Tags

, ,

Oleh : Dra. Mazdalifah, Ph,D

 I. PENDAHULUAN

Perkembangan televisi di Indonesia memasuki era baru sejak tahun 1990. Pemerintah memberikan kesempatan kepada pihak swasta untuk terlibat dalam melaksanakan penyiaran. Saat ini ada 10 stasiun televisi swasta yang meramaikan dunia pertelevisian Indonesia. Kehadiran televisi swasta ini telah menambah peluang perolehan informasi dan hiburan bagi penontonnya, khususnya penonton anak-anak. Mereka mempunyai banyak pilihan acara yang sesuai dengan keinginannya.

Penonton anak-anak di Indonesia merupakan khalayak terbesar, jumlah mereka sekitar 70 juta orang. Harian Kompas dalam rangka Hari Anak Nasional 2006 membuat Tajuk Rencana yang menyatakan bahwa alokasi menonton televisi secara umum lebih banyak daripada kegiatan lain. Bagi sebahagian anak-anak, televisi adalah hiburan gratis. Hampir sepanjang hari kegiatan anak diisi dengan menonton tayangan televisi (23 Juli 2006).

Aktifitas menonton televisi pada anak-anak selalu mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Hal ini berkaitan dengan siaran televisi tersebut, banyak orang menyatakan bahwa tayangan televisi dianggap tidak mendidik. Anggota Komisi penyiaran Indonesia pusat Jakarta, Ade Armando mengatakan bahwa siaran televisi di Indonesia banyak mengandung konsumerisme, hal yang cabul, kekerasan, mistik dan kemewaan. (Waspada, 25 Agustus 2005). Tayangan seperti ini dikhawatirkan dapat merusak perkembangan anak-anak khususnya anak-anak di bawah lima tahun.

Seorang anak mengalami peristiwa mengenaskan pada tahun 2006 lalu di kota Bandung. Ia tewas akibat bermain smack down bersama temannya. Peristiwa ini merupakan peristiwa yang mendapat perhatian dari berbagai kalangan, pada umumnya menengarai hal ini akibat tayangan smack down mengandung nilai kekerasan di salah satu televisi swasta. Kekerasan telah menjadi daya tarik dalam tayangan televisi Indonesia. Adegan kekerasan seolah-olah telah menjadi menu utama dalam setiap tayangan film, sinetron, bahkan dalam tayangan yang khusus dibuat untuk anak-anak.

Tayangan kekerasan adalah tayangan yang menampilkan adegan kekerasan dari tingkat yang ringan seperti : kata-kata kasar, makian, cacian, sampai kepada tingkat yang berat seperti adegan membunuh. Hampir semua stasiun televisi di Indonesia menampilkan adegan kekerasan sebagai menu utamanya. Oleh sebab itu sebagai orang tua, pendidik maupun cendekiawan kita sepatutnya merasa khawatir terhadap pengaruh yang diakibatkannya terhadap anak kita.

Kekhawatiran akan pengaruh kekerasan di televisi kepada anak patut menjadi alasan yang kuat, disebabkan karena anak-anak adalah makhluk yang belum dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik. Anak-anak cenderung menganggap apa yang tampak di televisi adalah apa yang benar  adanya, dan sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Anak-anak belum dapat berfikir kritis, hingga mereka cenderung untuk menerima apa saja nilai yang ditawarkan oleh televisi. Beberapa hasil penelitian dan pengkajian, baik penelitian jangka pendek dan jangka panjang, telah menunjukkan adanya relasi yang cukup  kuat antara kekerasan di televisi dengan perkembangan anak, baik dari sisi pengetahuan, sikap dan perilakunya. Uraian berikut akan mencoba menjelaskan secara lebih mendalam hasil penelitian dan kajian tersebut.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Studi dalam Ilmu Komunikasi telah mencatat beberapa penelitian dan teori dalam menjelaskan keterkaitan antara kekerasan di televisi dan pengaruhnya terhadap anak-anak. Albert Bandura melalui teori Social Learning and Social Cognitive telah melakukan penelitian eksperimental terhadap dua kelompok anak. Bandura mengumpulkan satu kelompok anak di dalam satu ruangan, dimana di dalamnya anak-anak dapat menonton televisi yang didesain memutar tayangan kekerasan, mereka menyediakan pula boneka yang disebut “Bobo Doll”

