(Sebuah Tinjauan mengenai Kedudukan Perempuan dalam Organisasi)

Oleh : Dra. Mazdalifah MSi

 

PENDAHULUAN

Organisasi merupakan gabungan sejumlah orang yang saling bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Keterlibatan seseorang dalam organisasi baik yang berbentuk organisasi formal maupun informal, didasari keinginan untuk memperoleh sesuatu seperti : keinginan untuk menambah pengetahuan, mengembangkan diri, atau sekedar memperluas jaringan pertemanan belaka. Jika kita mengamati, banyak sekali muncul organisasi di semua kalangan. Apakah dikalangan professional, buruh, ibu rumah tangga, remaja , mahasiswa dan lain sebagainya. Anggota dalam organisasi tersebut  umumnya terdiri dari berbagai strata pendidikan, ekonomi, umur, suku/budaya, agama maupun jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan, keduanya sama-sama punya peluang besar untuk menempati kedudukan penting dalam organisasi. Kita bersyukur melihat kecenderungan yang tampak saat ini, khusunya pada organisasi kemahasiswaan, perempuan telah menempat beberapa posisi-posisi penting dalam organisasi. Tulisan ringkas ini merupakan upaya untuk melihat kedudukan perempuan dalam organisasi khusunya organisasi kemahasiswaan.

SEJARAH KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM ORGANISASI

Membicarakan keterlibatan perempuan dalam organisasi sama halnya berbicara mengenai sejarah. Kita harus memundurkan waktu sekian tahun lamanya, dan mencermati sejak kapan perempuan terlibat dalam organisasi. Mengapa pertanyaan tersebut muncul? Hal ini disebabkan paham yang dianut oleh sebahagian masyarakat kita, bahwasanya perempuan itu kedudukannya adalah sebagai ratu rumah tangga, maka ia harus berada di rumah dan menyemarakkan rumahnya. Namun sebenarnya di Indonesia perempuan telah terlibat dalam organisasi sejak tahun 1904, saat itu Dewi Sartika mendirikan sekolah-sekolah untuk perempuan di Bandung. Keterlibatan Dewi Sartika mendirikan sekolah tersebut, merupakan cerminan bahwa perempuan telah mampu mengorganisir, sehingga sekolah-sekolah tersebut dapat berdiri. Selanjutnya dalam organisasi keagamaan seperti Sarekat Islam dan Muhammadiyah tahun 1912, perempuan ikut serta menjadi anggota.

Organisasi yang bersifat formal muncul pada tahun 1912 yang bernama Putri Mardika di Jakarta. Organisasi ini berdiri untuk memperjuangkan pendidikan untuk perempuan, mendorong perempuan agar tampil di depan umum, membuang rasa takut, dan mengangkat perempuan ke kedudukan yang sama seperti laki-laki(Wieringa, 1999). Dengan berdirinya organisasi perempuan pada tahun 1912, sesungguhnya telah cukup bagi kita untuk menyatakan bahwa perempuan tidak asing lagi dalam kehidupan berorganisasi, bahkan mereka ternyata telah memiliki kedudukan cukup penting sebagai penggagas, ketua, bendahara maupun sekertaris organisasi. Hanya saja jika kita melihat seberapa besar presentasinya jika dibandingkan dengan jumlah perempuan di Indonesia, tentu saja jumlahnya belumlah begitu banyak. Namun fakta sejarah ini tidak dapat memungkiri bahwa perempuan telah mempunyai kedudukan cukup penting dalam organisasi. Literature sejarah menunjukkan bahwa perempuan di Indonesia lebih banyak terlibat dalam organisasi yang bersifat social, seperti dalam bidang pendidikan, agama dan kesehatan. Bidang-bidang keras, yang sering diartikan sebagai bidang yang dimiliki laki-laki, seperti bidang politik belum banyak menarik minat kaum perempuan untuk terlibat di dalamnya.

KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ORGANISASI SAAT INI

Menjamurnya pendirian berbagai organisasi saat ini, terus terang merupakan fenomena yang menggembirakan. Sesungguhnya jika kita amati masyarakat Indonesia adlah masyarakat yang paling senang berorganisasi. Banyak sekali organisasi masyarakat kita mendirikan organisasi tetapi apakah organisasi itu berjalan langgeng? Itu adalah pertanyaan yang gampang-gampang susah untuk dijawab. Kenyataan yang tampak, memperlihatkan bahwa banyak pula organisasi yang tidak bertahan lama, yang ada hanya plang nama organisasi saja, kegiatan dan programnya tidak ada.

