telah m,enunjukkan kepada kita betapa pentingnya media literacy ini. Pendidikan media literacy yang utuh dan menyeluruh diharapkan dapat menjadi benteng yang kuat untuk mencegah dampak buruk televisi.

PENUTUP

Peran media sebagai media pendidikan bagi masyarakat seharusnya menjadi priorotas utama. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Media lebih banyak mengarah pada penurunan nilai moral, seperti keekrasan dan pornografi. Keluarga diharapkan dapat membentengi putra putrinya, oleh sebab itu keluarga harus cerdas dalam berinteraksi dengan media. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan pendidikan media literacy pada keluarga di Indonesia. Pendidikan ini dapat berupa seminar, talk show, ataupun work shop, yang diharapkan dapat menjadi bekal mereka dalam mendidik anak-anak berinteraksi dengan media televisi.

 

Tulisan dimuat di KESKAP Jurnal lmu-Ilmu Sosial Vol.6 No.3/Oktober 2008