Kelompok anak yang lain mendapat satu ruangan dimana di dalamnya ada televisi, tetapi isinya tidak memutar tayangan kekerasan. Setelah beberapa waktu, pengamatan menunjukkan bahwa anak-anak pada kelompok pertama bereaksi dengan memukul “Bobo Doll” tersebut, seperti yang mereka lihat di televisi. Sementara pada kelompok kedua, anak-anak tidak menunjukkan reaksi seperti pada kelompok pertama.

Berdasarkan hasil penelitian eksperimental ini Bandura menyimpulkannya bagaimana kita belajar dari pengalaman langsung seperti halnya dari pengamatan atau permodelan. Dalam hal ini anak-anak telah belajar langsung berdasarkan pengamatan dan model yang mereka lihat di televisi. Saat mereka mengamati dan menyaksikan model di televisi melakukan kekerasan, anak-anak cenderung untuk melakukannya.

Teori ini juga menjelaskan bahwa perilaku merupakan hasil dari faktor lingkungan dan faktor kognitif. Teori ini mempertimbangkan unsur penguatan dalam berperilaku dan stimulus sebagai hal penting, tetapi hal itu juga mempertimbangkan proses berfikir terhadap pembelajaran pada manusia. Teori pembelajaran social secara khusus relevan dengan komunikasi massa karena banyak perilaku yang kita pelajari melalui permodelan (modeling) merupakan pengamatan pertama di media massa. Menurut Winarso (2005, hal : 173) analisis Bandura terhadap pembelajaran sosial mencakup unsur-unsur utama analisisnya adalah proses perhatian (attentional process), proses pengingatan (retention process), proses reproduksi motorik (motor reproduction process) dan proses motivasi (motivational process).

Selanjutnya Winarso (2005, hal : 175) menyatakan bahwa media massa menduduki peran penting dalam teori pembelajaran sosial. Karena sebagian besar dari kita terbatas dalam hal yang dapat kita amati secara langsung selama kegiatan rutin sehari-hari, banyak yang kita pelajari dapat dilihat di media massa, khususnya media visual. Dmikian pula bahwa media massa dapat meneruskan perilaku dan pola-pola pemikiran yang baru secara terus menerus kepada sekelompok besar orang. Teori pembelajaran social menganggap media sebagai agen sosialisasi yang paling utama setara dengan keluarga, kelompok sebaya dan guru-guru di sekolah.

Dugaan utama teori pembelajaran social adalah bahwa kita dapat mempelajari tindakan-tindakan kekerasan yang baru dengan mengamati tindakan-tindakan yang ditampilkan di televisi atau film. Dugaan lainnya adalah bahwa peniruan abstrak dapat mendorong kita melakukan tindakan-tindakan kejam dalam kehidupan sesungguhnya. Dugaan ketiga adalah bahwa tindakan masa bodoh (desensitisasi) dapat diakibatkan dari tayangan kekerasan yang berulang-ulang di televisi atau film, sehingga memungkinkan peluang tindakan agresi dalam kehidupan sesungguhnya.

Pengamatan penulis terhadap anak-anak (terutama ank-anak usia di bawah 5 tahun) menunjukkan bahwa mereka telah melakukan beberapa peniruan terhadap apa yang telah mereka tonton melalui televisi. Peniruan tersebut mereka lakukan, karena hamper setiap hari menyaksikan bermacam adegan, termasuk di dalamnya adegan kekerasan. Saat ini banyak stasiun televisi yang menayangkan sinetron, pada jam utama (prime time). Sinetron tersebut banyak bermuatan kekerasan, baik dalam bentuk kekerasan ringan seperti, ucapan kasar maupun dalam bentuk kekerasan yang berat seperti tindakan membunuh.

