Oleh : Dra. Mazdalifah MSi

PENDAHULUAN

Kata “komunikasi” sudah amat sering kita dengar. Kata tersebut memiliki makna proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain, dengan tujuan pesan tersebut dapat dimengerti dan mencapai tujuan yang diinginkan. Artinya, dalam berkomunkasi memerlukan adanya dua orang yang saling berinteraksi. Mengacu kepada pengertian diatas, dapat dikatakan hamper 80% aktifitas sehari-hari dipenuhi dengan kegiatan komunikasi.

Mari kita lihat: mulai bangun tidur, mandi dan berangkat ke sekolah kita berkomunikasi dengan orang rumah, apakah itu ayah, ibu, adik, kaka, abang, pembantu dan lain sebagainya. Sampai di sekolah kita berkomunikasi dengan teman, bapak/ibu guru. Saat kembali ke rumah pada siang hari, kita akan berkomunikasi dengan ibu, kakak, abang atau adik. Hingga malam hari tiba, komunikasi tetap berlangsung, saat makan, belajar, mononton TV bersama keluarga, sampai akhirnya kita terlelap tidur.

Meskipun 80% waktu dihabiskan untuk berkomunikasi, namun apakah seluruh komunikasi tersebut berjalan lanca, sempurna, tanpa hambatan dan tepat sasaran? Bila kita hitung-hitung mungkin hanya separuh dari komunikasi kita belum seluruhnya berlangsung dengan baik. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa komunikasi kita belum sepenuhnya berjalan dengan efektif. Komunkikasi efektif adalah komunikasi yang belangsung dengan baik, serta tepat sasaran. Apa yang menjadi tujuan dalam berkomunikasi dapat dicapai.

KOMUNIKASI  EFEKTIF ORGANISASI

Melakukan komunikasi efektif dapat dikatakan “gampang-gampang susah”, sebab kebanyakan orang menganggap berkomunikasi tersebut mudah, semudah membalik telapak tangan. Hingga orang sering menganggap enteng, dan merasa tidak perlu mempelajarinya. Dalam sebuah organisasi, komunikasi sering tidak dianggap penting. Banyak pelaku organisasi mengabaikan komunikasi ini, padahal sebenarnya jantung dari organisasi adalah komunikasi yang efektif. Apabila dalam sebuah organisasi komunikasi berlangsung efektif, maka Insya Allah organisasi tersebut dapat mencapai tujuan organisasi dengan sukses.

Ada beberapa bentuk komunikasi yang bisa terjadi, misalnya komunikasi YANG TERJADI DI DALAM ORGANISASI. Contohnya, antara pimpinan dengan anggota, komunikasi antara sesama anggota. Ada pula komunikasi yang BELANGSUNG DI LUAR ORGANISASI. Misalnya komunikasi antar pimpinan dengan pimpinan dari organisasi lain, antara pimpinan organisasi dengan masyarakat sekita, dan lain sebagainya.

Ada sebuah organisasi eksis dalam masyarakat, maka organisasi tersebut harus menjaga komunikasinya dengan anggota didalam organisasi dan dengan orang-orang lain yang berada diluar organisasi. Sebuah organisasi tidak boleh terlalu focus pada komunikasi di dalam organisasi saja, atau sebaliknya. Melainkan harus memfokuskan kepada kedua-duanya. Oleh sebab itu yang paling berperan menjaga komunikasi ini tetap terjaga adalah Pemimpin Organisasi dan tentu saja harus dibantu anggotan-anggotanya.

Bentuk komunikasi didalam organisasi antar pimpinan dengan anggota dan antara anggota dengan anggota dapat terwujud dalam kegiatan rapat (yang bersifat resmi) atau pertemuan yang tidak resmi misalnya acara makan siang bersama, wisata bersama, ngobrol bersama dan sebagainya. Pertemuan rutin semacam ini mampu mengikat emosi, agar memiliki rasa kebersamaan dalam berorganisasi. Baik pimpinan dan anggota menjadikan momen pertemuan sebaik-baiknya, untuk saling bertukar informasi demi kemajuan organisasi.

