Tags

, , , , , , , , ,

Oleh : Dra. Mazdalifah, Msi

Abstract

                The television is household equipment that always possessed by almost of family. The spread of television caused the cinema almost die. Along time spend for watch television program. Infact, watch television program activity have been main rival for learn activity, especially for children. In accordance with television speread, the children behaviour changes fastly. They often forward unequaled behaviour for their age. The crude, opposition to parents, consumptive are behaviour that they forward oftenly at recently. Are they initated from television programs? Perceive children behaviour change turn up the perception that mention that television program caused negative impact for children behaviour, but perception that mention television programs give positive impactenough too, especially knowledge in many fields. The both negative and positive perception have strong argument. Beside those perceptions, there is hypothesis, that make regularly in home, especially about television watching more determine characteristic of influence of television for children selves.

Pendahuluan

Televisi merupakan salah satu media massa yang sering menjadi pembicaraan baik oleh masyarakat awam, pemerhati media, orangtua, maupun para pendidik. Kehadiran televisi dalam kehidupan masyarakat membawa kontroversi, terutama jika membicarakan masalah pengaruh yang ditimbulkan oleh media ini. Secara garis besar ada dua pendapat yang berkembang. Pertama, yang menyatakan bahwa televisi membawa pengaruh negatif. Kedua, pemdapat yang menyatakan bahwa televisi membawa pengaruh positif atau membawa manfaat bagi kehidupan manusia. Jika kita mengamati secara lebih mendalam, pendapat pertama benar adanya, namun jika telaah pendapat kedua, kita akan menemukan jawaban yang sama. Lantas yang menjadi pertanyaan sekarang adalah manakah pengaruh yang paling dominan? Apakah kita bisa memaksimalkan manfaat televisi, dan meminimalisir pengaruh negatifnya? Bagaimana pula pengaruh televisi pada diri anak?

Membahas pengaruh televisi pada anak merupakan hal yang amat penting, khususnya pada diri anak usia 1-5 tahun. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh kondisi anak yang belum dapat memahami acara di televisi secara benar. Mereka menganggap bahwa kejadian yang ditampilkan di televisi merupakan hal yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Cara berfikir mereka yang belum dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang merupakan khayalan, mana yang benar dan mana yang salah, mengajibatkan mereka sering meniru mentah-mentah apa yang ada di televisi.  Kondisi ini semakin memprihatinkan melihat banyak acara televisi yang menampilkan pornografi, kekerasan, kemewahan, dan lain sebagainya. Akibatnya, muncul beberapa kejadian yang membawa masalah bagi diri anak. Contohnya: agresifitas yang tinggi pada diri anak, sifat konsumerisme, dan tingkat kematangan jiwa yang terlalu cepat.

Semua hal yang diungkapkan diatas merupakan sisi buruk televisi, namun televisi juga mempunyai sisi yang baik, yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Anak memperoleh tambahan kosakata dalam bahasa Inggris, anak mengetahui aneka satwa yang ada di belahan dunia lain, mengetahui kota-kota besar yang bersejarah, serta sebagainya. Lantas bagaimana sebaiknya kita memperlakukan media ini? Menghindari anak-anak dari televisi merupakan hal yang tidak mungkin, karena anak bisa menontonnya di rumah tetangga. Membungkus dan menyimpan televisi di gudang, bukan pula solusi terbaik.

Secara umum dalam tulisan ini kita akan membahas mengenai televisi. Tulisan ini berupaya memberikan gambaran kepada para orangtua, pendidik, maupun para ahli, mengenai televisi dan keberadaannya dalam kehidupan masyarakat. Secara lebih khusus tulisan ini lebih memusatkan perhatiannya pada pengaruh televisi dalam diri anak. Dan pada akhir tulisan ini, penulis mencoba menawarkan solusi, bagaimana sikap yang lebih bijaksana dalam memperlakukan si ‘kotak ajaib’ ini.

Sekilas tentang Televisi

Televisi merupakan media massa elektronik yang kehadirannya mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Televisi merupakan gabungan dari istilah ‘tele’yang berarti jauh  dan ‘vision’ yang berarti penglihatan. Televisi menggabungkan unsur audio (pendengaran) dan unsur visual (penglihatan). Televisi memiliki daya tarik dibandingkan media lain, karena menampilkan gambar hidup dan warna. Kedua aspek ini membuat televisi mampu menarik banyak perhatian masyarakat. Menonton televisi menjadi kebiasaan baru yang cenderung menyita waktu luang mereka.