Hal semacam ini dapat memicu anak untuk meniru apa saja yang mereka lihat di televisi, karena sesungguhnya anak-anak telah mengamati dan melakukan pembelajaran melalui televisi. Secara sederhana bentuk peniruan yang dilakukan anak-anak adalah meniru ucapan kasar seperti : bangsat, kurang ajar, kihajar kau, dalam permainan dengan teman sebaya. Atau mereka melakukan tindakan menendang, memukul, mendorong, saat bermain dengan temannya. Televisi telah mendorong untuk meniru dan melakukan kekerasan dan tindakan agresi (tindakan menyerang) pada anak.

Seberapa lama anak-anak akan ingat tindakan-tindakan agresi yang baru dipelajari? Hicks dalam Winarso (2005, hal ; 185) menemukan bahwa tindakan-tindakan ini dapatdilakukan anak-anak hingga enam bulan setelah pengamatan pertama terhadap model, bahkan jika tindakan-tindakan itu tidak ditunjukkan lagi. Dalam penelitian Hicks kepada anak-anak diputarkan film tentang model-model agresi yang diperlihatkan dalam suatu program stimulasi. Segera setelah melakukan pengamatan itu, subyek menunjukkan agresifitas akibat peniruan yang lebih tinggi dibandingkan dengan subyek yang tidak melihat model.

Teori lain yang menjelaskan adanya keterkaitan antara tayangan kekerasan di televisi dengan pengetahuan, sikap dan perilaku penontonnya adalah Teori Kultivasi. Teori ini merupakan hasil penelitian jangka panajang yang dilakukan oleh George Gebner dan kawan-kawan. Nurudin (2007, hal : 167) menyatakan pendapatnya tentang Teori Kultivasi. Televisi telah menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur lingkungannya. Persepsi apa yang terbangun di benak penonton tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Artinya penonton telah melakukan kontak dengan televisi, ia belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya, serta adat kebiasaannya. Penelitian kultivasi menekankan bahwa media massa merupakan agen sosialisasi dan menyelidiki apakah penonton televisi itu lebih mempercayai apa yang  disajikan televisi daripada apa yang mereka lihat sesungguhnya.

Realitas yang ada menunjukkan bahwa televisi banyak menayangkan program Buser, Tangkap, Patroli dan lain sebagainya. Tayangan ini menampilkan berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di masyarakat dari mulai perkelahian, perampokan, pembunuhan, penculikan. Akibat tayangan semacam ini, masyarakat memiliki persepsi dalam benaknya bahwa lingkungan di sekitar mereka tidak aman. Masyarakat amat mempercayai bahwa apa yang mereka lihat di televisi benar adanya, dan seolah peristiwa semacam itu akan menimpa pada diri mereka.

Sebagai contoh kasus mutakhir untuk menjelaskan hal ini adalah kasus penculikan anak bernama Raisah, putri seorang pengusaha Batubara. Kasus penculikan ini mendapat perhatian besar dari media massa khususnya televisi, sehingga Bapak Presiden dan Wakil Presiden turun tangan mengatasinya. Seluruh stasiun swasta meliput peristiwa ini, sehingga menjadi berita paling hangat dan diperbincangkan oleh semua orang.

Orang tua khususnya para ibu menjadi sangat khawatir akan keselamatan anak mereka. Persepsi mereka telah terbangun bahwa peristiwa ini dapat pula menimpa anak-anak mereka. Akibatnya orang tua mereka melakukan pengawassan ekstra ketat, sehingga pada jam-jam pulang sekolah terlihat banyak para ibu yang langsung menjemput anaknya. Rasa khawatir dan ketakutan ini terbentuk karena seluruh stasiun televisi menayangkan peristiwa ini, sehingga mereka akhirnya melakukan tindakan pencegahan dengan menjemput anaknya di sekolah.