Bentuk komunikasi di luar organisasi antara organisasi dengan khalayak di luar organisasi dapat terwujud melalui kegiatan pertemuan dengan tokoh masyarakat, berupa diskusi ataupun rapat, dapat pula berupa penyelenggaraan kegiatan bakti social, pasar murah, bazaar, dan lain sebagainya. Organisasi perlu menjalin hubungan dengan khalayak luar, agar memperoleh dukungan yang besar saat menyelenggarakan kegiatannya. Seperti : pengurusan izin penyelenggaraan kegiatan yang tidak berbelit-belit, dukungan dana yang cukup dan sebagainya.

PIDATO SEBAGAI BENTUK KOMUNIKASI EFEKTIF

Salah satu bentuk komunikasi efektif lainnya adalah berbicara di hadapan orang banyak, yang dikenal dengan berpidato. Banyak orang amat tidak suka bahkan menolak sama sekali, bila ia disuruh berpidato. Alasannya amat banyak : mulai dari malas, tidak siap, malu, takut/gemetar, dan lain sebagainya. Gejala takut berbicara dihadapan orang banyak (berpidato ) sepertinya sudah mewabah. Apalagi di kalangan remaja, yang menganggap tugas berpidato adalah tugas orang tua.

Padahal jika anda terampil pidato secara efektif, maka itu merupakan kunci sukses untuk mencapai keberhasilan baik dalam pekerjaan dan karir anda. Bahwa orang-orang sukses di dunia ini, kebanyakan adalah pembicara yang baik, tidak bisa dipungkiri lagi. Sebut saja Soekarno, Oprah Winfrey, sampai kepada Helmi Yahya. Mereka adalah orang-orang yang dikaruniai talenta berkomunikasi dengan efektif, alias mampu berbicara di hadapan orang banyak dengan sangat baik.

Beberapa kunci keberhasilan dalam melakukan komunikasi efektif alias berpidato akan diuraikan berikut ini. Pertama, sebelum berbicara di hadapan orang banyak anda harus melakukan persiapan terlebih dahulu. THE GREATER SPEAKER, THE MORE CAREFUL HAS BEEN PREPARATION. Pembicara besar lebih memperhatikan persiapannya dengan lebih baik. Persiapan yang dilakukan adalah :

  1. Mengumpulkan bahan materi yang akan disampaikan
  2. Mengenali khalayak pendengar
  3. Menggunakan alat bantu
  4. Persiapan fisik dan mental

Sebelum berbicara di hadapan orang banyak (berpidato), sebaiknya kita harus tahu apa yang hendak dibicarakan. Apakah menyampaikan kata sambutan, menjadi MC atau menyampaikan satu materi. Anda harus mengumpulkan bahan materi terlebih dahulu. Bahan tersebut dapat diperoleh sesorang melalui surat kabar, majalah, internet, buku, wawancara langsung, laporan, dan lain sebagainya. Sebagai contoh : bila kita diminta untuk memberi kata sambutan dalam rangka pesantren kilat, sebagai pembicara kita harus mencari tahy apa yang menjadi tema pada pesantren kilat kali ini, mencari beberapa hadist atau ayat suci yang berkaitan dengan ramadhan atau yang lain sebagainya.

Mengenali khalayak pendengar sebelum berbicara dimaksudkan agar anda tahu berhadapan dengan siapa. Apakah pendengar kebanyakan orang tua, remaja atau anak-anak?. Dengan mengetahui siapa yang menjadi pendengarnya, maka anda akan menentukan bahasa yang akan dipergunakan.

Menggunakan alat bantu. Jika diperlukan anda dapat menggunakan alat bantu seperti LCD, film, lukisan atau dengan foto. Yang tentunya berhubungan dengan tema pembicaraan. Penggunaan alat bantu dimaksudkan untuk memperjelas bahan yang anda sampaikan dan membuat pembicaraan menjadi lebih menarik.