Periset Alan Rubin (dalam De Vito 1997) menyelidiki alasan-alasan orang menonton televisi yaitu : (1) untuk belajar, (2) untuk melewatkan waktu luang, (3) untuk persahabatan, (4) untuk melupakan, (5) untuk rangsangan, dan, (6) untuk relaksasi. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang, mengalami kemajuan pesat dalam dunia televisi sejak era 90-an. Pertama sekali muncul stasiun RCTI, menyusul kemudian SCTV, TPI, Anteve, Indosiar, Metro TV, Trans TV dan TV7. Kehadiran tv swasta telah mendobrak dominasi TVRI dalam menyiarkan beragam informasi dan hiburan. Kehidupan dunia informasi dan hiburan menjadi semarak, karena televisi swasta ini menawarkan aneka ragam informasi dan hiburan yang berbeda dari TVRI. Masyarakat memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan informasi dan hiburan.

Sejak era reformasi bergulir tahun 1998, dunia televisi semakin eksis. Di era kebebasan ini masing-masing saluran TV swasta berlomba menyajikan hal menarik, guna merebut pehatian masyarakat penonton. Salah satu upaya untuk menarik perhatian tersebut adalah dengan memasukkan unsur daya tarik fisik manusia (khususnya perempuan) yang cenderung memamerkan aurat, atau kekerasan fisik lewat adegan perkelahian, pembunuhan, pemboman, perusakan, mengeksploitasi  kemewahan secara berlebihan, dan sebagainya.

Hal tersebut membawa konsekwensi tertentu bagi kehidupan masyarakat khususnya anak-anak. Kita menjadi terbiasa bahkan kebal bila menyaksikan kekerasan, dan semakin banyak orang yang permissif dalam menjalankan norma-norma. Pada anak-anak kondisinya kurang lebih sama. Meskipun beberapa ahli masih meragukan apakah hal tersebut diakibatkan oleh televisi atau bukan. Namun yang perlu dicatat adalah manakala rentang waktu menonton televisi semakin tinggi maka kemungkinan terjadinya perubahan pada diri anak akan semakin besar.

Pengaruh Televisi pada Anak

Bagi kebanyakan anak, waktu untuk menonton televisi sama besarnya dengan waktu untuk belajar dan bermain. Kegiatan menonton televisi menjadi kegemaran anak, bahkan sebagian dari mereka lebih suka hukuman tidak menerima uangn jajan daripada harus menerima hukuman tidak boleh menonton televisi. Mereka akan sangat menderita sekali, sehingga mereka akan berusaha mengalihkan hukuman tersebut dalam bentuk lain. Hal ini membuktikan bahwa menonton televisi merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia anak.

Ketika anak menonton televisi mereka melihat apa saja acara yang tersedia, seiring dengan waktu dan bertambahnya usia, mereka mulai menunjukkan minat acara-acara apa saja yang mereka sukai. Hurlock (1998) menyatakan : “Anak-anak prasekolah menyukai dramatisasi yang melibatkan hewan dan orang yang dikenal, musik, kartun, komedi sederhana. Anak kelas satu dan dua menyukai pertunjukan boneka, film koboi, misteri, humor, suasana kehidupan keluarga dan acara kuis berhadiah. Anak kelas tiga dan empat tertarik dengan acara yang imajinatif seperti tentang roket dan kenderaan luar angkasa, show, cerita misteri, detektif, drama, dan musik. Anak kelas lima dan enam tetap menyukai acara tersebut, tetapi mereka juga menyukai acara yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan hasta karya. Cerita, komedi, kartun dan musik disenangi anak di setiap tingkat usia anak”.