Potter dalam Van Evra (2004, hal: 7) menjelaskan bahwa variable penting dari beberapa pengaruh kultivasi adalah persepsi (pandangan) tentang realitas. Apabila televisi menampilkan tayangan seolah-olah seperti keadaan sebenarnya, maka tayangan itu akan terlihat sebagai sebuah tayangan yang benar-benar nyata terjadi. Lebih dari itu memiliki persepsi dari kepercayaan bahwa televisi dianggap sebagai sumber dan informasi berguna yang dapat menolong diri mereka, memecahkan dan menanggulangi masalah mereka secara sunggguh-sungguh seperti yang dipersepsikan oleh televisi dengan baik.

Mc.Quail dan Windahl dalam Nurudin (2007, hal :170) mencatat teori kultivasi tidak hanya disebut sebagai jendela atau refleksi kejadian sehari-hari di sekitar kita, tetapi dunia itu sendiri. Dengan kata lain bahwa perilaku kekerasan yang diperlihatkan di televisi merupakan refleksi kejadian yang ada di sekitar lingkungan kita. Jika dalam tayangan tersebut mencerminkan adanya aturan hokum yang tidak dapat mengatasi keadaan/situasi, ada kemungkinan yang sebenarnya juga terjadi seperti itu. Kesimpulannya adalah kekerasan yang ada di televisi dianggap sebagai  kekerasan yang terjadi dalam dunia ini.

Keprihatinan tentang pengaruh televisi terutama tayangan kekerasan pada diri anaka-anak telah mendapat perhatian sejak tahun 1946 di Amerika Serikat. Anderson dan Bushman dalam Jurnal Science (2002, hal : 2377) menyatakan fakta empiris yang telah dikumpulkan olh Kepala Jawatan Kesehaan Amerika Serikat pada tahun 1972 yang menyatakan bahwa kekerasan dalam televisi memang memiliki dampak yang merugikan pada anggota masyarakat tertentu, khususnya pada anak-anak dan remaja.

Hasil penelitian yang tidak jauh berbeda di Indonesia menunjukkan bahwa tayangan televisi banyak memuat adegan tidak mendidik. Adegan tidak mendidik yang dimaksudkan disini adalah adegan yang mengandung unsur kekerasan, pornografi, konsumerisme, mistik, gaya hidup mewah, dan lain sebagainya.

Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dalam Mulyanan & Ibrahim (1997, hal : 214) melakukan penelitian mengenai program acara di televisi Indonesia, hasilnya ternyata cukup mengejutkan, persentase acara televisi yang khusus ditujukan bagi anak-anak relative kecil, hanya sekitar 2,7 – 4,5% dari total tayangan yang ada.

Pada umumnya persentase tayangan yang sedikit ini pun materinya sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan anak-anak. Salah satu kekhawatiran tersebut lebih banyak berisi adegan “antisocial” daripada adegan “prososial”. Tayangan-tayangan tersebut lebih banyak mengandung nilai-nilai kurang mendidik dan bias melunturkan nilai-nilai ideal seorang anak.

Adegan prososial disini maksudnaya adalah adegan yang mengandung nilai-nilai dan makna positif, seperti: disiplin, saling bekerja sama, saling membantu, bekerja keras, kejujuran, sikap rendah hati, cinta keluarga, dan lain sebagainya.

Televisi merupakan media massa elektronik yang kehadirannya mendapat tanggapan positif masyarakat khususnya anak-anak. Televisi merupakan gabungan dari istilah “tele” yang berarti jauh dan “visi” (vision) yang berarti penglihatan. Televisi menggabungkan unsure audio (pendengaran) dan unsure visual (penglihatan). Televisi memiliki daya tarik dibandingkan media lain, karena menampilkan gambar hidup dan warna. Kedua aspek ini membuat televisi mampu menarik perhatian masyarakat. Kegiatan menonton televisi menjadi kebiasaan baru yang cenderung menyita waktu luang mereka, terutama anak-anak.