Mempersiapkan fisik maksudnya, anda diminta untuk mempersiapkan kesehatan dan penampilan anda sebelum berpidato. Sebagai pembicara anda harus tampil sehat dan bugar, jangan tampil kusut dan lesu. Pendengar akan lebih tertarik mendengar bila pembicara dalam keadaan sehat dan segar. Disamping itu anda juga harus memperhatikan penampilan, baju, dan aksessoris. Harus rapi, bersih dan selaras.

Kedua, setelah anda melakukan persiapan tahap selanjutnya adalah melakukan penyusunan. Maksudnya adalah kita menyusun bahan yang telah dikumpulkan tadi, dalam bentuk kata dan kalimat yang menarik dan mampu menggugah pendengarnya. Adapun dalam menyusun kata dan kalimat tersebut dinamakan menyusun naskah pidato. Beberapa prinsip penyusunan naskah pidato sebagai berikut :

  1. Pembukaan
  2. Batang tubuh (isi)
  3. Pentutup

Pembukaan pidato selayaknya disusun semenarik mungkin, karena pada tahap membuka pidato kita berusaha agar pendengar mau mendengarkan apa yang dibicarakan. Pilihlah kata dan kalimat yang menarik, misalnya ucapkan salam, mengutip syair atau ayat suci, menceritakan kisah nyata atau fiktif, dimana tujuannya adalah agar pendengar merasa tertarik dengan pidato kita. Membuka pidato tidak boleh lama-lama. Cukup sebentar saja. Bila kita berbicara selama 10 menit, maka pembukaan pidato cukup 3 menit saja.

Batang tubuh adalah isi, atau pokok utama dari pembicaraan kita. Berisikan pokok-pokok pikiran yang ingin kita sampaikan. Dalam batang tubuh kita bisa menyampaikan dengan panjang lebar, sesuai dengan lamanya waktu pembicaraan. Bila ada 10 menit maka isi dapat disampaikan selama 5 menit.

Penutup pidato merupakan kesimpulan dari pembicaraan. Biasanya disampaikan dengan ringkas. Pennutup yang menarik menggunakan kat kunci dari pendapat tokoh, lagu, syair, puisi atau kutipan lagu. Dalam pembicaraan selama 10 menit, penutup dapat dilakukan selama 2 menit.

Ketiga, tahap terakhir dalam melakukan komunikasi efektif (berpidato) adalah penyampaian pidato. Dalam tahap ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar penyampaian pidato sukses, yaitu :

  1. Kontak mata
  2. Olah vocal
  3. Olah visual

Kontak mata adalah melakukan kontak secara emosi dengan para pendengar. Caranya adalah dengan memandang pendengar kita seluruhnya. Jika pendengar ada disebelah kiri dan kanan, maka anda harus memandang pendengar yang ada disebelah kiri maupun yang di kanan. Jangan memandang pendengar pada satu sisi saja. Karena jika demikian, maka pendengar pada sisi lain akan merasa terabaikan. Bagilah secara rata perhatian anda pada sisi kiri dan kanan.

Olah vocal maksudnya sebagai pembicara anda harus memperhatikan keras atau lembutnya suara, cepat lambatnya, serta tinggi rendahnya. Perhatikan pula hentian atau jeda, karena kalimat anda tidak boleh terlalu panjang, yang membuat orang bingung. Bagi yang berasal dari daerah, mohon perhatikan dialek.

Olah visual berkaitan dengan ekspresi wajah dan gerak tubuh. Dalam berpidato hendaknya pembicara harus memperhatikan ekspresi wajahnya. Tidak boleh datar atau kaku, padahal isi pidatonya sangat bergelora. Demikian pula dengan gerak tubuh, anda boleh menggerakkan tangan dan bergerak seluwes mungkin, guna menunjang pembicaraan anda.

PENUTUP

Kesimpulan dari apa yang telah diuraikan diatas bahwa komunikasi efektif perlu mendapat perhatian dan perlu diterapkan. Hal ini diharapkan dapat mewujudkan organisasi yang mandiri dan kuat. Organisasi mandiri dan kuat diharapkan dapat mencapai tujuan organisasi dengan sukses.

*Disampaikan pada Pelatihan Hukum dan Perundang-undangan di Hotel Madani, 12 September 2010