Meskipun banyak orang menyatakan televisi dapat merusak anak-anak, kita tidak dapat menutup mata bahwa ada acara televisi yang bermanfaat bagi mereka. Kita tidak pernah lupa dengan drama boneka si Unyil yang begitu terkenal beberapa waktu lalu. Lewat tayangan boneka si Unyil, anak-anak memperoleh pelajaran tentang nilai-nilai kesetiakawanan, gotong rotong, saling menghormati melalui tokoh Unyil, Cuplis, Usro, Mei Lan, dan Pak Raden. Pada waktu itu anak-anak begitu mengidolakan Unyil sebagai tokoh yang baik, ramah, dan suka menolong. Anak-anak ingin menjadi seperti Unyil, orang tua selalu menyelipkan petuah atau nasihat agar anaknya meniru sifat Unyil. Tayangan boneka si Unyil telah memberi pengaruh positif bagi anak, dan sampai kini tayangan ini diakui sebagai tayangan yang sangat edukatif.

Contoh aktual mengenai sisi positif tayangan TV, kita dapat menyimak tayangan Discovery World di saluran TPI. Tayangan ini sarat dengan pengetahuan, yang membuka cakrawala berfikir anak mengenai berbagai hal. Anak menjadi tahu dan memahami kehidupan makhluk di dalam laut. Bagaimana ikan hiu atau Paus hidup, melahirkan, mencari makan dan bertahan hidup. Anak-anak diperkenalkan pada alam bawah laut yang indah, dimana terdapat berbagai jenis ikan serta karang yang berarna-warni. Anak-anak bertambah pengetahuannya tentang berbagai jenis ikan, kerang-kerangan, udang, bahkan mungkin akan termotivasi untuk menjaga kelestarian lingkungan laut.

Stasiun TV yang mengemban misi pendidikan adalah TPI, melalui acaranya TPI menyajikan pelajaran sekolah secara audiovisual. Penyajian seperti ini lebih menarik dan jelas sehingga murid lebih termotivasi untuk mendalami pelajarannya. Hanya saja program belajar ini terhenti dengan alasan yang tidak diketahui. Kita berharap televisi semacam ini akan muncul lagi di masa yang akan datang.

Pengaruh televisi yang paling banyak mendapat sorotan adalah pengaruh buruk pada diri anak. Hal ini disebabkan bahwa masyarakat mengkhawatirkan kondisi anak yang belum mampu membedakan logika cerita yang disajikan. Hasil penelitian analisa isi terhadap film anak-anak menunjukkan bahwa film anak-anak cenderung anti soaial (Cahyana & Suyanto, 1996). Seorang psikolog sosial mengamati, jenis film-film laga kepahlawanan selalu menarik perhatian dan disenangi anak-anak termasuk balita sehingga mereka tahan berjam-jam duduk di depan layar. Diduga selain menghibur, yang terutama membuat “kecanduan” ialah unsur Thrill, suasana tegang saat menunggu adegan apa yang terjadi kemudian.

Milton Chen (1996) seorang pemerhati masalah anak-anak, ia mengutip pernyataan para ahli yang menjelaskan eksposur yang teratur dan berjangka panjang terhadap televisi bisa memperparah perasaan kerentanan, ketergantungan dan ketidakpekaan terhadap kekerasan. Lebih lanjut Ron Solby menjelaskan ada empat macam dampak kekerasan terhadap anak. Pertama dampak agresor dimana sifat jahat anak semakin meningkat. Kedua, anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain. Ketiga, anak menjadi kurang perduli terhadap kesulitan orang lain, dan keempat meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan.

Selain kekhawatiran akan adegan kekerasan, meningkatnya konsumerisme di kalangan anak-anak ditengarai berasal dari makin maraknya tayangan TV yang menawarkan produk tertentu. Anak akan merasa kurang bergengsi atau merasa belum hebat kalau belum pernah mencicipi rasa ayam Kentucky Fried Chicken. Pada kasus lain, ada anak tidak ke sekolah karena orang tua tidak membelikan sepatu Starmon yang ada lampunya. Aneka makanan ringan, permen atau mainan, sering ditayangkan di televisi, dimana semuanya dapat menggiring anak-anak untuk membeli dan membeli lagi. Perilaku konsumtif berlebihan, lepas kendali, jelas bukan hal sehat, tepat dan benar. Perilaku ini akan mengancam masyarakat dan negara menjadi hancur dan tak bermartabat.