Hurlock (1988, hal : 343) mengamati acara apa saja yang diminati oleh anak-anak. Anak-anak prasekolah menyukai dramatisasi yang melibatkan hewan dan orang yang dikenal, music, kartun, komedia sederhana. Anak kelas satu dan dua menyukai pertunjukan boneka, film koboi, misteri, humor, suasana kehidupan keluarga dan acara kuis berhadiah. Anak kelas tiga dan empat tertarik dengan acara yang imajinatif seperti tentang roket dan kenderaan luar angkasa, show, cerita misteri, detektif, drama dan music. Anak kelas lima dan enam tetap menyukai acara tersebut, tetapi mereka juga menyukai acara  berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan hasta karya. Cerita, komedi, kartun dan music disenangi anak di setiap tingkat usia anak.

Keprihatinan akan pengaruh televisi terhadap perkembangan anak merupakan hal yang wajar adanaya mengingat bahwa anak-anak di seluruh dunia, khususnya di Indonesia banyak menghabiskan waktunya menonton televisi dibandingkan dengan media lain. Menurut Roberts, Foehr, Rideout and Brodie dalam Starsburger & Wilson (2002, hal : 6) televisi adalah media yang amat menarik perhatian anak-anak karena anak-anak banyak meluangkan waktunya untuk menonton televisi dibandingkan video games, computer, radio, buku dan cd/tapes.

Van Evra (2004, hal : xix) bahwa kanak-kanak menghabiskan waktunya menonton TV selama 5 jam sehari. Anak-anak yang dimaksud disini adalah anak-anak yang berdomisili di Amerika Serikat. Banyaknya waktu yang dicurahkan untuk menonton televisi bagi anak-anak Amerika Serikat merupakan hal yang menjadi perhatian utama aoleh para orang tua, pediatric dan lainnya. Comstock & Paik dalam Murray dan Wartella (2007, hal : 42) menyatakan bahwa bagi beberapa anak waktu mengkonsumsi televisi lebih banyak daripada kegiatan lainnya.

Situasi di Amerika Serikat ini hampir sama dengan apa yang ditemukan di Indonesia. Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia dalam terbitan bulletin (2006, hal : 1) melakukan survey tahun 2002, hasil survey tersebut menyatakan bahwa jumlah jam menonton televisi pada anak adalah 30-35 jam seminggu dengan pilihan acara yang ditujukan bukan untuk mereka. Hasil  survey ini semakin menegaskan bahwa kebanyakan kanak-kanak menghabiskan waktu untuk mmenonton televisi antara 4-5 jam dalam satu hari.

Banyaknya waktu yang dicurahkan untuk menonton televisi, akhirnya banyak menggeser kegiatan anak lainnya. Nasution dalam Supriyono (2000, hal: 31) menyatakan bahwa banyak waktu yang dihabiskan anak untuk menonton televisi, sehingga mengurangi aktivitas yang lain seperti membaca dan bermain dengan sesama, maembantu tugas orangtua dan mengerjakan tugas belajar di rumah.

Penulis mengamati terdapat perbedaan kegiatan anak-anak di Indonesia khususnya di kota Medan pada masa lampau dan kegiatan anak-anak masa kini. Pada masa lampau, televisi belum banyak dimiliki oleh masyarakat, keluarga dan anak-anak banyak mengisi waktu luang untuk berbincang tentang segala hal. Anak-anakpun mengisi waktunya dengan bermain bersama teman-teman. Anak-anak banyak bermain di ha;aman rumah, tanpa menggunakan alat yang bersifat elektrik. Namun kini, sejak televisi hadir, waktu untuk duduk bersama keluarga dan berbincang menjadi semakin berkurang. Anak-anak lebih senang duduk menonton televisi dari mulai pagi sampai petang, mereka tak lagi bermain di luar rumah bersama teman-temannya.

