Oleh : Dra. Mazdalifah MSi

          Ketika kita menyebut WAWANCARA, maka yang ada dalam benak kita adalah beraneka ragam pengertian. Bisa wawancara dalam rangka mencari pekerjaan. Bisa pula wawancara dalam rangka penelitian. Atau wawancara dengan narasumber dalam rangka penulisan berita. Tentu saja dalam hal ini yang dimaksud adalah wawancara dengan NARASUMBER, dalam rangka penulisan berita, agar berita yang akan kita tulis benar-benar berimbang (cover two both side), dan jujur sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.

          Berita yang bermutu adalah berita yang kaya akan informasi dan ditampilkan secara jujur, memenuhi kaedah penulisan yang tepat, menarik serta hangat. Seorang wartawan/penulis akan banyak membutuhkan informasi mengenai obyek yang akan ditulisnya. Oleh sebab itu ia pasti membutuhkan informasi, baik secara langsung ataupun tidak langsung dari seseorang atau lebih narasumber. Masalah yang paling sering ditemui adalah kurangnya keterampilan yang dimiliki dalam melakukan wawancara secara langsung, sehingga seringkali informasi yang dipeoleh “adakalanya”, sangat dangkal, dan kurang akurat.

          Apakah yang dimaksud dengan wawancara? Wawancara adalah kegiatan mendapatkan informasi dengan cara bertanya secara langsung dengan narasumber yang terkait dengan berita yang akan dibuat. Tanpa wawancara dapat dikatakan warrtawan/penulis akan kehilangan informasi yang berharga, yang merupakan tulang punggung suatu berita.

KONSEP WAWANCARA

          Wawancara merupakan satu konsep interaksi dan komunikasi. Hasil wawancara akan ditentukan oleh beberapa factor, yaitu :

1. Pewawancara

2. Topic wawancara yang tertuang dalam bentuk pertanyaan

3. Situasi wawancara

          Pewawancara diharapkan menyampaikan pertanyaan kepada narasumber, dan merangsang untuk menjawabnya, menggali jawaban lebih jauh bila dikehendaki, dan mencatatnya.

Syarat menjadi pewawancara yang baik adalah :

1. Keterampilan mewawancarai

2. Motivasi yang tinggi

3. Rasa aman, artinya tidak ragu dan takut dalam menyampaikan pertanyaan. (lihat lampiran)

PERSIAPAN DAN ETIKA WAWANCARA

          Beberapa persiapan perlu mendapat perhatian dari pewawancara, pepatah mengatakan “SEGALA SESUATU YANG DIPERSIAPKAN DENGAN BAIK, AKAN MENGHASILKAN YANG BAIK, DARIPADA TANPA PERSIAPAN SAMA SEKALI”. Hal-hal yang ditanyakan, peralatan yang mendukung wawancara, (tape, notes, pulpen) dan penampilan (pakaian, aksesoris, dll).

          Ada beberapa aturan yang harus mendapat perhatian oleh pewawancara, yang menyangkut soal etika saat mewawancarai. Etika meliputi :

1. Memperkenalkan diri kepada narasumber (sebutkan darimana anda dan mewakili siapa). Dengan kata lain jati diri pewawancara harus jelas. Jika perlu, pewawancara membawa kartu pengenal atau nomor telepon, ini perlu jika narasumber ingin mengecek kebenaran identitas kita.

2. Katakana kepada narasumber, apa yang sedang anda lakukan dalam rangka berita yang akan anda muat. Sehingga dapat membangkitkan minat mereka. Jelaskan pula apakah anda hendak mengkonfirmasi, atau meminta tanggapan.

3. Katakan mengapa ia dipilih, disertai alas an-alasan yang cukup rasional.

MENGATASI KENDALA YANG MUNCUL

          Proses wawancara dapat berjalan dengan lancar namun dapat pula berjalan tidak lancar, beberapa kendala yang muncul adalah narasumber menolak wawancara, informasi amat dangkal, atau proses wawancara berhenti, karena situasi tidak memungkinkan. Untuk mengatasi kendala ini, maka lihatlah lagi lampiran : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI DALAM WAWANCARA.

DAFTAR BACAAN

1. Metodologi Polling, Memberdayakan Suara Rakyat, Eriyanto, Remaja Rosda Karya, Bandung, 1999

2. Metode Penelitian Survei, Masri Singarimbun & Sofian Effendi, LP3ES, Jakarta, 1989.

Disampaikan pada “ Pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh UKMI Mesjid Dakwah Kampus USU, 2005.