Oleh : Dra. Mazdalifah MSi

Istilah kecakapan bermedia atau media literacy semakin sering disinggung, seiring dengan makin berkembangnya teknologi media serta meluasnya pesan dan dampak buruk yang diakibatkannya. Secara popular kecakapan bermedia bermakna “Kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan media” (Wikipedia). Media dalam hal ini adalah televisi, surat kabar, radio, film, computer, internet, video dan sebagainya.

Kesadaran untuk membangun kecakapan bermedia timbul setelah beberapa kasus bermunculan. Kasus paling anyar adalah tragedy pembantaian atas 31 orang di Universitas Virgina Tech oleh seorang mahasiswa asal Kora, Seung-Hui Cho 16 April lalu. Para pengamat memandang munculnya peristiwa ini tidak semata-mata karena Seung-Hui Cho merasa tertekan, tetapi mereka meyakini ada konstribusi media (dalam hal ini media Amerika) yang selalu mengumbar kekerasan dan keganasan.

Indonesia sendiri mengalami peristiwa serupa. Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan dengan peristiwa jatuhnya korban anak-anak. Korban mengalami kekerasan dari temanya yang meniru adegan dalam tayangan hiburan gulat gaya bebas WWE Smack Down. Penyebab kematian korban menjadi pro-kontra, pembicaraan yang hangat dan tanggapan muncul dari berbagai kalangan. Namun tidak sedikit membantah penyebab kematian bukan karena Smack Down, tetapi lebih kepada kelalaian orangtua dalam mengontrol perilaku bermain anaknya.

W. James Potter dalam bukunya Media Literacy (2005) menyatakan kita perlu meningkatkan kemampuan kecakapan bermedia. Hal ini dikarenakan kita ‘diserbu’ dengan aneka pesan (message maturation). Budaya keseharian kita digambarkan sebagai sebuah supermarket yang penuh dengan pesan media. Disadari atau tidak, pesan itu menerpa kita di mana dan kapan saja. Kita dapat membayangkan bagaimana media selalu menerpa aktivitas dari mulai bangun tidur, hingga tidur kembali pada malam harinya.

Kebanyakan kita memulai aktivitas pagi hari dengan menyaksikan televisi untuk mengetahui kabar terbaru atau bagi kalangan anak muda memulai pagi hari dengann mendengarkan radio. Berangkat menuju kantor atau kampus kita masih mendengarkan radio mobil. Atau jika kita menaiki kendaraan umum, pak supir akan menyetel lagi lewat radio atau tape. Sesampainya di kantor, pemutar music lewat media computer sudah menanti. Pekerjaan rutin seperti mengetik atau mengecek pesan lewat e-mail adalah hal yang paling sering dilakukan. Bagi sebagian orang aktivitas tersebut akan bertambah dengan membuka situs-situs informasi, demi mendapatkan informasi terkini. Di sore hari, saat kita pulang ke rumah dengan penuh lelah, saat rehat kita ditemani secangkir kopi dan surat kabar sembari menonton tayangan infotainment, menikmati berita selebriti terkini.

Hal tersebut senada dengan pendapat Potter, bahwa hamper seluruh aktivitas kehidupan, di mana saja dan kapan saja, pesan itu menyerbu kita. Kondisi ini mengakibatkan kita menjadi kelebihan informasi, dan bila tanpa ‘penyarin’ (filter), pesan tersebut akan kita terima begitu saja (taken for granted). Padahal jika ditelusuri lebih lanjut, aneka ragam informasi tersebut belum tentu “aman”.

Media televisi adalah contoh kasus yang menarik untuk diamati. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak acara televisi mengandung kekerasan, mistik, kemewahan, dan pornografi. Muatan ini tentu saja dikhawatirkan akan menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat, khususnya bagi anak yang bisa dikatakan belum memiliki daya cerna yang baik. Anak-anak adalah individu polos yang gampang menerima dan meniru apa saja yang mereka lihat disekitar lingkungannya, termasuk apa yang sering mereka lihat di televisi.

Wirodono (2005) menyatakan televisi memang menawarkan serangkaian informasi dan hiburan, namun tidak semuanya bermanfaat. Ia menawarkan agar masyarakat perlu membentengi dirinya. Salah satu benteng tersebut adalah dengan meningkatkan kemampuan kecakapan bermedia, yaitu meningkatkan kemampuan kecakapan dan menggunakan media. Kemampuan in diyakini dapat membentengi diri dari dampak buruk media. Masyarakat sebagai target sasaran dari berbagai media harus membentengi diri dan keluarganya, agar terhindar dari pengaruh buruk media.

Jadi, mari siapkan diri untuk meningkatkan kemampuan kecakapan bermedia. Kita dapat melakukan hal sederhana, seperti menerapkan aturan menonton televisi, cerdas memilih dan memilah acara dari berbagai acara yang ditawarkan, dan lain sebagainya. Orangtua, mahasiswa, remaja, anak-anak dan seluruh profesi kehidupan harus meningkatkan kemampuan ini, bukan saja untuk media televisi namun juga media lainnya. Manusia cakap bermedia adalah manusia yang cerdas dalam memanfaatkan media.

(dimuat di Majalah Kajian Media DICTUM, Volume 1. No.2 September 2007)