Kegiatan menonton televisi yang cenderung lebih banyak dari kegiatan lainnya, membuat para orang tua, guru, ulama, serdik cendekia, pemerhati masalah social mengkritik keberadaan televisi di tengah kehidupan masyarakat. Sebahagian besar mengkritisi muatan tayangannya yang tidak mendidik anak, dan cenderung membuat perkembangan anak menjadi terganggu. Hal ini berkaitan dengan sifat anak-anak yang amat mudah terpengaruh oleh apa yang ia lihat dan amati dari sekitarnya.

Banyak peneliti yang menyoroti pengaruh televisi terhadap anak-anak. Salah satu diantaranya adalah Andrew Meltzoff dalam Mazdalifah (1999, hal: 21) menyatakan, pada usia awal, televisi memandu tindakan anak kepada perilaku nyata, anak akan meniru dan melakukan apa yang mereka lihat. Dua sampai enam tahun anak belum bias mengevaluasi pesan yang mereka terima dari media. Mereka secara sederhana menerima apa saja yang mereka lihat, dan menganggapnya sebagai tindakan biasa.

Anak-anak belum dapat membedakan kenyataan dan khayalan sampai pada usia lima atau enam tahun. Usia enam sampai dua belas tahun mereka meniru apa yang mereka dengar dan lihat tanpa mengerti penuh apa konsekwensinya  bila mereka melakukan tindakan itu.

Hal penting lainnya adalah cara berfikir anak yang berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak cenderung belum dapat memilah mana yang baik dan mana yang buruk, cenderung beranggapan bahwa apa yang tampil di televisi adalah hal yang sebenarnya yang terjadi dlam dunia nyata. Sebagai contoh : jika anak menyaksikan seorang tokoh Superhero mampu terbang, maka dalam benak anak beranggapan hal tersebut benar adanya. Bahwa orang mampu terbang melayang di udara. Kondisi seperti ini yang patut mendapat perhatian dari semua kalangan.

Berdasarkan hasil penelitian Nelson dalam Mulyana & Ibrahim (1997, hal: 177) bahwa memori anak mulai terbentuk pada usia 3,5 – 4 tahun. Pada usia ini memori anak secara kumulatif mulai merekam berbagai kejadian disekitar hidupnya. Hal yang penting dan berulang-ulang akan direkam secara relative “menetap” dalam ingatannya. Sementara itu Levine dalam Mazdalifah (1999, hal: 21) menyatakan pada umur Sembilan tahun anak baru bias membedakan antara kenyataan dan fantasi.

Anak-anak yang dimaksud dalam tulisan ini adalah anak-anak yang bersekolah pada tingkat sekolah dasar (SD). Santrock (2002, hal:23) anak-anak usia sekolah dasar termasuk dalam periode perkembangan masa pertengahan dan akhir anak-anak (middle and late children)

Masa pertengahan dan akhir kanak-kanak adalah periode perkembangan yang terentang dari usia kira-kira 6-11 tahun, yang kira-kira setara dengan tahun-tahun sekolah dasar, periode ini kadang-kadang disebut tahun-tahun sekolah dasar. Keterampilan-keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yanag lebih luas kebudayaannya. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.