Usaha Mengoptimalkan Manfaat Televisi

Berdasarkan uraian di atas kita melihat bahwa televisi seperti pisau bermata dua. Ada pengaruh positif dan ada pengaruh negatif. Apabila tidak hati-hati kitanhanya mendapatkan pengaruh negatifnya saja pada diri anak, cucu, atau keponakan kita. Agar televisi bisa memberi pengaruh positif, ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian :

  1. Melakukan pendampingan saat menonton TV

Seyogyanya orangtua melakukan pendampingan saat menonton TV kepada anaknya. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dimana orangtua sibuk mencari nafkah diluar, bahkan jauh dari rumah, hal ini bisa didelegasikan kepada pengasuh, kakak, bibi, paman, atau nenek. Pendampingan dimaksudkan untuk memberi penjelasan kepada anak mengenai adegan yang muncul di layar televisi. Penjelasan sebaiknya melihat usia anak, sehingga para pendamping dapat menyesuaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka. Anak mendapat kebebasan mengeluarkan pertanyaan mengenai hal-hal yang tidak ia mengerti. Berikan alasan atau sebab yang masuk akal, sehingga anak dapat menerimanya dengan baik. Para pendamping harus membuka pintu diskusi untuk membahas apa yang mereka tonton. Perlakuan seperti ini akan melatih anak untuk berani mengungkapkan apa yang menjadi buah fikirannya.

2. Tetapkan peraturan

Sebaiknya orang tua menetapkan aturan yang telah disepakati bersama, mengenai kapan boleh menonton tv, acara apa saja yang boleh, jam berapa tv dimatikan, bagaimana dengan hari libur. Peraturan ini dimaksud agar anak menjadi disiplin, dan tidak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan menonton. Semua orang harus menjalankan peraturan ini, baik orang tua maupun anak. Sebaiknya semua anggota keluarga, buat sanksi mendidik kalau ada diantara mereka yang melanggarnya.

3. Memulai program diet televisi

Orangtua harus menjadi teladan dalam memulai program diet televisi ini. Diet televisi maksudnya adalah untuk memulai menonton televisi untuk hal yang kita anggap perlu dan penting saja, untuk acara-acara sampah tidak bermutu sebaiknya televisi dimatikan. Awalnya tentu sulit mengalihkan perhatian anak-anak dari televisi, tetapi dengan keinginan dan keyakinan yang kuat hal ini dapat dilakukan dan berhasil dengan sukses.

4. Mencari bentuk kegiatan lain

Orang tua hendaknya menyediakan majalah, buku cerita agar pikiran anak tidak selalu terpusat pada TV. Orang tua menyediakan buku untuk mewarnai, mengajak kegiatan di luar rumah, naik sepeda, berkebun, jalan-jalan di taman dan sebagainya.

Penutup

Siapa pun tidak kuasa menyangkal keberadaan televisi dalam kehidupan manusia. Benda ajaib ini sangat mempesona dan telah berhasil menarik perhatian manusia. Salah satu golongan yang paling akrab dengan televisi adalah anak. Hal ini antara lain, karena anak dengan segala kondisinya masih memiliki ruang yang sangat lebar untuk dipengaruhi oleh apa pun juga.

Menonton televisi memerlukan, bahkan nyata-nyata telah menyita banyak waktu anak. Menonton televisi bersaing dengan kegiatan belajar, dan secara alami televisi telah memenangkan persaingan tersebut. Hal ini sangat mengkhawatirkan, karena akan dapat mengakibatkan kemunduran dalam prestasi studi anak.

Namun yang paling mengkhawatirkan adalah pengaruh televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya terhadap perilaku anak. Masalahnya, anak cenderung menganggap bahwa acara demi acara yang ditayangkan televisi tersebut adalah nyata. Oleh karena itu anak tidak segan-segan meniru dan mempraktekkan acara yang ditontonnya dalam kehidupannya. Padahal sangat banyak acara yang ditayangkan di televisi tersebut bukan diperuntukkan bagi anak, bahkan sangat tidak sesuai bagi diri anak.

Oleh karena itu, orang tua harus mampu menunjukkan sikap bijaksana dalam upaya meminimalkan dampak negatif televisi sekaligus memaksimalkan manfaatnya. Untuk itu, berbagai ketentuan harus dibuat, mulai hal-hal yang menyangkut selektivitas siaran televisi yang layak ditonton anak, pembagian atau pembatasan waktu menonton, hingga pendampingan anak saat menonton. Dengan demikian, televisi akan lebih bermakna dalam hidup keluarga.

*Tulisan dimuat dalam Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Pemberdayaan Komunitas Vol. 3 No.1