Perempuan seperti yang telah dijelaskan diatas telah mengambil peran dalam organisasi. Dalam konteks kekinian kita akan mencoba melihat kedudukan apa saja yang dapat diraih didalam organisasi. Kedudukan perempuan sebagai ketua dalam organisasi tidak banyak, apalagi jika lihat dalam organisasi politik. Kalaupun perempuan itu muncul sebagai ketua, biasanya tidak lepas dari pengaruh nama besar orang tua atau suami. Contoh : Megawati Soekarno Putri menjadi ketua Parpol PDIP. Kedudukan perempuan sebagai sekretaris dan bendahara cukup banyak. Kedudukan ini dianggap sebagai lahannya kaum perempuan, karena sangat identik dengan ketelitian dan kerapihan. Perempuan dicitrakan sebagai mahluk yang prima dalam melakukan dua fungsi tersebut. Kedudukan perempuan sebagai ketua bidang juga cukup banyak, namun masih juga ada bidang-bidang tertentu yang menjadi lahannya kaum lelaki seperti : bidang penelitian dan pengembangan, bidang perguruan tinggi. Tetapi untuk bidang humas menjadi lahannya perempuan. Kedudukan perempuan sebagai anggota organisasi merupakan porsi terbesar, pada umumnya perempua lebih menyenangi kedudukan sebagai anggota biasa saja.

KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ORGANISASI KEMAHASISWAAN

Setelah kita mencoba meninjau kedudukan perempuan dalam organissi, maka selanjutnya kita coba untuk mencermati kedudukan perempuan dalam organisasi kemahasiswaan. Saat penulis menjadi mahasiswa, banyak perempuan yang terlibat di organisasi. Namun kebanyakan mereka hanya menjadi bunga-bunga atau penggembira, mereka tidak menempati kedudukan yang cukup penting dalam organisasi. Namun kini penulis cukup berbangga jika melihat sudah ada satu dua perempuan yang mau menduduki posisi ketua dalam organisasi. Walaupun belum seperti yang diinginkan, dalam arti belum begitu banyak jumlahyua, kita patut mengancungkan jempol kepada perempuan-perempuan yang berani memilih untuk memposisikan dirinya sebagai pemimpin organisasi. Karena dari pandangan kasat mata penulis, mahasiswa perempuan memiliki indeks prestasi lebih unggul daripada mahasiswa laki-laki. Keunggulan in merupakan modal awal untuk bergerak maju, ditambah lagi dengan modal kemampuan manajerial yang dimiliki, maka lengkaplah ia menjadi seorang pemimpin.

Sejauh ini masih kita dapati keenganan pada diri mahasiwa perempuan untuk terlibat penuh dalam organisasi. Banyak hal mengapa kondisi seperti ini terjadi, satu diantaranya adalah: system pendidikan yang mengkondisikan ager setiap mahasiwa harus menyelesaikan target tertentu dalam SKS, yang harus dicapai dalam waktu tertentu. Sehingga mahasiswa banyak disibukkan dengan tugas-tugas dan seabrek kewajiban lainnya, agar ia mendapat nilai yang baik dan lulus dengan waktu yang singkat. Mahasiwa perempuan termasuk diantara mahasiwa yang cepat dalam menyelesaikan masa studinya, dengan demikian keinginan untuk berorganisasi menjadi terkendala.

PENUTUP

Perempuan telah terlibat dalam organisasi sejak lama. Namun kebanyakan keterlibatannya masih pada organisasi dalambidan social seperti pendidikan, kesehatan dan keagamaan. Dalam organisasi kemahasiswaan, perempuan cukup banyak terlibat, dan ada stu dua orang telah menempati kedudukan penting sebagai ketua/pemimpin. Namun masih banyak mahasiswa perempuan memilih untuk tidak banyak terlibat secara mendalam di organisasi. Pada masa yang akan datang, kita berharap mahasiswa khusunya mahasiwa perempuan dapat lebih berperan dalam organissi termasuk di dalamnya mau menempati kedudukan penting sebagai ketua/pemimpin. Mahasiwa perempuan diharapkan terus membekali dirinya dengan pengetahuan dan kualifikasi perilaku perilaku yang terpuji agar dapat meraih posisi/kedudukan penting tersebut. Nasibitt dan Megatrend 2000 berkata bahwa abad 2000 adalah abad perempuan, dimana akan banyak perempuan menempati posisi penting dalam organisasi. Semoga!

*Disampaikan pada Diskusi Mahasiswa HMI Komisariat FISIP USU