Hearold, 1986, Murray 1994, Paik & Comstock, 1994 dalam Pecora, Murray, Wartella (2007, hal:194) menyimpulkan berdasarkan penelitian yang telah berlangsung selama 50 tahun, bahwa tayanagan kekerasan di televisi telah memberikan pengaruh pada sikap, nilai dan perilaku anak. Secara umum ada tiga pengaruh yaitu sikap agresif, kepekaan dan ketakutan. Menonton kekerasan di televisi cebderung untuk meningkatkan perilaku agresif (menyerang) atau merubah perilaku dan nilai serta lebih menyukai menggunakan penyerangan dalam menyelesaikan masalah. Menonton kekerasan secara terus menerus akan menurunkan tingkat kepekaan terhadap kekerasan dan memiliki toleransi lebih besar dalam menyikapi kekerasan yang terjadi di masyarakat. Terpaan kekerasan di televisi secara terus menerus dapat menimbulkan Sindrom Dunia, beberapa penonton memperkirakan secara berlebihan resiko yang akan mereka alami sebagai korban kejahatan. Milton Chen (1996, hal: 52)seorang pemerhati masalah anak-anak mengutip pernyataan ahli sebagai berikut : Gebner dan para koleganya, Michael Morgan dan Nancy Signorielli menjelaskan bahwa eksposur yang teratur dan berjangka panjang terhadap televisi bias memperparah perasaan kerentanan, ketergantungan dan ketidakpekaan terhadap kekerasan. Mereka juga mendapati bahwa dibandingkan pemirsa ringan, pemirsa berat mempunyai kemungkinan lebih besar untuk percaya bahwa lingkungan mereka tidak aman, bahwa kejahatan adalah masalah pribadi yang serius, dan kemungkinan besar mereka akan terlibat tindak kekerasan, para pemirsa berat ini juga mempunyai kecenderungan lebih besar untuk membeli gembok, memelihara anjing galak, dan bahkan membeli senjata api untuk melindungi.

Lebih lanjut Ron Solby dalam Mazdalifah (1999, hal: 20) secara rinci menjelaskan ada empat macam dampak kekerasan dalam televisi terhadap perkembangan kepribadian anak. Pertama, dampak aggressor dimana sifat jahat dari anak semakin meningkat, kedua dampak korban dimana anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain, ketiga dampak pemerhati, disini anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain, keempat dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan.

Seberapa lama anak-anak akan ingat tindakan kekerasan semacam tindakan agresi (tindakan menyerang) yang baru dipelajari? Hicks dalam Winarso (2005, hal: 185) menemukan bahwa tindakan-tindakan ini dapat dilakukan anak-anak hingga enam bulan setelah pengamatan pertama terhadap model, bahkan jka tindakan-tindakan itu tidak ditunjukkan lagi. Dalam penelitian Hicks kepada anak-anak diputarkan film tentang model-model agresi yang diperlihatkan dalam suatu program simulasi. Segera setelah melakukan pengamatan itu, subyek menunjukkan agresifitas akibat peniruan yang lebih tinggi dibandingkan dengan subyek yang tidak melihat model.

Hasil pengamatan Hicks ini dapat menjadi pedoman bagi orang tua, agar lebih memperhatikan perkembangan anaknya. Anak-anak banyak belajar kekerasan dari televisi, karena televisi menampilkan adegan kekerasan tersebut berulang-ulang. Anak-anak menyaksikan adegan ini dalam waktu yang cukup lama, sehingga mereka banyak belajar tentang kekerasan justru dari televisi itu sendiri. Mengapa anak-anak menyukai adegan kekerasan?

Seorang Psikologi Sosial dalam Mazdalifah (1999, hal: 18) mengamati jenis-jenis  film laga menarik perhatian dan disenangi anak-anak,  termasuk balita sehingga mereka tahan berjam-jam duduk di depan layar kaca.

Diduga selain menghibur, yang terutama membuat “kecanduan” adalah unsure thrill, suasana tegang saat menunggu adegan apa yang terjadi kemudian. Selanjutnya Cantor dan Hoffman meneliti mengapa anak-anak senang menonton film-film dan acara-acara menakutkan, dan  menegaskan apa yang dilakukan para peneliti lain, bahwa ketegangan merupakan unsure penting yang meningkatkan kesenangan.

Beberapa teori dan penelitian di atas telah menunjukkan bahwasanya ada hubungan yang cukup signifikan antara menonton tayangan kekerasan di televisi dengan perkembangan anak-anak. Meskipun telah banyak penelitian dilakukan, namun tampaknya belum ada perubahan tayangan televisi. Sampai hari ini, masih banyak tampil tayangan tidak mendidik, utamanya adegan kekerasan. Sebagai orang tua sekaligus pendidikanak-anak harus melakukan sesuatu, guna menghempang pengaruh buruk televisi tersebut.

 III. PENUTUP

Cara yang paling efektif untuk mengatasi pengaruh buruk kekerasan di televisi terhadap perkembangan anak-anak adalah dengan melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat. Pemberdayaan ini terutama dilakukan pada orang tua dan anak-anak agar cerdas dalam menggunakan media dalam istilah popular dikenal dengan Media Literacy. Konsep kecerdasan dalam bermedia merupakan satu istilah untuk menyebutkan seseorang tersebut “pintar”, “cakap”, “mampu dengan baik”, menggunakan media. Media disini adalah media massa yaitu televisi, radio, film dan surat kabar. Para ahli memiliki konsep yang beragam tentang media literacy ini. Mc Cannon dalam Starsburger & Wilson (2002, hal:323) mendefinisikan secara umum Media Literacy meliputi kemampuan menganalisa, mengakses, dan menghasilkan media.

James. W  Potter (2005, hal:22) mendefinisikan Media Literacy sebagai: satu perangkat perspektif dimana kita secara aktif memberdayakan diri kita sendiri dalam menafsirkan pesan-pesan yang kita terima dan bagaimana cara mengantisipasinya. Kita membangun perspektif (cara pandang) berdasarkan struktur pengetahuan yang kita miliki. Untuk membangun struktur pengetahuan kita memerlukan alat dan materi dasar. Alat tersebut adalah keterampilan yang kita miliki. Materi dasar adalah informasi yang kita terima melalui media dan dari kehidupan sehari-hari. Secara aktif kita member pengertian bahwa kita memahami dan menyadari pesan-pesan tersebut dan berhati-hati dan bersungguh-sungguh saat melakukan interaksi kepada media.

Masyarakat sebagai konsumen media harus lebih pro aktif dan kritis memandang media. Oleh sebab  itu diperlukan pendidikan yang intensif (terus-menerus) mengenai pentingnya pendidikan media dlam tingkatan masyarakat. Hanya sayangnya di ndonesia baik penyelidikan dan pendidikan tentang Media Literacy masih sangat kurang. Di Indonesia khususnya di kota Medan Media Literacy baru sebatas gerakan-gerakan yang belum terstruktur, seperti melalui seminar, road show, kampanye-kampanye.

Solusi terbaik adalah dengan melakukan pembelajaran di tengah keluarga. Hal ini dikarenakan anak-anak hidup, berkembang dan belajar di tengah keluarga. Proses ini dapat berlangsung sepanjang masa kanak-kanak tersebut di bawah lindungan keluarganya. Keluarga dalam hal ini orang tua adalah factor yang amat penting dan menentukan dalam melakukan pembelajaran Media Literacy. Orang tua harus memiliki  pengetahuan dan keterampilan tentang Media Literacy.

Rumah harus menjadi jantung (pusat) pelaksanaan advokasi Media Literacy. Menggunakan media sama seperti dengan menggunakan makanan, termasuk yang baik dan yangburuk. Tidak ada yang sederhana, beberapa makanan menyajikan secara lengkap hal yang baik maupun yang buruk. Demikian pula akalau mengkonsumsi media biasanya ada media yang baik adapula media yang buruk. Orang tua dapat mewujudkan beberapa petunjuk di bawah ibi di rumah mereka :

  1. Orang tua harus meluangkan waktu untuk bermain dan membaca bersama anak sebanyak mungkin
  2. Batasi anak menggunakan media layar seperti: televisyen, bioskop dan video games.
  3. Tidak membolehkan anak menonton televisyen sampai anak berusia 2 tahun
  4. Rencanakan dengan seksama dan diskusikan media yang akan dipilih dengan anak
  5. Analisa semua proses komunikasi
  6. Sensor media yang memuaskan, dan sediakan media yang cocok/pantas
  7. Menekankan pembangunan pada bagian baru otak
  8. Mencoba menonton bersama keluarga
  9. Membangun system nilai bersama anak

Tulisan dimuat di dalam Perspektif “Jurnal-jurnal Ilmu Sosial” Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Medan Area, Volume 1, Oktober 2008